Popularitas Singkat Bintang Piala Dunia 1990 | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Popularitas Singkat Bintang Piala Dunia 1990
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Piala Dunia 1990 tidak akan dilupakan begitu saja oleh Salvatore Schillaci. Wajar saja, sebab di ajang itulah kiprahnya sebagai pesepakbola melambung dan dikenal pecinta bola seantero jagat.

Photo credit: NazionaleCalcio on Visualhunt / CC BY

Bermain di tanah sendiri, Italia membawa asa besar bagi publik jika tim kebanggan mereka mampu berbicara banyak dan menjuarai Piala Dunia untuk keempat kalinya. Para pemain yang dibawa sang pelatih, Azeglio Vicini memiliki kualitas tinggi. Hanya saja nama Salvatore Schillaci belum termasuk di dalamnya.

Menariknya, ia justru tampil memukau sebagai juru gedor Gli Azzurri. Tak tanggung-tanggung, ia berhasil mengemas enam gol dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang turnamen Piala Dunia 1990. Terasa kian manis karena Schillaci juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik.

Sayang seribu sayang, kegemilangannya tak membuat Italia memboyong trofi Piala Dunia. Schillaci dkk kandas di tangan Argentina yang saat itu diperkuat Diego Maradona pada babak semifinal. Mereka mendapat gelar ‘hiburan’, yaitu juara ketiga setelah menekuk Inggris.

Kegagalan tersebut membuat dirinya meradang. Berdasarkan pengakuannya kepada FourFourTwo, ia menghabiskan waktunya dengan menghisap rokok dan menangis sepanjang hari. Bahkan ia rela seandainya gelar Pemain Terbaik yang diperolehnya ditukar trofi Piala Dunia.

Sebelum mengejutkan banyak pihak lewat aksi-aksinya bersama timnas Italia, nama Salvatore Schillaci nyaris tak terdengar. Karier pemain berpostur 173 cm ini lebih banyak berkutat di kasta bawah, yaitu Serie C2, C1 dan B, bersama Messina selama tujuh musim.

Pelan tapi pasti, nasibnya berubah. Kemampuannya yang baik dalam mencetak gol dari kaki maupun kepalanya menarik perhatian dari sejumlah klub raksasa Serie A. Juventus lalu menjadi pilihan Schillaci buat melanjutkan karier jelang musim kompetisi 1989/1990.

 History of Italy's World Cup kits/wikipedia

Di musim perdananya bersama La Vecchia Signora, ia terbilang sukses. Sebagai top skor klub sekaligus mempersembahkan trofi Piala Italia dan Piala UEFA. Itulah yang membuat Vicini membawanya ke Piala Dunia 1990.

Performa apik selama dua musim terakhir tak mampu dipertahankan olehnya. Ia menghadapi rentetan masalah kebugaran dan dilego ke salah satu tim rival, Inter Milan pada musim 1992/1993.

Upaya ‘Toto’ Schillaci memperbaiki diri bersama Inter urung membuahkan hasil. Tercatat, hanya 13 gol mampu ia buat di seluruh kompetisi selama dua musim. Hal itu berujung pada keputusan manajemen Inter yang tak memperpanjang kontraknya di tahun 1994.

Di ambang kehancuran karier, ia bergabung dengan Jubilo Iwata di usia 30 tahun dan menjadi pemain Italia pertama yang bermain di kompetisi J-League. Empat musim di sana, ia membukukan 65 gol serta berperan atas gelar J-League pertama Jubilo.

Lagi-lagi, nasib sial menghampirinya. Paska mengantar Jubilo sebagai tim nomor satu di Jepang, kontraknya tidak diperpanjang oleh manajemen klub. Dirinya pulang kampung ke Italia sebelum akhirnya benar-benar pensiun dari lapangan hijau di tahun 1999. Kini, ia mendirikan akademi sepakbola di kota kelahirannya, Palermo.

Memang Salvatore Schillaci tidak melegenda seperti Paolo Rossi atau Giuseppe Meazza. Namun, waktu singkat di musim panas 1990 bakal selalu dikenang publik. Dimana ia muncul sebagai bintang utama Italia di turnamen sepakbola paling bergengsi sejagat raya, hal yang mustahil terulang di Piala Dunia 2018 mengingat Italia hanya menjadi penonton. Grazie, Toto! [GP]

SHARE