Bidadari Metal Penyanyang Hewan, Alissa White-Gluz - Male Indonesia
Bidadari Metal Penyanyang Hewan, Alissa White-Gluz
MALE ID | News

Pecinta musik Metal mana tidak kenal dengan bidadari musik Metal satu ini? Tentu ketika pertama kali melihat sosoknya, para headbanger akan langsung jatuh hati. Tampilan fisik nyaris sempurna, juntaian rambut berwarna biru dipadukan dengan style gahar ketika berada di atas panggung membuat Alissa White Gluz berhasil memikat kaum adam.

bidadari musik metal
Frank Schwichtenberg/wikimedia

Alissa White Gluz lahir di Montreal, Quebec, Kanada tanggal 31 Juli 1985. Ia merupakan seorang penyanyi dan penulis lagu. Aktif dalam bermusik sejak tahun 2004 ketika usianya masih tergolong muda, 19 tahun, Alissa sempat tergabung dalam beberapa band antara lain Delain, Kamelot, The Agonist dan Arch Enemy saat ini.

Karirnya sebagai vokalis lebih banyak ia habiskan bersama band The Agonist yang beraliran Metalcore. Sebuah band yang didirikan Alissa bersama Danny Marino dan Chris Kells di tahun 2004. Beberapa album berhasil diciptakan oleh The Agonist, antara lain Once Only Imagined (2007), Lullabies for the Dormant Mind (2009), The Escape (2011) dan Prisoners (2012). Lagu-lagunya seperti And Their Eulogies Sang Me To Sleep serta Panophobia selalu terngiang di telinga para penggemarnya.

Baca Juga : Pemeran Musik Rock Memberontak

Pada 17 Maret 2014, Alissa memutuskan meninggalkan band yang telah membesarkan namanya di ranah musik MetalIa bergabung dengan band beraliran Melodic Death Metal asal Swedia, Arch Enemy menggantikan Angela Gossow yang ingin fokus mengurus keluarga. Kepindahannya ke Arch Enemy disayangkan oleh berbagai pihak, karena sosok bidadari musik Metal ini sudah sangat melekat bersama The Agonist.

Meski banyak pihak meragukan kehadirannya di Arch Enemy, band asal Swedia ini tetap mampu membuktikan kepada penggemarnya dengan menghasilkan album terbaik. Antara lain War Eternal (2014), Stolen Life (2015), As The Stages Burn(2016) serta Will to Power (2017). Alissa berhasil menjadikan dirinya sebagai icon baru Arch Enemy di mata penggemar.

Kehidupan sehari-hari bidadari musik Metal ini cukup menarik ketika tidak sedang berada di panggung. Ia merupakan seorang vegan, aktivis animal rights dan berjuang akan hak-hak hidup binatang. “Menjadi seorang vegan tidak hanya berhenti mengonsumsi produk hewan. Saya tidak mengenakan produk berbau hewan di pakaian seperti wol, kulit, bulu dan sutra. Selain itu saya tidak menggunakan berbagai kosmetik yang mengandung bahan dasar hewan,” ujar Alissa.

Alissa juga menuturkan, motivasi memperjuangkan hak-hak binatang merupakan suatu keharusan untuk menghindari animal holocaust yang mengerikan. “Saya tidak bisa mendukung sebuah industri yang merugikan hewan, termasuk manusia. Ini bukan berarti saya berseberangan dengan mereka yang melakukannya. Namun justru sebaliknya,” tutur wanita yang kerap terpilih sebagai The Hottest Chick on Metal tersebut.**GP

SHARE