Aib di Piala Dunia 1998 Menurut Legenda Perancis | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Aib di Piala Dunia 1998 Menurut Legenda Perancis
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Beberapa waktu lalu pernyataan mengejutkan keluar dari mulut Michel Platini terkait Piala Dunia 1998. Menurutnya, turnamen yang dilangsungkan di negaranya, Perancis menyimpan sebuah aib atau cela.

Klearchos Kapoutsis/wikipedia

Bila sebelumnya bau ‘busuk’ selama penyelenggaraan turnamen sepak bola dunia tercium namun sulit dibuktikan, beda halnya dengan Piala Dunia 1998. Platini mantan presiden UEFA sekaligus bintang Perancis berani mengakuinya.

Pihak Penyelenggara Mengatur Penempatan Timnas Perancis dan Brasil
Menurut Platini, setidaknya pada ajang Piala Dunia 1998 di Negeri Anggur, pihak penyelenggara ‘bermain sedikit’ supaya bisa menghasilkan ‘final yang diinginkan’. Kala itu, ia menjabat sebagai presiden dari komite penyelenggara turnamen dan ‘mengatur’ penempatan tim ayam jantan yang berlaga di fase grup.

Brasil sebagai juara bertahan ditempatkan di grup A, seperti lazimnya praktik yang sudah berlangsung. Sementara Perancis, pihak penyelenggara, berada di grup C. Artinya, bila Brasil dan Perancis berhasil memuncaki klasemen grup, keduanya tidak akan bertemu sampai di babak final.

Ia Mengakui Final Antara Perancis vs Brasil Merupakan ‘Final Ideal’
Pada akhirnya, semua berjalan sesuai rencana. Les Bleus sukses menumbangkan Paraguay, Italia dan Kroasia. Puncaknya, mereka membantai Brasil di final dengan skor 3-0 --dua gol dari kaki Zinedine Zidane, sisanya Emmanuel Petit. “Partai final Perancis-Brasil merupakan impian setiap orang,” ujar Michel Platini dalam sebuah wawancara bersama stasiun radio France Bleu Sport.

Bahkan Dirinya Menuduh Tiap Negara Penyelenggara Piala Dunia Juga Melakukan Hal Serupa
Sembari tertawa, sosok yang dijatuhi skorsing empat tahun oleh FIFA akibat menerima ‘uang pelicin’ dari Sepp Blatter mantan presiden FIFA-- ini menyatakan peranannya dalam permainan tersebut.

“Ada sedikit permainan. Kami tidak membuang waktu enam tahun menyiapkan Piala Dunia tanpa sedikit perbuatan licik. Apakah menurut Anda tuan rumah Piala Dunia lainnya tidak melakukan hal serupa?” tutur Platini, seperti dilansir dari The Guardian.

Peraturan umum dalam penempatan grup adalah, negara yang berasal dari konfederasi sama tidak akan berada di satu grup. Walau demikian, pengakuan Platini terkait ‘trik kecil’ di Piala Dunia 1998 menjadi sesuatu yang baru sekaligus menimbulkan pertanyaan bagi kita semua. Apakah Piala Dunia 2018 di Rusia juga akan dibumbui oleh skandal? [GP]

SHARE