Orang Kreatif Cenderung Rentan Alami Gangguan Jiwa | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Orang Kreatif Cenderung Rentan Alami Gangguan Jiwa
Gading Perkasa | Sex & Health

Orang kreatif dan gangguan mental tak bisa dikatakan saling berhubungan. Namun berdasarkan fakta, ada beberapa orang kreatif seperti seniman terkenal yang mengalaminya.

gangguan mental - Male IndonesiaPhoto by Simon Abrams on Unsplash

Sebutlah Vincent Van Gogh, pelukis yang memotong telinga kirinya. Begitu pula Ludwig Van Beethoven, Darwin, serta masih banyak lagi. Riset dari British Journal of Psychiatry menemukan, kecenderungan skizofrenia - salah satu gangguan mental - meningkat pada orang-orang kreatif.

Penelitian ini memiliki sampel sekitar 4,5 juta responden. Korelasi antara kreativitas dan gangguan mental ditemukan oleh para peneliti di King’s College London. Mereka mengamati catatan keseharian seluruh sampel serta melihat apakah responden pernah belajar subjek artistik entah musik atau drama.

Hasilnya, mereka yang punya gelar di bidang artistik 90% lebih mungkin dirawat di rumah sakit jiwa karena skizofrenia atau gangguan bipolar daripada orang lain. “Semakin Anda mengamati orang kreatif, maka makin besar asosiasi dengan gangguan mental. Saya berpikir, tingkat kreativitas artistik berisiko tinggi,” ujar James MacCabe selaku pemimpin penelitian.

Lebih lanjut menurut MacCabe, kaitan antara kreativitas dan skizofrenia bisa menjadi genetik atau menyangkut pola pikir seseorang. “Lewat kreativitas, orang sering membuat lompatan kreatif. Ini juga terjadi dalam kondisi gangguan kejiwaan, dimana Anda membentuk delusi dan menghasilkan beberapa teori,” ujarnya lagi.

Profesor Stephen Lawrie dari University of Edinburgh mengatakan, teori tersebut adalah analisis paling masuk akal yang telah ia lihat mengenai masalah pelik antara kreativitas dan kesehatan mental. “Studi ini sangat menarik, mencoba pendekatan yang teliti. Hasilnya sesuai pengalaman klinis saya, sebab saya sendiri punya kesan itu pada lebih banyak ‘artis’ ketimbang orang lain,” kata Lawrie.

Kendati demikian, bukan berarti semua orang kreatif mengalami masalah kesehatan mental. Menggunakan latar belakang pendidikan sebagai penanda skizofrenia kurang akurat secara ilmiah, karena ada banyak orang kreatif yang tidak muncul pada hasil penelitian.

Sebagai contoh, di tahun 2010 lalu pemindaian otak mengungkap kesamaan antara jalan pikiran penderita skizofrenia dan orang kreatif. Kemudian hasil studi pada 2015, orang-orang kreatif berisiko terkena skizofrenia dan gangguan bipolar. Akan tetapi, studi di tahun 2012 menegaskan, hanya penulis yang memiliki risiko lebih tinggi.

Sebelumnya, MacCabe juga pernah mencoba meneliti hubungan keduanya. Pada 2014 lalu, hasil penelitiannya menunjukkan gangguan bipolar empat kali lebih besar menimpa kalangan orang dewasa muda yang berprestasi di bidang akademis.

Ia bekerja sama dengan Karolinska Institute, membandingkan antara catatan sekolah nasional Swedia dan diagnosisi untuk gangguan mental tersebut. “Nilai A dikaitkan dengan peningkatan risiko bipolar, khususnya dalam studi humaniora dan lebih rendah pada bidang sains,” tulis MacCabe. [GP]

SHARE