Kebohongan Ini Menjadi Senjata Saat Kencan Online - Male Indonesia
Kebohongan Ini Menjadi Senjata Saat Kencan Online
MALE ID | Relationships

Berbohong tentang kesendirian atau status single adalah penipuan umum pengguna kencan online dalam menarik perhatian calon pasangan. Kebohongan ini muncul tidak lain dari efek tekonologi komunikasi yang menghubungan dari seseorang ke orang lain.

kencan panas male indonesiaPexels.com

Hancock, bersama dengan David Markowitz, seorang mantan mahasiswa pascasarjana dalam komunikasi yang bekerja di Stanford Social Media Lab Hancock, melakukan beberapa studi yang meneliti penipuan dalam percakapan kencan seluler alias kencan online.

"Sampai saat ini, sudah relatif tidak jelas seberapa sering ponsel diggunakan untuk penipuan dalam pesan mereka sebelum mereka bertemu dengan orang lain," kata Markowitz.

Aplikasi, Kebohongan, dan Pesan Langsung
Untuk mencari tahu apa yang dikatakan orang, Markowitz dan Hancock merekrut lebih dari 200 orang yang menggunakan aplikasi seluler untuk berberkencan. Mereka memeriksa lebih dari 3.000 pesan yang dikirim pengguna selama fase penemuan, periode percakapan setelah melihat profil. Di sini mereka belum bertemu tatap muka. Markowitz dan Hancock kemudian meminta peserta untuk menilai tingkat kecurangan dalam pesan.

Para peneliti menemukan bahwa sangat banyak orang-orang jujur. Hampir dua pertiga dari peserta melaporkan tidak mengatakan kebohongan apa pun. Tetapi para partisipan melaporkan sekitar 7 persen dari pesan yang dikirim oleh data online sebagai sesuatu yang menipu. 

Ketika orang berbohong, apa yang mereka katakan? "Sebagian besar kebohongan ini adalah tentang hubungan atau tidak memulai hubungan, daripada berbohong untuk berhubungan," kata Hancock dalam laman futurity.

Mayoritas kebohongan didorong oleh keinginan untuk tampil lebih menarik, seperti melebih-lebihkan minat dan ketersediaan pribadi. Sehingga, tambah Markowitz, selalu memiliki hati yang kosong juga mungkin terlihat putus asa. Oleh karena itu, orang akan berbohong tentang status mereka atau kegiatan mereka saat ini.

Hancock menyebut tipuan ini sebagai “butler lies” sebuah istilah yang dia buat pada tahun 2009 dengan orang lain untuk menggambarkan kebohongan yang dengan bijaksana memulai atau mengakhiri percakapan.  "Butler lies adalah salah satu cara untuk mencoba menangani/menyelamatkan muka diri mereka sendiri dan pasangan mereka," kata Hancock.

Para peneliti juga penasaran untuk mengetahui bagaimana mereka yang berkencan online merasakan penipuan orang lain. Peneliti menemukan bahwa, semakin banyak peserta yang melaporkan kebohongan dalam percakapan, semakin mereka percaya bahwa pasangan mereka juga berbohong. Para peneliti menyebut pola perilaku ini sebagai efek konsensus penipuan.

"Ketika orang menganggap tindakan orang lain, mereka bias oleh perilaku mereka sendiri," kata para peneliti. Tetapi seperti ditekankan Markowitz dan Hancock, frekuensi berbohong dalam kencan seluler relatif rendah.

Data menunjukkan bahwa penipuan kencan seluler bersifat strategis dan relatif terbatas. Sebagian besar pesan yang dikirim orang adalah jujur, dan ini adalah langkah positif untuk membangun kepercayaan dalam hubungan romantis baru. ** (SS) 

SHARE