Benci Suara Bising? Jaga Emosi Anda! | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Benci Suara Bising? Jaga Emosi Anda!
Gading Perkasa | Sex & Health

Pernahkah Anda merasa jengkel saat mendengar suara bising atau memekakkan telinga? Seperti ketukan jari-jari di atas meja, ban mobil berdecit karena rem mendadak, atau suara knalpot racing sepeda motor?

suara bising - Male IndonesiaPhoto by @chairulfajar_ on Unsplash

Jika suara bising yang disebutkan di atas benar-benar mengganggu Anda, bisa jadi Anda mengidap penyakit misophoniaMisophonia adalah kondisi neurofisiologis, dimana orang memiliki reaksi negatif yang tidak proporsional terhadap suara tertentu.

Mereka yang berada pada kondisi ini sadar bahwa reaksi mereka terlalu berlebihan terhadap suara. Namun sayangnya, mereka tidak bisa mengendalikan reaksi yang timbul.

Ada berbagai banyak pemicu yang menyebabkan reaksi dari para penderita misophonia. Namun, pemicu paling dasar yakni suara terkait dengan mulut atau makan, bernapas atau suara hidung, dan suara jari atau tangan.

Rasa benci pada suara bising berkembang sejak usia muda dan cenderung memburuk dari waktu ke waktu. Penderita misophonia biasanya semakin bereaksi jika pemicunya disebabkan oleh anggota kelaurganya atau kerabat sendiri ketimbang orang lain.

Reaksi mereka juga terbilang emosional. Biasanya, hal paling umum adalah amarah memuncak, mulai gangguan ringan hingga kemarahan ekstrem. Mereka juga mampu merasakan respon emosional kuat lainnya, seperti kecemasan atau jijik. Termasuk peningkatan tekanan darah dan jantung, berkeringat serta kontraksi otot.

Barangkali Anda beranggapan, bahwa setiap individu, pada tingkat tertentu memiliki respon negatif terhadap beberapa bunyi seperti ketukan tiba-tiba, keras atau jeritan bernada tinggi.

Tapi dalam kasus ini, pengidap misophonia dapat bereaksi terhadap suara yang sebenarnya tidak mengganggu. Seperti berbisik atau bernapas secara lembut. Bahkan suara senyap pun mampu membangkitkan reaksi misofonik - bunyi yang keras.

Para peneliti telah menyelidiki apakah misophonia berkaitan dengan kondisi kejiwaan serta fisik tertentu seperti tinnitus, obsessive compulsive disorder (OCD), gangguan makan atau stres paska trauma. Hasilnya, tidak ada bukti yang menjelaskan gejala misophonia seutuhnya.

Sederhananya, misophonia merupakan kondisi terpisah dan independen dalam diri tiap manusia. Cukup mengabaikan suara-suara yang mengganggu, maka orang tidak akan menderita fobia ini.

Tampaknya mendengarkan suara tertentu bisa memperburuk kondisi penderita misophonia, terutama suara yang memicunya. Jadi, setiap kali Anda berada di dekat sumber suara bising, pilihannya cuma dua. Melawan atau melarikan diri.

Sebuah riset tentang misophonia menemukan, sebanyak 29% penderita menjadi agresif secara verbal ketika mendengar suara pemicu mereka. Sedangkan, 17% lebih mengarahkan agresivitas mereka terhadap objek. 14% penderita secara fisik berperilaku agresif terhadap orang lain.

Umumnya, orang yang terjangkiti misophonia merasakan efek negatifnya pada kehidupan mereka. Sehingga mereka sering menghindari situasi sosial bahkan cenderung merusak hubungan. Celakanya lagi, beberapa penderita berpikir, kelainan ini telah merenggut kehidupan mereka. [GP]

SHARE