Menari Sampai Mati, Fenomena yang Masih Misterius | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Menari Sampai Mati, Fenomena yang Masih Misterius
Gading Perkasa | Story

Kalimat “menari sampai mati” biasanya hanya kita temukan di lirik sebuah lagu. Dimana para musisi yang menciptakan lirik itu bermaksud mengajak para penggemarnya menikmati musik mereka dengan menari dan berjoget bersama.

menari sampai mati - male IndonesiaPhoto by Larm Rmah on Unsplash

Namun rupanya, menari sampai mati bukan sekadar kata-kata. Fenomena ini pernah betul-betul terjadi di muka bumi dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Dikenal dengan sebutan Dancing Plague, yang terjadi di kota Strasbourg, Prancis pada tahun 1518.

Semua bermula ketika seorang wanita tiba-tiba mulai menari dan diikuti oleh orang lain. Dalam kurun waktu satu bulan - tanpa henti - kerumunan yang menari mencapai jumlah 400 orang. Akibatnya, banyak dari mereka meninggal dunia karena murni kelelahan. Dibutuhkan waktu cukup lama guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. 

Dilansir dari Digital Journal, seorang wanita bernama Frau Troffea melangkahkan kakinya ke jalan kecil di Strasbourg. Ia lalu bersiap-siap dan melakukan tarian. Tindakan itu terus berlangsung sekitar empat hingga enam hari.

Bukannya dihentikan, sebanyak 34 orang malah bergabung dengannya. Bahkan setelah sebulan, kerumunan tersebut membeludak hingga 400 orang. Akhirnya, sebagian orang yang menari tanpa henti meninggal akibat terkena serangan jantung dan stroke.

wikipedia

John Waller, sejarawan, telah menghabiskan waktunya mempelajari fenomena itu secara panjang lebar dan menemukan misteri di baliknya. “Peristiwa di Strasbourg memang nyata adanya dan tidak dapat dibantah,” ujar Waller.

Pernyataan Waller sangatlah beralasan. Pasalnya berdasarkan catatan dan bukti sejarah, fenomena ini benar-benar terjadi. Bukti-bukti meliputi catatan dokter, khotbah katedral, kronik lokal dan regional, serta tulisan yang dirilis oleh dewan kota Strasbourg.

Sejumlah pengobatan telah diupayakan para bangsawan dengan mencari nasihat dokter setempat. Ironisnya, pihak berwenang justru membuat blunder. Mereka mengambil langkah agar mereka terus menari. Bahkan panggung kayu dibuat sebagai arenanya.

Hal ini dilakukan sebab mereka percaya bahwa para penari akan pulih jika menari terus-menerus, siang dan malam. Demi meningkatkan efektivitas penyembuhan, pihak berwenang juga membayar musisi bagi mereka yang sakit.

Wabah menari yang tak jelas itu akhirnya menemui titik terang usai berabad-abad kemudian. Penyebabnya adalah gejala psikosis massal  dipicu oleh stres. Strasbourg memang sedang dilanda kelaparan dan mengalami krisis. Ditambah lagi kota dipenuhi penyakit, termasuk cacar dan sifilis.

Waller percaya, stres tidak dapat ditoleransi, dan karenanya memicu penyakit kejiwaan massal. Teorinya cukup menarik dan cenderung lebih masuk akal dibanding teori lain yang berkembang, bahwa wabah menari sampai mati disebabkan oleh konsumsi jamur ergot  yang efeknya seperti narkotika. [GP]

SHARE