Penuaan Otak Bisa Terjadi Karena Stres Melanda - Male Indonesia
Penuaan Otak Bisa Terjadi Karena Stres Melanda
MALE ID | Sex & Health

Efek stres ternayta tidak hanya pada kesehatan tubuh saja, tetapi pada otak Anda. Masalah yang muncul tak ada hentinya, mulai dari pekerjaan yang membebani, masalah keuangan dan masalah kesehatan yang serius yang tak kunjung sembuh, tentu akan membuat seseorang stres, dan efeknya konon akan berpengaruh pada otak, yakni mempercepat penuaan otak.

Penuaan Otak - male IndonesiaImage by rawpixel.com

Peneliti dari Universitas California, Sean Hatton dengan menggunakan algoritma baru, ia melihat adanya keterhubungan antara tingkat stres yang dialami manusia dengan percepatan penuaan otak, yang berpengaruh pada fungsi otak.

"Kami menggunakan algoritma baru untuk memprediksi penuaan otak setelah peristiwa kehidupan yang mengerikan, seperti perceraian atau kematian, dan peristiwa kehidupan yang negatif mempercepat penuaan otak sekitar sepertiga dari satu tahun untuk setiap peristiwa," kata penulis utama studi Sean Hatton, ilmuwan proyek di University of California, San Diego. 

Jadi, kata Sean Hatton, jika Anda cukup sial untuk memiliki dua masalah serius, itu berarti usia otak Anda yang diprediksi akan menjadi 8 bulan lebih tua. Namun Hatton mengatakan penelitian lain telah menunjukkan bahwa peristiwa kehidupan yang menekan dapat mempercepat pemendekan telomere. Ini adalah topi di ujung untaian DNA yang melindungi mereka dari kerusakan. Telomere bisa memendekkan usia seseorang.

Dr Daniel Kaufer, kepala neurologi kognitif dan gangguan ingatan di University of North Carolina, Chapel Hill, mengatakan peristiwa kehidupan yang memicu stres dapat meningkatkan peradangan yang meningkatkan penuaan. 

Daniel Kaufer juga mengatakan bahwa, mungkin itu bukan karena kejadian itu sendiri yang menyebabkan penuaan, tetapi kecenderungan seseorang terhadap masalah-masalah tersebut. "Ketika orang bereaksi negatif terhadap peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, mereka sering tidak makan dengan baik atau tidur nyenyak, dan itu dapat berdampak pada otak Anda," kata Kaufer.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 350 pria dengan usia rata-rata 62 tahun. Semua adalah veteran yang bertugas di militer antara 1965 dan 1975. Sekitar 80 persen tidak pernah mengalami situasi pertempuran. Mereka didominasi kulit putih (hampir 88 persen). ** (SS)

SHARE