Mana yang Lebih Jahat, Konsumsi Gula atau Garam? - Male Indonesia
Mana yang Lebih Jahat, Konsumsi Gula atau Garam?
MALE ID | Sex & Health

Kita sudah sering mendengar bahwa konsumsi gula atau garam berlebihan sangat berbahaya buat kesehatan. Keduanya membawa risiko bagi tubuh.

konsumsi gula - male Indonesiapexels.com

Namun pernahkah Anda bertanya-tanya pada diri sendiri, mana paling berbahaya? Apakah kelebihan konsumsi gula atau garam?

Gula dibutuhkan manusia sebagai sumber karbohidrat sederhana. Karbohidrat berguna menghasilkan kalori atau energi. Energi inilah yang menjalankan bermacam tugas. Seperti fungsi kognitif otak, sistem pencernaan dan pergerakan tubuh. Sementara, zat mineral bernama natrium yang terkandung pada garam diperlukan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Sejatinya, kelebihan asupan apa pun tidak baik bagi kesehatan manusia. Namun tak ada salahnya mencari tahu perbandingan bahaya antara terlalu sering mengonsumsi makanan manis dan makanan asin.

Risiko Kebanyakan Garam
Kekhawatiran terbesar ahli gizi dan tenaga kesehatan seputar risiko kebanyakan garam adalah tekanan darah tinggi (hipertensi). Di dalam tubuh, natrium dalam garam bertugas menahan cairan.

Bila seseorang gemar menyantap makanan asin, semakin banyak cairan menumpuk atau terjebak di pembuluh darah, ginjal, otak dan jantung. Akibatnya, orang tersebut mengalami hipertensi, sekaligus meningkatkan komplikasi fatal seperti serangan jantung dan stroke.

Risiko Kebanyakan Gula
Bahaya yang timbul dari konsumsi gula berlebihan jauh lebih rumit daripada garam. Mengapa demikian? Dampak kebanyakan gula dapat menjalar ke mana-mana, dimana tubuh menyimpannya sebagai cadangan lemak. Sehingga, tubuh menjadi cepat gemuk.

Makan gula terlalu banyak bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung dan kanker. Itu disebabkan peradangan serta penuaan sel-sel lantaran kadar gula berlebih.

Menurut Mike Roussell, ahli gizi dari Pennyslvania State University, konsumsi gula terlalu banyak lebih bahaya dibandingkan konsumsi garam karena ternyata keduanya saling berkaitan. “Kalau kita kebanyakan gula, tubuh akan memproduksi hormon insulin guna mencernanya,” ujar Mike.

Padahal, hormon insulin meningkatkan fungsi natrium demi menahan cairan di ginjal. Hal ini tentu mengarah pada akibat yang sama seperti kebanyakan garam, yakni hipertensi.

Walau gula dan garam dapat memicu bahaya, bukan berarti kita tidak boleh mengonsumsi keduanya sama sekali. Sebab, tubuh membutuhkan gula dan garam dalam batas wajar.

Para ahli menganjurkan, agar orang dewasa membatasi konsumsi gula sebanyak 5-9 sendok teh dan garam sebanyak satu sendok teh sehari. Selain itu, hindari makanan dalam kemasan, yang notabene memiliki kandungan gula dan garam tinggi dibandingkan makanan olahan. [GP]

SHARE