Jelajah Kota Cirebon yang Sarat Budaya & Sejarah - Male Indonesia
Jelajah Kota Cirebon yang Sarat Budaya & Sejarah
MALE ID | Relax

Sedang bingung ingin merencanakan liburan tapi malas pergi terlalu jauh, kenapa tidak ke kota Cirebon? Ya, kota satu ini tidak kalah menarik dibandingkan Bandung atau Bogor yang biasa didatangi warga Jakarta saat long weekend.

Berkelana ke kota Cirebon pun tergolong mudah. MALEnials bisa naik bis atau kereta Cirebon Express. Tapi tunggu dulu, memang ada yang menarik di kota Udang itu?

Pastinya. Anda dapat menjelajahi tiap sudut kota. Mulai tempat wisata, kuliner hingga berburu cendera mata unik. Gak perlu lama-lama deh, langsung saksikan apa saja kegiatan seru buat Anda selama berada di kota Cirebon.

Wisata sejarah
Di Cirebon ada tiga keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kanoman. Letak ketiganya berjauhan satu sama lain.

Photo by Gading Perkasa

Khusus untuk Keraton Kasepuhan Cirebon, sejarahnya boleh dibilang cukup panjang. Salah satu penyebar agama Islam, Sunan Gunung Jati rupanya memiliki darah bangsawan dan sempat memerintah Kesultanan Cirebon sampai tahun 1506.

Ia menikahi Ratu Ayu Pakungwati, dan dari pernikahan itu lahirlah pewaris takhta Kesultanan Cirebon, termasuk Pangeran Mochamad Arifin II yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran ini kemudian mendirikan Keraton Kasepuhan Cirebon di tahun 1529.

Keraton Kasepuhan Cirebon didirikan mengikuti tata letak bangunan kerajaan pada umumnya, yakni diapit masjid dan pasar. Sedangkan tanah lapang di depan keraton berfungsi sebagai alun-alun tempat para penduduk berkumpul.

Di pelataran keraton, Anda akan disambut oleh gapura yang terbuat dari batu bata merah, mirip candi-candi di wilayah Jawa Timur. Menuju bagian dalam, ada bangunan Keraton Kasepuhan (dibuat lebih tinggi dibanding bangunan lainnya), dinamakan Siti Inggil. Siti berarti tanah, inggil adalah tinggi.

Photo by Gading Perkasa

Puluhan piring keramik bercorak Eropa dan Cina menghiasi dinding Siti Inggil, menandakan Kesultanan Cirebon sudah berinteraksi dengan masyarakat dari luar Nusantara.

Kendati Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam, unsur budaya Hindu dan Buddha masih tampak dalam bentuk patung Lembu Nandi di Taman Bundaran Dewandaru dan tugu Lingga Yoni (perlambang Dewa Syiwa dan Dewi Parwati).

Unsur Buddha tersirat pada motif naga di kereta kencana Singa Barong yang biasa digunakan bepergian oleh Sunan Gunung Jati. Kereta ini termasuk canggih di masanya karena telah dilengkapi sabuk pengaman berbahan kulit, dan sayap sebagai kipas angin penumpang.

Perpaduan antara budaya lokal dan luar juga bisa diamati dari interior Keraton Kasepuhan yang mengadopsi gaya Eropa. Cermin besar, meja, kursi, lampu gantung dan kusen jendela bergaya Prancis.

Photo by Gading Perkasa

Ditambah lagi seperangkat gamelan Jawa hadiah dari Sultan Trenggono, penguasa Kerajaan Demak. Dinamai Gamelan Sekaten, dan masih ditabuh dua kali setahun.

Sebagian kalangan meyakini, Cirebon berasal dari kata “Caruban” (campuran). Karena zaman dahulu kota Cirebon merupakan pintu masuk pedagang asal luar negeri yang hendak berdagang di Nusantara.

Letak geografis Kesultanan Cirebon seolah-olah menjadi jembatan dua budaya, Sunda dan Jawa. Tapi uniknya, kebudayaan Cirebon sama sekali tak terpengaruh dua budaya dominan itu.

Wisata kuliner
Banyak makanan enak dan harga terjangkau bisa Anda cicipi. Mulai nasi lengko ditemani sate sapi, nasi jamblang, pedesan entog sampai es campur durian.

Photo credit: DMahendra on Visual Hunt / CC BY

Kalau ingin mencoba nasi jamblang paling lezat, coba sambangi kedai Bu Nur di Jl. Cangkring, Cirebon. Anda harus rela antre sekitar 5-10 menit demi menikmati nasi jamblang buatan Bu Nur.

Mau mencari suasana lain? Datanglah ke alun-alun di Jl. Siliwangi. Semua ada di sana, mulai camilan hingga makanan berat. Sekaligus Anda bisa mencuci mata menyaksikan pemandangan indah.

Wisata oleh-oleh
Berkunjung ke kota Cirebon rasanya tidak sah kalau belum membeli sesuatu khas kota ini, contohnya batik. Pusat batik terkenal berada di wilayah Trusmi. Batik di sana punya beragam warna.

Pasar Kanoman dikenal lama sebagai sentra ekonomi Cirebon. Terletak di sebelah utara Keraton Kanoman, pasar tersebut berubah penuh warna dan menjadi buruan wisatawan karena menyediakan berbagai buah tangan serta keindahan bangunannya.

Keragaman budaya dan etnis di Pasar Kanoman tidak lepas dari sejarah yang mempertemukan suku dan bangsa di kota Cirebon sejak dahulu kala. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa sudah berada di Cirebon sekitar 200 tahun sebelum Kesultanan Cirebon berdiri.

Photo by Gading Perkasa

Ada dua versi terkait sejarah Pasar Kanoman. Versi catatan pemerintah kolonial Hindia Belanda, pasar berdiri pada tahun 1901. Sementara versi lain yang beredar di masyarakat yaitu tahun 1678.

Di area pasar, Anda akan menemukan kios, los dan lapak berjajar. Dengan 1.078 pedagang yang menghuni kios di dua bangunan utama.

Sempatkan datang ke Pasar Kanoman, sebab disinilah Anda bisa membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Mulai dari terasi udang, kerupuk, sambal petis, sirup Tjampolay, hingga teh Upet. [GP]

SHARE