Piala Dunia 1938, Jejak Indonesia dan Nyawa Italia - Male Indonesia
Piala Dunia 1938, Jejak Indonesia dan Nyawa Italia
MALE ID | Sport & Hobby

Tim Hindia Belanda yang menjadi cikal bakal Indonesia adalah negara Asia pertama yang tambil di Piala Dunia 1938 di Perancis. Sayangnya gaya permainan dan fakta tim sepak bola Hindia Belanda ini minim catatan sejarah.

Pelatih Italia Vittorio Pozzo mengangkat tropi/FOTO: Skblzz1/wikipedia

Piala Dunia 1938 di Perancis merupakan edisi Piala Dunia kedua setelah pertama kali digelar pada tahun 1930 di Uruguay. Piala Dunia 1938 ini diikuti oleh 15 negara dengan rincian 12 negara benua Eropa, dua negara benua Amerika, dan satu negara dari benua Asia, yakni Hindia Belanda (Dutch East Indies) itu sendiri yang kini dikenal dengan nama Indonesia.

Jejak Hindia Belanda lolos Piala Dunia 1938 terbilang magic. Karena tanpa melewati satu  pun pertandingan kualifikasi, melainkan karena pengunduran diri Jepang menyusul pecahnya perang China di tahun 1930-an. Selain itu, pada awalnya FIFA merencanakan pertandingan play-off tambahan antara Amerika Serikat dan Hindia Belanda. Mundurnya Amerika Serikat karena alasan finansial membuat Hindia Belanda otomatis lolos ke Piala Dunia 1938.

Skuat Hindia Belanda yang berangkat ke Piala Dunia 1938 Perancis diisi oleh campuran pemain berdarah Belanda dan juga pribumi. Pelatih Johannes Van Mastenbroek memimpin 16 pemain yang berasal dari klub-klub di bawah dua federasi yang berbeda, Nedelandsche Indische Voetbal Union (NIVU) dan Perserikatan Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI).

“Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian…,” begitulah laporan koran Perancis L’Equipe, edisi 6 Juni 1938, “tapi pertahanannya amburadul, karena tak ada penjagaan ketat..” seperti mengutip laman BBC.

Hasilnya, seperti tercatat dalam sejarah, tim sepakbola Hindia Belanda dicukur 6-0 (4-0) oleh tim Hungaria, sekali bertanding dan kalah. Karena saat itu memang menggunakan sistem gugur. Pertandingan Hindia Belanda-Hungaria sendiri digelar pada 5 Juni 1938 di Stadion Reims, Perancis.

Geliat Sepak Bola di Hindia Belanda
Klub sepak bola mulai bermunculan di Hindia Belanda pada abad 20 di berbagai kota besar. NIVU merupakan federasi yang didirikan sebagai induk organisasi sepak bola Hinda Belanda. Keberadaan NIVU menggantikan keberadaan federasi bentukan pemerintah kolonial sebelumnya yang dilanda konflik internal, yakni Nederlandsche Indische Voetbal Bond (NIVB). 

Sejak didirikan 1935, NIVU bergabung dengan FIFA pada Mei 1936. Di tahun 1930, PSSI didirikan sebagai federasi tandingan yang menaungi klub-klub sepak bola pribumi. NIVU sebagai federasi yang mempersiapkan keikutsertaan Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 memilih untuk bekerjasama dengan PSSI untuk menyeleksi pemain yang akan mengisi skuat.

Sebelum kembali ke Hindia Belanda, skuat sempat melakukan pertandingan persahabatan melawan Belanda pada 26 Juni 1938. Bermain di Stadion Olympic Amsterdam, Hindia Belanda kalah dengan skor 2-9 di hadapan 50 ribu penonton yang memenuhi stadion.

Selepas Piala Dunia 1938, tidak banyak rekam jejak para pemain Hindia Belanda yang diketahui. Java Post menyebutkan hanya kiper Mo Heng Tan masih bermain untuk tim nasional Indonesia pada awal tahun 1951, ketika Indonesia melakukan debut pertandingan internasionalnya selepas meraih kemerdekaan melawan Sino Malay (Singapura). 

Pertaruhan Nyawa dan Kemangan Italia


Selain ada jejak Indonesia dalam gelaran Piala Dunia 1938 ini, juga ada pertarungan hidup, mati, dan juara Italia. Juara atau Mati! Itu adalah perintah absolut yang keluar dari mulut salah satu diktator paling kejam sepanjang sejarah, Benito Mussolini, yang ditujukan kepada tim nasional Italia menjelang final Piala Dunia 1938 kontra Hungaria.

Konon instruksi Mussolini diterima secara langsung via perantara telegram beberapa saat sebelum Italia melakoni pertandingan final. Sekutu diktator Jerman, Adolf Hitler, dalam poros fasis ini memang berambisi menagbiskan Gli Azzurri sebagai tim terhebat di dunia.

Instruksi tersebut barangkali terdengar seperti ancaman hukuman mati, tapi sangat efektif membangkitkan semangat juang pemain-pemain Italia serta menghasilkan sepasang titel prestisius sebelum Piala Dunia 1938, yakni trofi Piala Dunia 1934 serta medali emas Olimpiade 1936.

Duel penentuan kampiun Piala Dunia 1938 berlangsung di Stadion Olympique de Colombes, Paris. Mayoritas penonton adalah warga Prancis sehingga cenderung mendukung Hungaria berdasarkan rasa sentimen terhadap fasisme.

Akirnya, melalui pertarungan yang sengit, Italia menang atas Hungaria dengan skor akhir 4-2. Pertandingan final ini tercatat pada, 19 Juni 1938. Terlepas dari ancaman kematian itu, kemenangan Italia justru mendapatkan apresiasi luar biasa dari Presiden Prancis waktu itu, Albert Francois Lebrun. “Italia telah memenangi segalanya. Mereka sungguh diberkahi,” kata Lebrun seperti dikutip dari situs FIFA. ** (SS)

SHARE