Rendy Pandugo, Antara Dunia Maya dan Realitas | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Rendy Pandugo, Antara Dunia Maya dan Realitas
Sopan Sopian | News

Solois Rendy Pandugo memang sedang naik daun, apalagi setelah mengisi soundtrack film yang berkisah perjalanan cinta Ayudia Bing Slamet dan Dito Percussion, Teman Tapi Menikah (2018) yang berjudul Good Hello. Di belantika musik Indonesia, nama Rendy Pandugo memang terbilang pendatang baru.

Rendy Pandugo/FOTO: Gading P/MALE.co.id

Tetapi, Rendy Pandugo sebenarnya telah berkiprah dalam dunia musik sudah sejak lama, yakni pada 2012. Kala itu pria kelahiran Medan ini memulai karirnya lewat sebuah platform distribusi suara secara online, SoundCloud

Keunikan suaranya sering kali dikait-kaitkan dengan penyanyi luar negeri, John Mayer. Bahkan ia disebut-sebut sebagai John Mayer Indonesia. Kendati seperti itu, ia menyatakan memiliki karakter suara sendiri. Walau tidak dipungkiri bahwa John Mayer memang inspirasinya dalam bernyanyi. Ditambah lagi Rendy pun seringkali meng-cover lagu-lagu milik Mayer. 

Kemudian, pada 10 Juni 2016, menjadi awal seorang Rendy Pandugo memperkenalkan diri kepada pecinta musik Indonesia lewat lagu berjudul Sebuah Kisah Klasik. Lagu tersebut merupakan cover dari band ternama asal Indonesia, Sheila on 7. Selain memperkenalkan diri pada publik secara realitas, lewat lagu itu juga Rendy bergabung dengan lebel musik, Sony Music Entertainment Indonesia.

Kemudian, sukses dengan lagu cover milik So7, pada 2 November 2016, Rendy Pandugo merilis singel yang berjudul I Don't Care. Lagu tesebut juga merupakan lagu utama dalam album The Journey yang dirilis pada 2017. Kemudian, ia juga merilis single yang berjudul Silver Rain. 

The Journey, kata Rendy, album yang berisi 11 lagu itu merupakan perjalanan dirinya dalam bermusik selama lima tahun. Mulai dari kafe ke kafe, nge-band, masuk dunia maya, hingga kembali ke realitas lalu mendapatkan perhatian dari label musik ternama. 

Minim Keuangan
Jauh sebelum berstrategi di dunia maya lewat platform SoundCloud, Rendy Pandugo sempat nge-band  bersama Riviera. Kala itu ia masih duduk dibangku kuliah, Universitas Airlangga, Surabaya. Tetapi, karena tidak ada kemajuan dan merasa stuck, Rendy memutuskan hengkang. 

Di akhir masa kuliahnya, Rendy kemudian bertemu dengan teman lama, Iddo Pradananto. Pasca pertemuan itu, mereka pun mendirikan sebuah band, bernama Dida. Di dalam band ini, Rendy didapuk sebagai vokalis. Saat bersama Dida, nampaknya angin segar mengibas karir Rendy dan teman lamanya itu, Dondy Sudjono, produser RAN, memproduseri Dida. 

Pada 2010, Dida hijrah ke Jakarta untuk memproduksi album bersama lebel Universal. Sayangnya, kesuksesan bersama Dida tidak berselang lama. Nama band yang dilahirkannya itu meredup. Alasannya kalah tenar yang kala itu boyband sedang merajalela. 

Barulah, pada 2012, Rendy Pandugo mulai berstrategi sendiri untuk bisa sukses di dunia musik, yakni dengan memanfaatkan media sosial, SoundCloud itu. "Sadar tidak bisa hanya bergantung pada manajemen atau label, saya mencoba berjuang sendiri. Jika nama saya tidak terdengar di pasaran, paling tidak harus kuat di media sosial," tuturnya. 

Followers pun berdatangan. Tetapi, nampaknya angin kesuksesan belum menyambangi karirnya. Tawaran manggung pun tak kerap menyasar. Hingga ia pun sempat kekurangan uang. Bahkan, mengutip laman femina, uang yang ada di dompet Rendy hanya sebesar Rp 30 ribu.

Disaat-saat kritis, akhirnya Rendy dipadati jadwal manggung hingga kehabisan suara. Karena,  sekali manggung Rendy harus menyanyi dalam rentang waktu empat jam. Keberuntungan mungkin sudah mengintainya, saat bernyanyi di kafe, tim A&R Sony Music meliriknya dan kemudian bekerja sama sejak November 2015 hingga kini.

Perlu diketahui, berkat kegigihannya lewat jalur sendiri melalui platform online, SundCloud, Rendy Pandugo sempat berduet dengan Piyu Padi dan menjadi juri Starvoices Indonesia, sebuah ajang pencarian bakat menyanyi berbasis situs jejaring sosial. ** (SS)

SHARE