Skandal Facebook! Tunda Dulu Hapus Akun Anda | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Skandal Facebook! Tunda Dulu Hapus Akun Anda
Sopan Sopian | Digital Life

Sorotan terhadap Facebook karena skandal bocornya data pengguna masih terus bergulir. Gerakan menghapus akun Facebook sempat mencuat dan menjadi tranding topic. Tetapi, justru tidak semua orang mengikuti gerakan tersebut, dan merasa biasa-biasa saja.

akun Facebook - male Indonesiapexels.com

Mengapa ada hal yang berbeda, mereka yang resah, dan justru ada yang tenang-tenang saja? Ada persoalan yang menarik dalam hal ini. Khususnya dalam menghapus akun Facebook. Pasalnya, saat pengguna aktif menghapus akun Facebooknya, justru dapat berakibat buruk dalam hal ini adalah kaitannya dengan stres.

The Journal of Social Psychology menerbitkan sebuah studi yang mengeksplorasi hubungan antara Facebook dan stres. Dengan menggunakan 138 pengguna aktif Facebook sebagai kelinci percobaan mereka, para peneliti dari Universitas Queensland menemukan bahwa mereka "berlibur" lima hari dari penggunaan Facebook menurunkan kadar hormon stres kortisol.

Hormon kortisol merupakan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal dan disebut juga sebagai hormon stres. Hormon ini yang menentukan respon Anda terhadap situasi yang menegangkan dan yang bisa membuat stres.

"Peserta dalam penelitian kami menunjukkan peningkatan stres fisiologis, mereka juga melaporkan perasaan rendah kesejahteraan," kata peneliti utama Eric Vanman dalam siaran pers yang diterbitkan futurism. "Orang-orang mengatakan mereka merasa lebih tidak puas dengan hidup mereka dan berharap untuk melanjutkan aktivitas Facebook mereka," lanjut Vanman.

Menurut Vanman juga, meski kadar hormon stres kortisol menurun, peserta tidak memerhatikan hal tersebut. Justru mereka merasa stres sebelum berhenti menggunakan Facebook sementara. Sehingga tidak dimungkrii bahwa dalam beberapa kasus, menggunakan Facebook benar-benar dapat membantu Anda mengatasi stres.

Menurut penelitian jurnal Computers in Human Behavior yang diterbitkan pada Mei 2017. Periset Northwestern University, Renwen Zhang mensurvei 560 mahasiswa universitas yang menggunakan Facebook, dengan fokus pada penggunaan Facebook mereka untuk mengungkapkan informasi tentang peristiwa yang membuat stres dalam hidup mereka.

Zhang menyimpulkan bahwa membuka di Facebook membantu para siswa secara mental mengatasi situasi yang menekan. Ketika siswa berbagi informasi, mereka kemungkinan mendapat dukungan dari teman Facebook mereka dalam bentuk dorongan, saran, atau tawaran bantuan. Ini, pada gilirannya, membuat mereka merasa didukung, lebih puas dengan kehidupan, dan kurang tertekan.

Keluar dari Facebook atau menghapus akun Facebook berarti mengucapkan selamat tinggal pada semua pelukan digital yang dapat membantu Anda "mengucapkan" perpisahan terakhir atau hari-hari buruk di tempat kerja. Apakah Anda juga merasakan hal yang sama? ** (SS)

SHARE