Ulah Raja yang Meninggal Karena Kecerobohannya | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Ulah Raja yang Meninggal Karena Kecerobohannya
Gading Perkasa | Story

Idealnya, raja dikenal dunia karena prestasi besar mereka, namun itu tak terjadi dengan Adolf Frederick. Ia merupakan raja Swedia di abad ke-18 yang dikenang lantaran kecerobohannya sendiri.

Gustaf Lundberg/wikipedia

Kecintaan Adolf Frederick pada semla, roti manis tradisional Swedia pada akhirnya menyebabkan kematiannya di tanggal 12 Februari 1771.

Perjamuan kerajaan agak identik dengan makanan dalam jumlah banyak. Kala itu, Adolf menyantap makanan yang penuh karbohidrat. Seperti lobster, kaviar, beberapa ikan, sauerkraut (kubis halus dan difermentasi oleh berbagai bakteri) serta sampanye.

Seolah belum puas, ia memakan 14 roti semla. Inilah pemicu sang raja menderita sakit akibat makan berlebihan. Komplikasi di pencernaan, dan meninggal dunia. Tak ada satu pun raja yang memilih mati dengan cara tersebut.

Sebelum meninggal, Adolf Frederick telah memerintah kerajaan Nordic selama dua dekade. Saat tidak ada perang, membaiknya hak-hak sipil, serta ekonomi yang mengalami stagnasi.

Beberapa orang menduga, ia naik takhta secara tidak lazim. Disinyalir karena pengaruh bibinya, Ratu Elizabeth dari Rusia, pasca kemenangannya dalam perang Rusia-Swedia (1741-1743).

Sang ratu bernegosiasi untuk mengembalikan sebagian besar Finlandia ke kekuasaan Swedia. Serta konsesi perjanjian damai lainnya apabila Adolf Frederick dinyatakan sebagai penerus takhta usai Raja Frederick I dari Swedia meninggal di tahun 1751.

Perjamuan makan terakhir Adolf dan penyebab ia makan sampai mati berhubungan dengan pesta perayaan tradisional. Dikenal sebagai Fettisdag (Fat Tuesday) di Swedia, sebelum periode pra-paskah oleh umat Kristen.

Itu merupakan perayaan kenikmatan dalam makanan berlemak. Hidangan utama raja di Fettisdag pada 1771 cukup melimpah dan bergizi. Namun orang-orang berasumsi bahwa makanan penutup di perjamuan tersebut merupakan ‘pembunuh’ Adolf.

Hidangan pertama roti semla telah habis, raja meminta 13 piring lagi. Secara historis, semla memang hanya dimakan di waktu Fettisdag dan konon paling ia dambakan secara rahasia sepanjang tahun.

Entah mengapa ia melahap roti semla begitu rakus. Ada yang menyebut, Adolf dilanda stres lantaran mengemban tugas terlalu berat sebagai raja.

Kerakusan itu berujung malapetaka. Piring ke-14 semla habis ditelan, dan ia juga habis dengan hidupnya di dunia. Akibat makanan berlimpah, ia mengalami masalah pencernaan dan meninggal di hari yang sama.

Sewaktu meregang nyawa, keluarga, teman-teman serta pelayannya sangat berduka. Karena bagaimanapun, ia dikenal sebagai raja yang baik hati semasa hidup. [GP]

SHARE