Penyakit yang Membuat Anda Sulit Untuk Bahagia - Male Indonesia
Penyakit yang Membuat Anda Sulit Untuk Bahagia
MALE ID | Sex & Health

Kebahagiaan dan kesenangan umumnya merupakan hal paling dicari oleh setiap orang, hanya saja tidak demikian bagi mereka yang menderita penyakit sulit bahagia. Mengapa itu bisa terjadi?

Male IndonesiaPhoto by Stefan Spassov on Unsplash

Dalam dunia kesehatan, istilah ini disebut cherophobia. Mengacu pada ketakutan berlebih terhadap rasa bahagia. Orang-orang pengidap cherophobia atau penyakit sulit bahagia bakal menghindari berbagai sumber serta hal apa pun yang menyenangkan baginya.

Istilah cherophobia berasal dari bahasa Yunani, chairo yang bermakna suka cita. Jika digabungkan, artinya berubah menjadi sebuah keengganan ikut serta dalam kegiatan yang bisa menimbukan rasa senang.

Berdasarkan laporan yang dimuat Business Insider, sampai sejauh ini istilah cherophobia tidak terdefinisi dengan baik. Bahkan cherophobia tidak masuk dalam edisi terbaru buku panduan kesehatan mental Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Walau demikian, menurut Healthline, beberapa ahli medis mengategorikan cherophobia atau penyakit sulit bahagia sebagai salah satu bentuk fobia. Memang, penderitanya tidak selalu dirundung kesedihan. Hanya saja mereka akan menjauhi setiap kegiatan yang mampu membuat bahagia lantaran berpikir rasa itu justru berdampak buruk terhadap hidup mereka.

Gejala awal yang ditimbulkan sangat beragam. Meliputi ketakutan saat diundang ke ajang pertemuan, menolak ajakan kegiatan menyenangkan, menganggap kebahagiaan bisa mendatangkan petaka, serta menolak kesempatan karena takut perubahan. Seolah-olah kehidupan berjalan terlalu baik.

Selain meyakini bahwa dengan perasaan bahagia akan menghasilkan kekhawatiran, pengidap cherophobia juga percaya, menunjukkan kebahagiaan terang-terangan bakal merugikan keluarga dan teman. Gampangnya, bahagia hanya membuang waktu dan usaha.

“Memang seolah tidak biasa melihat orang takut akan rasa yang baik. Namun bila dilihat dari penyebab seperti hukuman di masa kecil, itu bisa jadi normal,” ujar Carrie Barron, psikiater di Psychology Today.

Barron mencontohkan hal itu sangat normal jika seseorang pernah terjebak di situasi buruk setelah merasa bahagia di masa lalu. Misalnya kehilangan pasangan yang mengalami kecelakaan usai pulang dari pesta bersama. “Cherophobia bisa ditangani dengan mengulik masa lalu penderita. Mereka mesti sanggup menoleransi kebahagiaan tanpa harus berpikiran negatif,” katanya.

Sejumlah terapi psikologi dipercaya dapat menghancurkan hubungan negatif antara kesenangan dan rasa sakit yang dimiliki seseorang, sekaligus mengobati cherophobia. Barangkali perlu waktu agak lama untuk mewujudkannya. Tapi seiring perawatan, penderita cherophobia bisa melewati fase tersebut, mulai hidup tanpa kecemasan dan menikmati kebahagiaan. 

SHARE