Atlet Berbakat yang Terabaikan di Piala Dunia 1958 - Male Indonesia
Atlet Berbakat yang Terabaikan di Piala Dunia 1958
MALE ID | Sport & Hobby

Nama Just Fontaine seolah-olah tenggelam di Piala Dunia 1958. Wajar saja demikian, sebab di perhelatan itu, perhatian jutaan pasang mata tertuju pada satu sosok, Edson Arantes do Nascimento alias Pele.

wikipedia

Di usianya yang baru 17 tahun, ia mengantarkan Seleccao merengkuh trofi Piala Dunia pertamanya di tanah Swedia. Torehan enam gol disertai tendangan salto di partai final mengantarkan ia menjadi pemain terbaik. Padahal, Just Fontaine lebih hebat dalam urusan mencetak gol.

Tercatat, sampai menjelang pagelaran Piala Dunia 2018 di Rusia Juni mendatang-- pemain asal Prancis tersebut menorehkan rekor yang tak sanggup disamai oleh pesepak bola lainnya. Hanya dari satu edisi Piala Dunia, secara luar biasa ia menyarangkan 13 gol!

Belum ada seorang pun bisa melewati apa yang dilakukan Fontaine. Termasuk bomber legendaris semacam Gerd Muller, Mario Kempes, Diego Maradona, Marco Van Basten, Ronaldo bahkan Pele sendiri.

Ironisnya, Fontaine yang lahir di Maroko negara koloni Prancis nyaris saja tak dibawa ke Piala Dunia 1958. Pelatih Les Bleus kala itu, Albert Batteaux, kebingungan ingin memilihnya atau Rene Bliard. Di detik-detik terakhir proses seleksi, Bliard justru cedera. Fontaine dipilih masuk skuat yang akan berangkat ke Swedia.

Ketika turnamen digelar, usianya baru menginjak 24 tahun. Namun ia mampu menembus starting eleven. Bermodalkan sepatu pinjaman dari rekannya yang sering duduk di bangku cadangan, Stephane Bruey, ia membuktikan bahwa tindakan pelatih mengikutsertakan dirinya merupakan langkah tepat.

Pertandingan pertama melawan Paraguay, Just Fontaine langsung membuat hattrick. Gawang Yugoslavia dan Skotlandia juga menjadi “korban” keganasannya, mengantarkan Prancis lolos sebagai juara Grup 2.

Di fase gugur, daya gedor Fontaine sama sekali tidak menurun. Menghadapi Irlandia Utara di perempat final, ia menceploskan gol yang membawa Prancis menang telak, 4-0.

Sayang sekali, keajaiban yang ia suguhkan harus terhenti di babak semi final. Peraturan lawas mengakibatkan Tim Ayam Jantan takluk oleh Brasil dengan skor 2-5, kendati ia sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

“Kami kalah karena hanya bermain dengan sepuluh orang di babak kedua. Rekan saya, Robert Jonquet harus ditarik keluar. Peraturan sepakbola saat itu tak mengizinkan sebuah tim mengganti pemain yang cedera,” tutur Fontaine dalam wawancaranya bersama Le Monde.

Kekecewaan Fontaine dilampiaskan pada duel perebutan tempat ketiga, dimana Prancis menghajar Jerman Timur 6-3. Tak tanggung-tanggung, ia menorehkan quattrick  empat gol dan menjadi top skor turnamen, lewat koleksi 13 gol.

Di kancah domestik, ia membawa klub tradisional Prancis, Stade de Reims berjaya. Selama enam musim pengabdiannya, tiga gelar divisi I dan satu Piala Prancis ia persembahkan. Termasuk mengantarkan Reims menembus babak final Piala Champions edisi 1958/59, sebelum dikalahkan Real Madrid.

Usianya kini memang sudah melewati 80 dan makin sulit aktif di kegiatan sepakbola. Kendati demikian, statusnya sebagai pemain legendaris Prancis dan dunia tak tergerus zaman. Sain toujours, Justo! [GP]

SHARE