Perselisihan di Lingkungan Kerja Picu Stres Berat - Male Indonesia
Perselisihan di Lingkungan Kerja Picu Stres Berat
MALE ID | Sex & Health

Perselisihan di lingkungan kerja ternyata memiliki penanda pada tubuh yang memperlihatkan stres yang berlebih jika dibandingkan dengan orang yang menganggur. Kesimpulan tersebut hasil dari survei yang di lakukan RAND dengan melibatkan 3.000 orang di Amerika dengan kisaran usia 25 sampai 71 tahun.

Perselisihan di Lingkungan Kerja pexels.com

Salah satu peneliti RAND yang juga profesor kebijakan kesehatan di Harvard Medical School Nicole Maestas mengungkapkan, hampir keseluruhan responden mengalami perselisihan di lingkungan kerja. Sehingga Maestas menyimpulkan satu dari lima pekerja di AS memiliki pengalamanan yang sama.

Maesta mengatakan, sebenarnya hal tersebut bisa dicegah dengan dukungan bos sehingga bisa memotong jumlah interaksi sosial yang tidak sehat itu. Studi ini juga menemukan, di mana wanita melaporkan sulit mengatur waktu untuk mengurus hal-hal pribadi dan keluarga dari pada laki-laki, bahkan dari segi finansial pun perempuan jauh di bawah pekerja laki-laki.

Maestas mengungkapkan penelitiannya ini sebenarnya menjadi sebuah informasi penting bagi pengusaha, di mana lingkungan kerja bisa berpengaruh pada produktifitas pekerjanya.

Selain itu, Tarani Chandola, seorang penulis dari International Journal of Studi Epidemiologi dan profesor sosiologi medis di Universitas of Manchester juga mengatakan, Bekerja di tempat buruk tidak baik untuk Anda, khususnya untuk kesehatan fisik dan mental Anda.

Baca Juga : Bekerja di Rumah, Meningkatkan Kualitas Hidup Anda

Pernyataan itu pun diterima hampir semua orang. Tetapi sebagian orang menyanggah pernyataan itu dengan memilih lebih baik memiliki pekerjaan meski stres daripada menganggur. Chandola dan penulis lain, yaitu Nan Zhang juga melakukan survei yang sama seperti Maestas. Namun penlitian ini dilakukan di Inggris dengan melibatkan 1.116 orang yang berusia 35 sampai 75 tahun.

Hasilnya, mereka yang sudah memiliki pekerjaan berkualitas rendah memiliki indikator stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menganggur. Selain itu, kata Chandola, pekerja yang tidak memiliki fleksibilitas dalam jadwal mereka cenderung memiliki lebih banyak indikator stres.

Bahkan, seorang dokter kardiologi di Amerika Serikat mengatakan, stres berat di tempat kerja bisa berakibat buruk bagi jantung Anda. Bahkan, dipercaya bisa meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Bahkan, dalam jangka panjang, stres berat di tempat kerja bisa menjadi salah satu kemungkinan penyebab utama kematian.** (SS)

SHARE