Saat Insomnia Sudah Biasa, Ini Jadi Ancaman Baru - Male Indonesia
Saat Insomnia Sudah Biasa, Ini Jadi Ancaman Baru
MALE ID | Sex & Health

Mengalami gangguan tidur di malam hari adalah hal paling menjengkelkan. Pasalnya, waktu istirahat kita berkurang banyak. Padahal, kita harus menjalani rutinitas di kantor pada pagi harinya.

mengalami gangguan tidur - Male IndonesiaPhoto by Asif Aman on Unsplash

Biasanya, jika seseorang mengalami gangguan tidur, itu sering disebut dengan istilah insomnia. Namun kini ada lagi gangguan tidur dimana sifatnya tergolong baru. Seperti apa penyakit tidur yang dimaksud?

Berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Clinical Sleep Medicine menyebutkan, gangguan tidur ini benama orthosomnia. Penderitanya yaitu orang-orang yang senantiasa terobsesi pada hasil pelacak tidur dan kebugaran.

Mereka begitu ingin mendapatkan pengalaman tidur sempurna, sehingga akan berdampak buruk bagi mereka sendiri. “Pemakaian alat pelacak tidur meningkat sangat cepat dan mendorong orang memiliki kesempatan mengetahui bagaimana pola tidur mereka,” ujar salah seorang peneliti, seperti dilansir dari The Independent.

Penyebab yang melandasi peningkatan ini adalah, setiap orang yang mengalami insomnia mencari cara untuk mengobatinya. Mereka mengandalkan data dari pelacak tidur serta mengincar hasil positif.

Sayang seribu sayang, kehadiran alat pelacak tersebut malah berakibat buruk pada orang-orang yang tidak mengalami gangguan tidur. Bahkan, mereka berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka benar-benar menderita gangguan tidur walau faktanya tidak demikian. Alhasil, mereka hanya terobsesi berlebih pada cara memperoleh tidur sempurna.

Guna mempelajari efek dari pelacak tidur, para peneliti melihat pada kasus dimana orang dewasa mencari pengobatan, karena masalah tidur yang didiagnosis sendiri. Sampai saat ini, diperkirakan kasus orthosomnia terjadi pada 10% orang dewasa di Amerika Serikat.

Dalam kasus pertama, pria dewasa mencari bantuan medis demi pengobatan karena merasa kesal dan terkena kesulitan kognitif. Berdasarkan pantauan alat pelacak tidurnya, mereka akan mengalami kelelahan jika tidak bisa tidur sedikitnya delapan jam.

Di semua kasus, sebagian besar orang melacak pola tidur mereka setiap malam. Yang terjadi kemudian yaitu timbul rasa khawatir sepanjang hari. Kendati demikian, belum ditemukan bukti nyata apakah orang yang mengalami gangguan tidur selain kasus orthosomnia juga mendiagnosis diri mereka pribadi.

Menurut National Sleep Foundation, orang dewasa biasanya membutuhkan sekitar tujuh sampai sembilan jam tidur per malam, tergantung pada berbagai faktor dan variasinya berbeda-beda. Namun, apabila bangun dengan perasaan segar dan baik, umumnya seseorang biasanya memiliki tidur malam cukup nyenyak, terlepas dari apa pun hasil yang ditunjukkan alat pelacak tidur.

Melihat fakta di atas, sudah seharusnya kita perlu bersikap bijak dan hati-hati dalam menggunakan alat pelacak tidur. Tujuannya supaya terhindar dari risiko cemas atau obsesi berlebihan karena ingin memperoleh tidur maksimal.**GP

SHARE