Kematian Sid Vicious & Penyesalan Sang Vokalis | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kematian Sid Vicious & Penyesalan Sang Vokalis
Gading Perkasa | News

John Lydon alias Johnny Rotten, vokalis sekaligus pentolan band punk Inggris, Sex Pistols mengungkapkan penyesalannya lantaran tidak bisa menyelamatkan Sid Vicious.

Koen Syuk/wikipedia

Dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, Johnny Rotten kembali mengingat peristiwa menjelang bubarnya Sex Pistols serta bagaimana kondisi Sid Vicious menginspirasi dirinya untuk menulis lagu Low Life bersama Public Image Ltd. (PIL).

Kala itu, Sid Vicious masih berada di tahanan usai menjadi tersangka atas pembunuhan kekasihnya, Nancy Spungen. Vokalis gaek tersebut juga mengingat periode post-punk di tahun 1978, dan album perdana PIL, First Issue.

“Saya merindukan Sid. Penyesalan saya begitu mendalam, karena saya bisa saja menolong dan mencegahnya terjerumus. Namun pada akhirnya ia menginginkan jalan itu. Kami menyeretnya ke band, sayang ia tidak siap dengan kondisi yang kami hadapi,” ujar Rotten.

“Heroin memberikan kenyamanan dan menghilangkan keraguan. Buat saya, keraguan adalah motivator terbesar. Saya bisa berkembang karenanya. Saya tidak tahu bagaimana saat dipuji, tapi saya dapat menghadapi hinaan,” ujarnya lagi.

Detik-detik menjelang kematian Sid Vicious
12 Oktober 1978, Sid masih sempoyongan, karena efek mabuk sewaktu menemukan Nancy terbujur kaku di kamar mandi hotel Chelsea, Manhattan, New York. Satu tusukan pisau membuat Nancy mati kehabisan darah. Diduga, mereka sempat berselisih dan Sid merasa kesal.

Sepuluh hari setelah kematian Nancy, Sid mencoba bunuh diri (mengiris pergelangan tangannya). Ia dilarikan ke rumah sakit Bellevue. Dari situ, ia kembali berulah dan berkelahi dengan Todd Smith di sebuah konser. 9 Desember 1978, ia ditahan dan dikirim ke penjara Rikers Island selama 55 hari.

Photo credit: Mexicaans fotomagazijn on VisualHunt.com / CC BY-NC

Sore hari, 2 Februari 1979, pesta kecil diadakan dalam rangka menyambut Sid Vicious yang sudah bebas di apartemen Michele Robinson (kekasih baru Sid) di New York. Kala itu, Anne, ibu Sid, punya stok heroin dan diberikan kepada seluruh tamu pesta, termasuk anaknya. Sid sempat overdosis, beruntung masih bisa selamat.

Sebelum Anne meninggal di tahun 1996, kepada jurnalis Alan Parker ia mengaku memberikan dosis heroin yang fatal ke Sid. Anne tidak menjelaskan alasannya, namun Alan menduga itu upaya sang ibu mencegah Sid kembali ke penjara.

Sid Vicious ditemukan meninggal pagi harinya. Usai dikremasi, Anne menemukan pesan bunuh diri di saku jaketnya. Isinya “Kami memiliki pakta kematian, dan aku harus menepatinya. Tolong kuburkan aku di samping kekasihku dengan jaket kulit, jeans dan sepatu boot. Selamat tinggal.”

Hanya saja, permintaannya dikuburkan bersama Nancy tidak bisa dilakukan karena Sid bukan Yahudi seperti Nancy. Menurut buku Please Kill Me: The Uncensored Oral History of Punk, Anne dan Jerr Only (Misfits) menebarkan abu Sid di makam Nancy.

Lahirnya Public Image Ltd.
Beberapa bulan pasca Sex Pistols membubarkan diri, Johnny Rotten segera bangkit. Ia membentuk Public Image Ltd., band yang menggabungkan unsur punk, sound dub dan industrial. Selain Rotten, ada Keith Levine (eks gitaris The Clash), Jim Walker dan basis kawakan, Jah Wobble.

“Baru pertama kali saya merasa pola musiknya terbuka di dalam kepala. Kami ingin barisan nada-nada yang mengganggu dan menyakitkan, musiknya terdengar menyebalkan dan dikuasai kecemasaan,” tutur Rotten.

Sex Pistols memutuskan hiatus di tahun 1987. Kemudian, mereka kembali reuni pada 1996 dengan mengadakan tur. Kali terakhir mereka berada di atas panggung di tahun 2008. [GP]

SHARE