Stres yang Timbul Akibat Penghasilan Tinggi | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Stres yang Timbul Akibat Penghasilan Tinggi
Gading Perkasa | Sex & Health

Setiap orang pasti ingin memperoleh penghasilan tinggi. Karena kebutuhan hidup juga terus meningkat dari hari ke hari. Namun ternyata, hal ini bisa menimbulkan stres berlebih. Benarkah demikian?

penghasilan tinggi - Male Indonesia Photo by AJ Garcia on Unsplash

Setidaknya begitulah hasil yang diungkap oleh studi LinkedIn Learning. Penelitian itu menemukan bahwa 7 dari 10 (68%) responden berpenghasilan lebih dari 200 ribu USD (sekitar 2 miliar rupiah) per tahunnya merasa stres di tempat kerja dibandingkan mereka yang hanya bergaji 35 ribu sampai 50 ribu USD (480-684 juta rupiah).

Mereka yang bergaji besar juga cenderung tidak puas dengan pekerjaannya. Sementara karyawan berpenghasilan rendah justru sebaliknya, menikmati apa yang mereka lakukan. Kesimpulan ini didapat dari survei yang melibatkan seribu anggota LinkedIn di Amerika Serikat.

Gen X - berusia 37 hingga 52 tahun - mempunyai stres pekerjaan lebih tinggi daripada generasi lainnya, yakni 57%. Sementara karyawan Baby Boomers di angka 52% dan milenial 42%. Hanya saja, meski tingkat stres pekerjaan terbilang rendah, generasi milenial memiliki ketidakpuasan cukup tinggi di antara Gen X dan Baby Boomers.

Sebanyak 52% pria mengaku stres di tempat kerja. Sedangkan sisanya cukup puas menjalani pekerjaannya saat ini. Berdasarkan survei yang dilakukan American Psychological Association’s Stress pada tahun 2017, sumber stres utama penduduk di sana adalah mengenai masa depan negara (63%). Diikuti oleh uang (62%) dan pekerjaan (61%).

Penelitian lain yang dipublikasikan pada jurnal Nature Human Behavior mengungkap, penghasilan tinggi dikaitkan dengan berkurangnya kepuasan hidup dan kesejahteraan mental rendah. Ini terjadi pada warga Amerika yang memiliki penghasilan 105 ribu USD (Rp1,5 miliar) per tahunnya.

Analisis Gallup-Healthways Well-Being Index menemukan fakta bahwa gaji besar bisa membeli kepuasan hidup, tapi tidak untuk kebahagiaan.

“Masalah kesepian juga berkaitan dengan penghasilan. Kekayaan mengisolasi psikologis dan fisik. Secara psikologis, kekayaan - menandakan status yang lebih tinggi - membuat kita ingin menjaga jarak dari orang lain,” tulis penelitian di Harvard Business Review.

Ditambahkan oleh tulisan tersebut, kita merasa tidak membutuhkan orang lain demi bertahan hidup karena memiliki kekayaan. Berbeda dari saat kita belum meraih penghasilan tinggi. [GP]

SHARE