Jelita Sejuba, Ketegaran Istri Prajurit TNI | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Jelita Sejuba, Ketegaran Istri Prajurit TNI
Sopan Sopian | Review

Diperankan Putri Marino dan Wafda Saifan Lubis, film Jelita Sejuba: Mencintai Ksatria Negara (2018) menjadi film dengan latar belakang kehidupan tentara yang berbeda. Sisi humanis yang berada di belakang tentara itu sendiri yang menjadi kisah menarik dalam film ini.

Di mana Film Jelita Sejuba: Mencintai Ksatria Negara lebih fokus pada perjuangan seorang istri TNI yang menunggu di rumah. Saat menunggu, hanya ada dua pilihan kehawatiran. Kembalinya sang suami dengan selamat, atau kembali hanya nama. Selebihnya adalah ikhlas.

Selain itu, film pertama produksi Drelina Magra Pictures ini menggarap ide cerita dari Krisnawati, seorang produser eksekutif yang melihat langsung di Natuna bagaimana para istri dari suami tentara ini berjuang hidup tanpa kehadiran suami secara intens karena tugas mengabdi kepada negara.

“Film ini adalah kisah cinta yang unik dan tidak biasa. Banyak yang tidak tahu pejuangan hidup para istri prajurit, ketika mereka harus berjarak dengan suami yang sedang bertugas, mereka harus berperan menjadi kepala keluarga. Segala kegelisahan dan kekhawatiran harus dipendam dalam-dalam agar tidak menggoyahkan konsentrasi para suami. Wanita-wanita ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang turut mendarmabaktikan kehidupannya pada bangsa dan negara," tutur Krisnawati.  

Hal ini pula yang membuat sutradara Ray Nayoan merasa tergugah untuk mengangkat kisah ini sebagai film panjang pertamanya. Kehidupan para prajurit ini bukan hanya melulu untuk negara. Mereka juga jatuh cinta. "Betapa luar biasanya wanita-wanita muda yang berani berkomitmen dengan mereka atas nama cinta. Rela menjadi nomor dua, karena prioritas utama para suami adalah bela negara," kata Ray.

Ringkasan
Cerita berawal dari kehidupan tiga sekawan Sharifah (Putri Marino), Hasnah (Abigail), dan Rohani (Mutiara Sofya) setelah lulus Sekolah Menangah Atas (SMA) begitu ceria. Mereka selalu melakukan hal-hal unik dan menyenangkan. Selain itu, kedua teman sekolahnya ini pun membantu membantu Sharifah dalam usaha warung kecil-kecilan.

Warung yang dibagun tidak jauh camp tentara untuk berlatih ini menjadi keuntungan bagi ketiganya, karena mereka bisa setiap hari melihat para tentara beristirhat untuk sekadar ngopi atau makan malam. Berangkat dari sinilah pertemuan antara Sharifah dengan Jaka (Wafda Saifan Lubis), seorang tentara yang akhirnya jatuh cinta kepada Sharifah.

Sayangnya, kisah asmara Sharifah diragukan oleh ayah Sharifah (Yayu Unru). Alasannya, pekerjaan Jaka yang kerap ditugaskan ke luar kota demi bela negara akan menyulitkan untuk saling bersama. Tekad Sharifah sepertinya tidak bisa dipatahkan. Setelah Jaka melamar dan menikahi Sharifah, keduanya pindah ke sebuah perumahan tentara.

Kehidupan Sharifah menjadi seorang istri tentara pun dimulai. Hari demi hari ia jalani. Sampai ia pun akhirnya ditinggalkan tugas oleh Jaka. Berbulan-bulan ia hidup sendiri. Kerinduan Sharifah akan Jaka di kala penantiannya ditinggalkan bertugas, membawa ingatan Sharifah kembali ke masa lalu saat-saat mereka bersama. 

Ketika asmara pertama membuat hati belianya bergelora. Ditambah lagi sibuah hati lahir, tumbuh, dan bertanya kapan Ayahnya yang tak kunjung pulang bisa datang. Meski penantiannya hanya memiliki dua pilihan, suami datang dengan selamat atau datang hanya nama. Namun Sharifah tetap yakin akan cintanya untuk sang Kesatria Pembela Negara itu. Di sinilah, ujian ketegaran Sharifah diuji atas keputusannya di awal. Apakah Sharifah bisa berjuang menghadapi kehidupannya sebagai istri tentara?

Highlights
Film Jelita Sejuba: Mencintai Ksatria Negara tidak hanya menyguhkan alur cerita yang menarik dan mengesankan. Tetapi juga memberikan pemandangan latar cerita yang maha dahsyat dari keindahan Pulau Natuna. Mulai dari laut, tebing, hingga budaya Melayu yang ada di Natuna benar-benar dieksplor dalam film.

Hal menarik lainnya ada ketika, Sharifah dan Jaka mengumpulkan berkas-berkas pernikahannya. Proses yang panjang di dalam kehidupan nyata, di sini ditunjukan dengan adegan cepat yang menarik tanpa memutus rantai proses itu sendiri. Sehingga penonton bisa tahu proses pengurusan berkas pernikahan di lingkungkan TNI. Bahkan adegan kombinasi cut ini menjadi salah satu adegan yang lucu.

Mungkin film ini tidak menarik jika bukan diperankan oleh Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia 2017, Putri Marino. Karena, Putri Marino berperan begitu apik. Perubahan karakter Sharifah mulai dari remaja hingga menjadi seorang istri, dan menjadi ibu, benar-benar terlihat perbedaannya.

Interaksi logat Melayu yang dibawakannya terbilang berhasil. Apalagi ketika sudah berkumpul dengan teman-temannya, kejenakaan mereka membuat penonton terpingkal atas aksi Putri dan teman-temannya itu. 

Wafa sebagai seorang prajurit TNI pun tidak kalah dengan Putri. Ia berhasil membawakan sosok prajurit dengan badan tegap, berwibawa, dan berbahasa Indoensia yang santun dan tertata apik. Meski jarang beradegaan bersama, chemistry Putri dan Wafa terlihat hidup.

Sayangnya, transisi dari satu adegan ke adegan lainnya begitu cepat yang terkesan buru-buru. Sehingga penonton harus bekerja keras untuk mencerna kehidupan keduanya. Kendati seperti itu, emosi penonton tetap terjaga dan berasil mengikuti suasana hati dan ketegaran Sharifah sebagai seorang istri prajurit TNI.

Film bergenre drama, romantis, humor ini juga didukung oleh aktris senior seperti Nena Rosier, Yayu Unru, Yukio, Aldi Maldini (CJR) dan dua aktris remaja pendatang baru yaitu Abigail dan Mutiara. ** (SS)
 

SHARE