Pengorbanan & Perjuangan Startup Meraih Mimpi | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Pengorbanan & Perjuangan Startup Meraih Mimpi
Gading Perkasa | Works

Banyak orang bilang memulai bisnis startup cenderung berisiko. Dari titik nol, para pelaku harus menghadapi berbagai rintangan terjal. Modal besar, menentukan dan menguji pasar atau market, serta membawa inovasi berbeda dari pesaing yang bergerak di bidang serupa.

male indonesia stratupPhoto by Franck V. on Unsplash

Beberapa gagal total dan harus menutup bisnis startup mereka karena memperoleh respon pasar yang negatif. Namun, tak sedikit juga dari mereka mampu bertahan sampai sekarang, bahkan berhasil mengembangkan bisnis menjadi besar.

Mau tahu apa rahasia di balik kesuksesan mereka? Baiklah MALEnials, langsung saja simak perjalanan panjang ketiga orang ini dalam menjalankan bisnis startup, sebagaimana telah dihimpun oleh tim redaksi MALE Indonesia.

Viktor Yanuar (CEO and Co-Founder excellence.asia)


Photo by Gading Perkasa

Viktor Yanuar adalah CEO dan Co-Founder dari excellence.asia, ekosistem digital yang menyediakan trainer bagi professional education. Excellence.asia berdiri pada tahun 2016, dan launching di tahun berikutnya, tepatnya Maret 2017. Berjumlah 11 orang, terdiri dari lima Co-founder dan enam orang karyawan.

“Karena kami adalah digital eco-system, kami ingin business owners maupun karyawan yang berniat mengembangkan kompetensi mereka dapat menggunakan platform kami,” ujar Viktor.

Bagi Viktor, hal paling pertama dilakukan dalam membangun bisnis startup ini yaitu apakah visi yang dibawa oleh excellence.asia bisa dijual atau tidak. “Kami testing the market. Pasarnya seperti apa. Hasilnya, kami buat excellence.asia seperti sekarang. Prosesnya kurang lebih satu tahun, dari ide hingga launching,” ujarnya lagi.

Viktor menjelaskan, sebenarnya ada pebisnis lain serupa excellence.asia. Hanya saja aiming atau tujuannya berbeda. “Kami memposisikan diri di professional education. Saat mereka sedang mencari lahan bisnis baru, kami hadir untuk mendukung pengembangan kompetensi mereka,” aku Viktor kepada MALE Indonesia.

Bisnis startup yang dijalankan oleh Viktor tergolong tidak membutuhkan modal begitu besar. Di awal merintis, angkanya bahkan tidak menyentuh miliaran rupiah.

Viktor juga mengatakan, sewaktu memulai bisnis startup, ada tiga hal perlu diperhatikan. Pertama, apakah bisnis sesuai passion atau tidak, supaya segala rintangan bisa dihadapi. Kedua, jaringan. Jangan takut belajar dari orang lain. Dan terakhir, cuma butuh komitmen.

Kini dengan Startup yang dirintisnya, dalam lima tahun kedapan terbesit untuk bisa bekerja sama dengan pihak luar. “Sudah banyak trainers dari luar negeri mengetuk pintu mau bergabung ke kami, tapi terkendala di urusan pajak. Itu masih kami pikirkan bagaimana solusinya,” ujarnya.

“Semoga pengetahuan ini bisa diakses semua orang tanpa batas. Saat mereka memanfaatkannya untuk mengembangkan bisnis mereka, artinya visi excellence.asia sudah tercapai,” ujarnya lagi.

Tri Lastiko (CEO Sinergi Antar Benua)


Photo by Gading Perkasa

Tri Lastiko merupakan CEO Sinergi Antar Benua, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang international trading dan e-commerce. SAB didirikan pada Desember 2016, dan bisnis mulai berjalan sekitar Maret 2017.

“Nama Sinergi Antar Benua sebenarnya sudah saya punya sewaktu masih kuliah di Jerman tahun 2013. Waktu itu saya berpikir, ingin membuka usaha sendiri. Pertama kali dimulai dengan tiga staf, sekarang ada sekitar 17 personel, rata-rata bekerja remotely sebagai dedicated freelancer,” kata Tri.

Ia menuturkan betapa panjang perjalanan memulai bisnis startup ini. Di bulan November 2016, kala berada di Dubai (transit menuju Indonesia), ia ditanya oleh rekannya asal Jerman, Felix Bauer terkait rencana ke depan. “Saya jawab, tujuh sampai sepuluh tahun lagi saya tetap mau kerja di Jerman,” tuturnya mengisahkan.

Hal itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, di Indonesia, Tri tidak tahu harus berbuat apa. Koneksi yang berkurang drastis serta sulitnya mencari pekerjaan (lantaran standar di Jerman berbeda jauh dari Indonesia) membuatnya enggan pulang ke tanah air.

“Waktu bisnis startup ini berjalan, saya baru sadar nama Sinergi Antar Benua kurang representatif. Jadi, saya shifting SAB menjadi Holding Group, di bawahnya ada berbagai bisnis. SABTECH (IT), SABSPACE (properti), SABMEDIA (media), SABSHOP (online shop), SABTRADING (international trading, export-import) dan rencananya SABTRAVEL (travel),” katanya.

Dalam mengerjakan setiap proyek, concern utama Tri ada tiga. Kualitas, waktu dan budget. Ia mengaku, kualitas harus dijaga sebaik mungkin dan tidak dapat diganggu gugat. Tinggal memanfaatkan waktu pengerjaan sesuai budget si klien.

Ia memberikan sedikit saran bagi setiap individu yang hendak membuka bisnis. “Ketika mau berniaga dengan orang lain, yang harus menjadi fokus adalah memberikan keuntungan partner. Jika itu fokus di awal, ke depannya pintu terbuka lebar,” ujar Tri.

Harapan Tri di kemudian hari, agar Sinergi Antar Benua semakin bermanfaat untuk orang banyak, entah klien, partner atau karyawannya. Tentunya bisa membantu segala macam bisnis, baik kecil maupun besar.

“Soal ekspansi dan lain-lain, mungkin akan saya kembangkan dulu antara Indonesia dan Jerman. Akhir 2018 nanti, SAB sudah berencana menjalin kerja sama dengan partner dari Malaysia dan Singapura. Saya juga berniat menambah business line lain. We give back more to the community,” ucapnya.

Michael Arief Gunawan (Founder & Activityst LiveLife Indonesia)


Photo by Gading Perkasa

Michael Arief Gunawan adalah Founder & Activityst LiveLife Indonesia. Sebuah platform yang menghubungkan orang dengan tempat, aktivitas dan komunitas sesuai keinginan mereka. LiveLife Indonesia berdiri di awal 2016.

Lebih lanjut menurut Michael, model bisnis yang ia ciptakan sudah ditemui di salah satu platform ternama. Hanya saja ia menyadari bahwa jenis acara yang disediakan platform tersebut cenderung terbatas dan kurang menarik, variasinya terlalu sedikit.

Sedangkan Michael menganggap, pesaing serupa lain berfokus ke area-area tersendiri. Kebanyakan platform merupakan event dan ticketing listing. Artinya, tempat, partner dan acara sudah tersedia. “Mereka cuma cari tempat pemasaran saja. Menyediakan tempat, tapi tidak mengintegrasikan bersama aktivitasnya,” aku Michael.

Sebenarnya sudah lama Michael ingin membuka bisnis startup ini. Namun karena comfort zone di kantor, ia baru resign dari perusahaan sekitar Juni 2015. Setelahnya, ia mulai membangun LiveLife di Jakarta bersama co-founder dan tim inti, totalnya lima orang.

Meninggalkan zona nyaman dan beralih ke startup merupakan keputusan besar dan tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Sebaliknya, Michael justru melihatnya dari sudut pandang berbeda.

Ia menuturkan, bisnis startup jauh berbeda dibandingkan bisnis konvensional. Blueprint dan model bisnis konvensional sudah jelas. Sementara startup, tidak seorang pun tahu bisnis yang hendak dijalankan bakal berhasil atau gagal.

Bahkan lanjutnya, setiap pelaku bisnis startup wajib tahu cara monetize. Dan itu membuat startup kian menarik. Sayang sekali beberapa pelaku bisnis berpikir keuntungan saja, tanpa timbal balik kepada klien atau partner mereka.

Business must solve the problem. Entah dalam sisi fungsional atau emosional. Tapi, tidak semua produk bisa dibikin emotional attachment. Membuka startup, tanya pada diri Anda, problem apa yang mau dipecahkan. Begitu Anda tahu problemnya, setiap produk yang Anda buat, it will stay,” ucapnya.

Dalam menjalankan bisnis LiveLife Indonesia, ia mengawalinya dengan modal sendiri sepenuhnya tanpa mengandalkan dana investor. Sebab menurutnya, perusahaan belum berada di posisi dimana investor tepat untuk masuk.

Padahal, boleh dibilang, perjuangan Michael mengembangkan bisnis startup tersebut cenderung berat. Tapi dari situlah, ia menemukan jati dirinya. [GP]

SHARE