Sosok Pahlawan di Balik Tenggelamnya Kapal Titanic | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Sosok Pahlawan di Balik Tenggelamnya Kapal Titanic
Gading Perkasa | Story

Tenggelamnya kapal Titanic di Samudra Atlantik Utara pada 15 April 1912 menjadi tragedi paling menghebohkan di awal abad 20. Ribuan nyawa melayang dan menyisakan duka mendalam. Namun, di balik peristiwa tersebut, ada sosok pahlawan yang terlupakan.

wikipedia

Sosok yang dimaksud adalah John “Jack” Phillips. Seperti dilansir dari News, ia bekerja sebagai kepala operator nirkabel kapal Titanic. Perannya cukup besar dalam menyelamatkan sebagian nyawa penumpang dan sibuk mencari bantuan ketika Titanic perlahan tenggelam usai menabrak gunung es.

Meski suasana berubah panik paska benturan, Phillips tiada hentinya menembakkan pesan ke seberang laut sampai saat-saat terakhir. Berkat usahanya, sebanyak 705 dari 2.224 penumpang berhasil diselamatkan.

Sejak saat itu, nasib Phillips terus menjadi perdebatan oleh sejumlah pakar dan ilmuwan. Faktanya, ia gagal selamat dan dikenal sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan banyak penumpang Titanic.

Kisah heroiknya memiliki arti besar bagi Lyn Wilton, warga Australia yang masih berhubungan keluarga dengan sang awak kapal. Setelah melacak silsilah keluarga, ditemukan fakta bahwa mereka berdua terikat hubungan saudara dari pihak bapak Lyn. “Sungguh sebuah kejutan besar. Senang mendengarnya,” ujar Lyn.

Titanic dan John Jack Phillips

wikipedia

Sebulan sebelum kapal Titanic berlayar, Phillips baru saja dipromosikan sebagai operator nirkabel senior di bawah perusahaan Marconi. Ia lalu bergabung bersama perusahaan pelayaran White Star Line yang membangun kapal tersebut dan dikirim ke galangan kapal Harland & Wolf di Belfast, Irlandia Utara.

Kala itu, Titanic adalah sebuah mahakarya. Sang pembuat kapal mengklaim, karyanya tidak bisa tenggelam. Perjalanan perdana Titanic dimulai dari Southampton, Inggris, 10 April 1912 menuju New York, Amerika selama empat hari.

Phillips turut merayakan ulang tahunnya yang ke-25 di kapal, dua hari sebelum bencana terjadi. Ia ditempatkan bersama operator nirkabel lain bernama Harold Bride. Mereka memasang peralatan nirkabel yang memungkinkan terjalinnya komunikasi dengan penumpang kapal. Itu juga membantu kapal menghubungi kapal lain demi memperingatkan tanda bahaya.

14 April 1912, Titanic berpapasan dengan gunung es pada pukul 23.30 waktu setempat. Sebelumnya kapal lain telah memberi peringatan, sayangnya Titanic terus melaju. Kapal terakhir, Californian menyuruh tim kapal Titanic mematikan mesin karena dikelilingi oleh bongkahan es.

Andai saja Phillips mengindahkan pesan tersebut dan berbicara kepada nahkoda untuk menghentikan kapal, barangkali kemegahan Titanic masih dapat disaksikan di hari-hari berikutnya. Namun, Phillips tengah bekerja keras mengantar pesan para penumpang yang sempat terhambat akibat sistem di kapal melalui Cape Race rusak.

Di sela-sela kesibukan, Bride menuju ruang operator dan berniat tukar jaga dengan Phillips. Saat itu juga Kapten Smith masuk dan menginstruksikan agar Phillips segera mengirim sinyal bahaya. Alasannya begitu mengerikan, kapal Titanic menabrak gunung es.

Baik Phillips maupun Bride bekerja sama mengirimkan pesan, berusaha meminta bantuan dari kapal lain. Sampai akhirnya Titanic sedikit demi sedikit tenggelam pada 02.17 dan tak terlihat lagi sepenuhnya, tiga menit berselang.

Bride berhasil menyelamatkan diri di atas sekoci yang terbalik. Sementara keberadaan Phillips menjadi pertanyaan. Seorang perwira kedua yang selamat, Charles Lightoller mengatakan bahwa ia melihat Phillips satu perahu dengan Bride, yakni sekoci B.

“Saat kapal berbalik, semua perhitungan dan informasi yang ia berikan tepat. Kami tertolong karenanya, meski ia tak termasuk di dalamnya. Saya sempat melihatnya di atas air, orang-orang berusaha membawanya ke atas sekoci. Namun, semua sudah terlambat,” tulis Lightroller dalam bukunya: Titanic and Other Ships.**GP

SHARE