Detektif Asmara, Penguak Kasus Perselingkuhan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Detektif Asmara, Penguak Kasus Perselingkuhan
Sopan Sopian | Works

Pernahkah Anda mendengar sebuah pekerjaan detektif di Indonesia? Mungkin jarang terdengar. Karena pekerjaan ini memang lebih banyak berada di luar negeri. Namun, jika Anda mencari di laman Google, Anda akan menemukan beberapa detektif swasta di Indonesia. Salah satunya justru menangani sebuah persoalan asmara.

detektif asmara - male IndonesiaPhoto by Wes Powers on Unsplash

Mereka yang bekerja sebagai detektif asmara, akan menyelidiki beberapa kasus perselingkuhan. Sekilas kerja-kerja detektif asmara ini bak agen intelejen. Memata-matai target, kemudian mendapatkan data-data berupa foto, video atau suara. 

Namun bedanya, para agen intelejen itu diakhiri dengan penangkapan namun detektif asmara ini tidak. Hanya menyerahkan data-data yang didapat kepada klien soal target yang sedang diselidiki perselingkuhannya. Untuk mendapatkan data-data tersebut, tak tanggung-tanggung, para detektif ini dapat menyamar sebagai apapun, mulai dari pemulung hingga wanita penggoda. 

Karena menurut data perusahaan detektif swasta ini pria cenderung yang jadi target, maka tidak sedikit para wanita ini cantik berikut ini memberikan ceritanya saat mengintai pria-pria hidung belang. Bagaimana dia bisa bekerja dan bagaimana pengalamannya saat mengintai?

Anna Yap


Detektif asmara pertama ini bernama Anna Yap, ia bekerja dibawah naungan Aman Sentosa Investigation Agency (ASIA). Wanita yang mengawali karirnya di dunia perbankkan ini mengaku bahwa, awalnya ia tertarik menjadi detektif setelah menggunakan jasa ASIA.

Seiring konsultasi atas masalahnya itu, Anna kemudian ditawari menjadi detektif dan dijelaskan bagaimana cara kerja detektif di ASIA. Karena Anna suka akan tantangan, ia pun menerima tawaran itu dari Jubun selaku CEO ASIA.  

"Karena saya juga suka tantangan, dan saya merasa ini sangat menarik. Hal ini kan (detektif) kalau di luar negeri sudah biasa, tetapi di Indonesia saya baru tahu. Terus saya diajak gabung, akrhinya saya masuk," ucap Anna Yap.

Anna juga mengaku tidak ada pelatihan khusus. Ia justru langsung terjung kelapangan setelah menyatakan setuju untuk ikut bergabung. Bahkan, tidak ada pelatihan khusus, hanya arahan-arahan langsung apa yang harus dilakukan ketika di lapangan. "Otodidak, tidak ada spesifik training, paling tambahan kreativitas sendiri saja waktu mengerjakan case (kasus)," tutur wanita yang telah bekerja sebagai detektif sejak Januari 2017 itu.

Pengalaman: Selama menjadi detektif memantau pergerakan target, Anna mengaku belum pernah menyamar untuk mendapatkan data-data target. Sekali pun menyamar, ia menyamar lewat sambungan telepon sebagai sales. "By phone aja, selama ini belum pernah menyamar jadi orang lain, kaya pakai wig dan sebagainya. Menyamar ya itu by phone palingan, untuk nawarin sesuatu yang bisa mendapatkan data-data target," tuturnya.

Ia bercerita ada pengalaman yang mengaruskan ia menginap dua hari di hotel untuk memantau pergerakan target apakah kerap membawa wanita idaman lain (WIL) atau tidak di luar rumah. "Case (kasus) ini berawal dari Jakarta, klien curiga kepada pasangannya yang sering pergi ke Bali dengan alasan apapun, si klien curiga pasangannya memiliki selingkuhan, lalu meminta kita untuk menyelidikinya," ucap Anna.

Setelah mengembangkan data-data dari klien, kemudian Anna pergi ke hotel yang telah diberitahukan klien di mana pasangannya akan menginap. Setelah mencocokan nama dan data, ia pun mensurvei hotel dan mencari kamar yang tidak jauh dari kamar target. 

"Terus saya pura-pura salah kamar dengan mengetuk pintunya. Pas dijawab tentu ada orang, dan ketika pintu dibuka dapat terlihat apakah di dalamnya ada wanitanya atau tidak," terang Anna. Setelah menginap dua hari, tak sia-sia, akhirnya Anna berhasil memergoki pria yang berselingkuh itu dan mengirimkan data yang didapatkan kepada kliennya.

Cerita kedua, ketika ia harus memantau pasangan yang membawa WIL-nya ke apartemen. Hal ini pun tidak terlepas dari data yang dikembangkan dari kliennya. Cerita ini pun lebih cepat, hanya dua kali mengikuti target, Anna langsung mendapatkan informasi bahwa target dan selingkuhannya akan berlibur ke Pulau Cinta.

Sebelum informasi itu diberikan kepada klien, Anna harus benar-benar membenarkan informasi itu. Setelah benar-benar fix, baru klien mendapatkan data tersebut. Setelah itu, benar saja, klien yang mendapatkan informasi dari Anna, menciduk pasangannya sedang berduaan dengan wanita lain di sebuah resort di Pulau Cinta. 

Angel dan Vega

Berbeda dengan Anna Yap, dua wanita cantik ini tidak pernah lepas dari masker mukanya. Mungkin untuk menutupi identitas mereka sebagai detektif asmara. Karena sebagai detektif, tentu bertemu dengan orang baru adalah hal yang hati-hati.

Angel dan Vega merupakan detektif swasta di bawah naungan detektifperselingkuhan.com. Meski keduanya ahli dalam mengintai suami-suami yang diduga berselingkuh atas dasar pelaporan sang istri sebagai klien, namun keduanya memiliki pengalaman dan jam terbang berbeda di dunia detektif perselingkuhan.

Keduanya bercerita bagaimana menekuni pekerjaannya sekarang ini. Berangkat dari Angel, ia awalnya bergabung menjadi detektif perselingkuhan, dibawa langsung oleh salah teman yang lebih dulu menjadi seorang detektif perselingkuhan. Alasannya, karena menurut temannya itu, dirinya memiliki keterampilan dan bakat dalam bidang mengintai dan investigasi. Saat bergabung, ia tidak lagi dilatih oleh para seniornya.

“Kalau soal bakat memang beda-beda, ada yang memang sudah punya bakat, ada juga yang memang itu dilatih. Tergantung. Kalau dilatihkan proses, tergantung keceradasan personal masing-masing ya,” kata Angel.

Berbeda dengan Vega, ia mengaku awal masuk mendapatkan pelatihan lebih dulu, namun pelatihannya tidak sekeras apa yang ada di film-film atau tentara. “Kalau saya sendiri ada latihannya. Dilatihnya juga tidak berat, seperti mengikuti senior dulu seperti apa, dan ketika sudah bisa membaca situasi, langsung (mengingtai sendiri),” tuturnya.

Meski sama diajak oleh teman yang sebelumnya sempat masuk lebih dahulu, namun Vega mengaku tidak begitu saja menerima pekerjaan yang berisiko ini. Ia lebih banyak berpikir beberapa hari. "Saya justru lebih banyak berpikir dulu, karena kan ini risikonya gede banget, saua berpikirnya soal fasilitasnya apa, kedepannya seperti apa, terjamin atau tidak, dan secara pribadi merasa terjamin, ya jalankan,” ucap Vega.

Keduanya memiliki motivasi sama saat memutuskan untuk menjadi detektif perselingkuhan. Selain kasusnya tidak begitu berat, karena senang dalam hal jalan-jalan keluar kota. Selain itu, mereka juga mengaku karena ada keseruan tersendiri ketika bekerja sebagai ‘tukang kepoin orang’. “Seru-seru gampang, ya. Gampang-gampang susah, tergantung kasusnya. Senengnya sih keluar kotanya, ya,” ujar Angel tertawa.

Pengalaman: Angel dan Vega memiliki cerita yang sama ketika menginvestigasi target dengan tempat yang begitu sulit ditembus. Dia pernah menyamar sebagai pegawai delivery order, pengamen bahkan pernah menyamar sebagai pemulung demi mendapatkan data yang akurat. Hal itu ia lakukan karena, dalam tugasnya memang tidak diharuskan untuk kontak langsung dengan target.

“Selama itu masih tempat umum, kita masih bisa leluasa. Tergantung tempatnya juga. Biasa saja tanpa ada penyamaran,” ujar keduanya. Jadi, Angel menambahkan, jika tempat seperti diskotik hal itu masih terbilang tempat umum. Sehingga tidak perlu adanya penyamaran. “Hanya datang seperti orang umum masuk diskotik biasanya saja,” tutur Angel.

Jessica

Wanita cantik satu ini sudah berlalu lalang dalam dunia detektif asmara, meski terbilang muda, namun kelincahannya dalam mendapatkan data target jagan dianggap sebelah mata. 

Jessica merupakan agen atau detektif asmara yang bekerja untuk Indonesia Privat Investigation Agency (IPIA) yakni lembaga detektif swasta yang berafiliasi dengan Bali Eye Privat Investigation Agency (BEPIA) yang berkantor di Bali.

Sayangnya, Jessica lebih tertutup, ia tidak ingin menceritakan bagaimana ia mengawali karirnya di dunia detektif asmara ini. Meski begitu, Jessica banyak memegang peran di Eye Detective, selain dia melakukan investigasi yang memang dirasa sulit. Dia juga memegang keuangan dalam jasa itu.

Pengalaman: Wanita yang akrab disapa Jee ini menceritakan pengalamannya sebagai detektif asmara. Sebagai detektif asmara, Jee lebih bebas, tidak harus memantau dari jauh, bahkan ia bisa kontak langsung dengan target. Misalnya ketika ia mendapatkan case  di Gili Trawangan, Obyek atau target bekerja sebagai waitress.

"Saya pura-pura menjadi customer dan ajak dia kenalan ngobrol-ngobrol  untuk cari informasi,” ujarnya. Perkenalan seperti itu, tambah Jee, masih wajar, yang penting tidak merekam suara atau sampai melakukan hal ekstrem sampai chek in berdua dengan target.

“Kita hanya bisa melakukan surveillance atau mengambil foto di tempat umum. Kita tidak bisa melakukan yang melanggar hukum. Merekam suara itu ilegal,” tambah wanita yang sudah berkecimpung sejak 2011 lalu.

Penyamaran lain sebagai wanita penggoda berhasil dilakukan oleh Jee. Sampai-sampai dirinya harus mengenakan pakaian seksi. Ceritanya, kala itu dirinya harus mengintai atau mencari data pria muda yang ingin melangsungkan pernikahan, namun ia kerap ke diskotik. Karena pria itu mabuk, ia juga pura-pura ikut seperti mabuk untuk dapat mengorek informasi.

“Super seksilah, kalau saya bicara nanti kemana-mana, ketahuan. Dia beler kena gitu deh, saya juga pura-pura ngena gitu. Yaudah dapet tuh saya korek-korek, terus pulangnya saya ditawar sama pengunjung diskotik sana,” ujarnya sambil tertawa. Atas totalitas penyamarannya itu, ia pun berhasil mendapatkan informasi penting pria yang akan menikah tersebut. *** (SS)

SHARE