Ingin Lihat Koleksi Produk Gagal? Datang ke Sini - Male Indonesia
Ingin Lihat Koleksi Produk Gagal? Datang ke Sini
MALE ID | Relax

Pada dasarnya, setiap perusahaan tentu tidak ingin barang yang mereka ciptakan dikategorikan sebagai produk gagal. Karena telah melalui beberapa tahapan, mulai research and development (R&D), proses pembuatan produk, tes pasar serta masih banyak lagi. Biaya yang dihabiskan pun tak sedikit jumlahnya.

Photo credit: wattallan594 on Visual Hunt / CC BY-NC

Sayangnya hal itu sulit dicegah, mengingat pasar punya seleranya sendiri. Kita ambil contoh. Salah satu produk dari Harley Davidson, pabrikan otomotif ternama di dunia dinyatakan produk gagal.

Di tahun 1994, mereka meluncurkan produk berupa cologne yang diberi nama “Legendary”. Pastinya, orang-orang menginginkan aroma keringat, debu dan knalpot jalanan. Begitu pikir mereka.

Alih-alih mendulang keuntungan, produk cologne buatan mereka justru gagal menarik perhatian para pecinta Harley Davidson. Segala upaya yang diperbuat sia-sia.

Namun, inovasi perusahaan ini tak sepenuhnya dilupakan. Cologne Legendary menjadi objek pertama yang diabadikan dalam ‘museum kegagalan’. Berlokasi di Amerika Serikat dan Swedia, The Museum of Failure seolah memberi ‘hidup baru’ kepada ratusan produk gagal.

Photo credit: dalecruse on Visual hunt / CC BY

Setiap pengunjung dapat menyaksikan beragam objek. Mulai teknologi yang tersisihkan seperti Apple Newton atau Google Glass, hingga Coca-Cola Blak --minuman bersoda dengan rasa kopi-- dan lasagna beku dari Colgate.

Inovasi merupakan bisnis penuh risiko. Itulah yang ditangkap Samuel West, pendiri The Museum of Failure, dari penelitiannya sebagai psikolog organisasi. Walaupun ada trial and error, yang lebih sering didengar publik hanyalah berita keberhasilannya saja.

“Saya lelah memuja kesuksesan. Masyarakat senantiasa mengelu-elukan kesuksesan dan menganggap buruk kegagalan. Kisah sukses ada di mana-mana, tapi tidak seorang pun berbicara tentang kesulitan atau kegagalan di baliknya. Saya ingin menemukan cara baru untuk mengomunikasikan pentingnya kegagalan,” tutur Samuel.

Singkat cerita, ia (Samuel-red.) lalu memutuskan membuka museum yang di dalamnya terdapat koleksi kesalahan dan kegagalan. Objek tersebut harus sesuai sama kriteria inovasi Samuel.

Photo credit: dalecruse on Visualhunt.com / CC BY

“Contohnya Samsung Notes yang meledak. Itu adalah bukti buruknya quality control. Mereka tidak betul-betul berusaha membuat sesuatu yang baru, hanya mengacau,” ujarnya.

Dinilai berisiko di awal, The Museum of Failure menunjukkan kesuksesan. Usai membuka di Helsingborg, Swedia, kini koleksi produk gagal kian bertambah. Lokasi baru turut diresmikan di Los Angeles, Amerika pada Desember 2017 lalu. Beberapa objek museum bahkan akan dipamerkan melalui tur dunia.

“Melihat perusahaan besar gagal dengan produknya bikin kita lega. Para pengunjung merasa, mereka juga bisa tersandung saat mencoba atau belajar hal baru. Sehingga mereka berani meninggalkan zona nyaman,” katanya. [GP]

SHARE