Rekor Menakjubkan Lawan Tangguh Maradona | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Rekor Menakjubkan Lawan Tangguh Maradona
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Jika ditanya soal siapa pemain paling berpengaruh di Piala Dunia, nyaris sebagian besar orang akan menyebut dua nama, Pele dan Diego Maradona. Padahal, ada satu nama yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Lothar Matthaus.

Shaun Botterill/wikipedia

Dengan prestasi satu kali mengangkat trofi Piala Dunia dan dua kali runner-up bersama Jerman Barat, Lothar Matthaus sangat layak disandingkan dengan pemain legenda asal Brasil dan Argentina itu.

Bahkan faktanya, Matthaus bisa dibilang jauh lebih berpengalaman ketimbang Maradona dan Pele. Alasannya jelas. Sebab sampai tulisan ini selesai dibuat, Lothar Matthaus tercatat sebagai pemain yang paling sering tampil di putaran final Piala Dunia.

Ia berlaga di lima edisi Piala Dunia (1982, 1986, 1990, 1994, dan 1998) dan mencatatkan total 25 penampilan. Koleksi laga Matthaus tersebut mengungguli Miroslav Klose (24), Paolo Maldini (23), Maradono (21) dan Pele (14).

Adapun pesepakbola aktif yang mendekati rekornya antara lain Wesley Sneijder (17), Iker Casillas (17), Rafael Marquez (16), Robin van Persie (16), Javier Mascherano (16), Messi (15) dan Arjen Robben (15).

Tapi jika menilik faktor usia dan fakta bahwa timnas Belanda absen di Piala Dunia 2018, maka cuma Messi yang berpotensi mengejar rekor Matthaus.


Francesco Del Vecchio/wikipedia

Seorang pemain sepak bola maksimal hanya dapat tampil sebanyak tujuh kali dalam satu edisi Piala Dunia. Dengan catatan, timnya terus melenggang ke final.

Alhasil, kalau ingin melampaui rekor milik Matthaus, mau tidak mau Lionel Messi harus membawa timnya, Argentina melaju jauh di Piala Dunia 2018 Rusia dan Piala Dunia 2022 Qatar.

Sepanjang kariernya, Lothar Matthaus sendiri merupakan pesepakbola handal. Maradona menyebutnya sebagai lawan terkuat yang pernah dihadapi.

Gelandang bertipe box-to-box ini pernah meraih Pemain Terbaik FIFA 1991, Ballon d’Or 1990, serta merengkuh beragam gelar bergengsi ketika berkostum Bayern Munchen dan Inter Milan.

Melihat pengalamannya yang begitu matang, tidak heran bila timnas Jerman terus memanggilnya hingga usia 39 tahun, kala ia mengalami momen mengecewakan di Piala Eropa 2000.

Selepas pensiun, ia menjadi pelatih walau tidak terlalu sukses. Menukangi klub-klub Austria, Serbia, Israel, Brasil, Hungaria dan Bulgaria.

Di sisi lain, ia dikenal kontroversial karena cenderung cerewet, baik di dalam maupun di luar lapangan. Beberapa rekan setim dan publik Jerman kurang menyukai sikapnya. Tapi bagaimanapun, selama rekor penampilannya terus bertahan, nama Matthaus akan sulit dipisahkan dari Piala Dunia. [GP]

SHARE