Kisah Mencekam Pewarta di Daerah Rawan Konflik - Male Indonesia
Kisah Mencekam Pewarta di Daerah Rawan Konflik
MALE ID | Story

Suasana di daerah rawan konflik bisa dibilang sangat mencekam dan berbahaya. Perang antar kubu pemerintah dengan pemberontak, suara tembakan, bom, tank, darah bercucuran, mayat bergelimpangan, dan bangunan-bangunan hancur, semuanya sama sekali bukan pemandangan yang indah untuk dilihat.

Namun, itu tidak berlaku bagi sejumlah orang yang memang mendapat tugas melakukan peliputan di daerah rawan konflik. Mereka wajib mengabadikan berbagai peristiwa yang terjadi supaya bisa segera diberitakan dan diketahui khalayak, meski nyawa menjadi taruhannya.

Tanpa perlu berlama-lama lagi, langsung saja simak kisah nyata para pewarta di daerah rawan konflik yang telah dihimpun oleh tim redaksi MALE Indonesia berikut ini.

Stefanus Teguh Edi Pramono (TEMPO)

Jurnalis TEMPO Stefanus Teguh Edi Pramono atau lebih akrab dipanggil Pram pernah ditugaskan meliput perang saudara di Suriah pada Oktober 2012 lalu. “Saya tiba di Suriah pas Idul Adha. Waktu itu masih terjadi gencatan senjata walau terdengar bunyi tembakan. Setelahnya, konflik memanas. Saya sendiri lebih mengandalkan reportase dan terkadang sampai ke garis depan. Hanya saja pemberontak membatasi akses wartawan di garis depan,” ujar Pram.

Menurut Pram, banyak hal bisa diceritakan ketika dirinya liputan di daerah perang. “Saya berada di salah satu negara yang luar biasa. Warisan budaya sangat tinggi, pasar tradisional Souk Al-Madina, bangunan masjid-masjid tua, dan itu semua hancur,” katanya.

Akibat perang di Suriah, banyak orang kehilangan tempat tinggalnya, anak-anak menjadi korban dan harus berada di tempat pengungsian. Ia bahkan mengaku melihat ada orang mati di depan mata kepalanya sendiri.

Karena akses wartawan dibatasi, Pram memutuskan pergi ke Rumah Sakit Dar Al-Syifa. Ia menyaksikan sebuah mobil tiba dengan kecepatan tinggi, berisi banyak orang mengeluarkan satu laki-laki yang sudah dibungkus selimut. Darah mengucur, sebagian tubuhnya terkoyak dan sekumpulan orang tersebut mengucap takbir.

“Mati di medan perang mungkin hal biasa. Tapi, melihat begitu banyak anak-anak pengungsi kehilangan hidup layak, pendidikan dan rumah itu sangat menyedihkan,” ucap Pram.

Click to Enlarge

Di Suriah, ia ketemu beberapa wartawan asing yang sudah sering ke Libya dan Irak. Ketika tahu Pram baru pertama kali terjun ke peperangan, mereka pun kaget. “Are you crazy? This is the worst war ever,” tutur Pram sembari mengulangi kalimat wartawan asing yang ia temui.

Meski khawatir akan keselamatan dirinya, ia memilih untuk tidak terlalu ambil pusing. Beruntung, para pemberontak sangat welcome. “Mereka memeluk saya, memberikan tasbih dan mukena. Bahkan salah seorang komandan pemberontak ingin menikahkan saya dengan wanita di sana,” katanya.

Meliput daerah rawan konflik adalah sebuah pengalaman luar biasa bagi Pram. Namun, ia tetap memelihara rasa takut agar tidak gegabah mengambil tindakan. “Prinsip pertama yang harus dipegang for every journalist, safety first. Tugas wartawan adalah memberitakan, bukan menjadi berita. Tidak ada berita seharga nyawa,” tuturnya tegas kepada MALE Indonesia.

War is not as good as you think. Meliput perang bukan suatu kebanggaan. Lihatlah bagaimana mereka yang balik dari liputan perang mengalami post traumatic stress disorder,” tuturnya lagi.

Andre Priyanto (CNN Indonesia)

Mantan koresponden TEMPO, Andre Priyanto sedang berada di Budapest, Hungaria saat konflik Bosnia-Yugoslavia di tahun 2000. Situasi di Beograd begitu mencekam, dikepung oleh pasukan pendukung pemerintahan Slobodan Milosevic. Ia mencoba masuk ke pusat kota bersama wartawan asing dari BBC, AFP dan masih banyak lagi.

Setelah melakukan peliputan di Beograd, ia dan wartawan lain bergegas menuju Sarajevo, Bosnia. “Saya dan wartawan senior TVRI, Mas Lilik kebetulan diajak oleh Kapolri saat itu, Suroyo Bimantoro. Kepolisian kita ikut bergabung menjadi pasukan perdamaian di sana,” kata Andre.

Walau sudah lima tahun paska konflik (perjanjian Dayton ditandatangani di tahun 1995), menurut Andre, suasana masih mencekam dimana banyak pasukan NATO berjaga di Sarajevo. “Kita masuk ke kota Sarajevo lewat jalan darat bersama tim penari, gabungan antara orang-orang Indonesia dan Hungaria,” tuturnya mengisahkan.

Click to Enlarge

Selama perjalanan, kondisi jalan sangat gelap. Di daerah tertentu, ia melihat panser NATO di atas bukit. Sesampainya di Sarajevo, ia dibawa ke tempat Letkol Boy Salamuddin (sekarang Sekretaris Utama Lemhanas RI) dan bertemu Petrus Reinhard Golose (sekarang Kapolda Bali).

Konflik Bosnia-Yugoslavia pada dasarnya merupakan perebutan antar tiga etnis. Yaitu Bosnia yang mayoritas muslim, Serbia dan Kroasia. Kubu Serbia menolak bila Bosnia merdeka, maka terjadi pembantaian oleh pemimpin tentara Ratko Mladic di bawah perintah Presiden Republik Srpska, Radovan Karadzic.

“Beberapa tahun setelah perdamaian, kondisi masih mengenaskan. Sarajevo seperti kota mati. Patroli di mana-mana. Gedung dan rumah hancur, bahkan saya juga menyaksikan tempat bekas pembantaian sekitar 8.000 rakyat muslim Bosnia di Srebrenica,” tutur Andre.

Dirinya juga sempat berinteraksi dengan warga sekitar. Mereka terpukul dan trauma akibat pembantaian dan dalam kondisi tidak siap berperang. Apalagi daerah Srebrenica luput dari pengawasan. “Perempuan diperkosa, rumah dan gedung luluh lantak. Itu semua menyebabkan mereka trauma berkepanjangan,” ujarnya kepada MALE Indonesia.

Bagi Andre, ketakutan adalah hal yang manusiawi. Khususnya saat berada di daerah rawan konflik. Hanya saja ia menjalaninya sepenuh hati dan tetap waspada. “Jangan nekat apalagi maju sampai ke garis depan. Karena tujuan kita meliput, bukan perang,” ucap wartawan yang juga pernah meliput konflik antara pemerintah Thailand dan kaus merah di tahun 2011 ini.

Adek Berry (Kantor Berita Agence France-Presse)

Adek Berry adalah pewarta foto kantor berita Agence France-Presse (AFP) yang sudah banyak mengabadikan gambar sebuah tragedi. Sebut saja konflik Ambon, Timor-Timur, Poso, Aceh paska DOM, Pakistan dan Afganistan.

Menurut Adek, hampir semua liputan di daerah rawan konflik pastinya menegangkan. Masing-masing daerah butuh cara adaptasi yang berbeda-beda.

“Liputan paling mengerikan buat saya yaitu konflik di Ambon tahun 1999-2000. Pertama kali ke sana, suasana sudah terpecah. Itu membuat saya sebagai jurnalis tidak bisa berada di tengah. Karena mereka meminta identitas saya dan harus menentukan, saya putih atau merah,” kata Adek.

daerah rawan konflik - Male Indonesia
Foto: Adek Berry

Di tahun 1999 juga, ia berangkat ke Timor-Timur yang kala itu berniat melepaskan diri dari NKRI. Sebelum referendum atau jajak pendapat antara PBB dengan rakyat Timor-Timur dimulai pada 30 Agustus 1999, suasana masih begitu bebas. Beda halnya ketika ia datang untuk kedua kalinya. “Ketegangan terjadi di mana-mana. 2 September, akhirnya saya pergi dari Timor-Timur,” ujarnya mengisahkan.

Sejumlah rangkaian pemboman, seperti di Jakarta dan Tentena, Poso, Sulawesi Tengah, juga tidak luput dari mata lensa Adek Berry. Sama halnya ketika ia meliput banjir besar di daerah yang agak rawan di Provinsi Sindhi, Pakistan pada tahun 2010.

Februari 2011, ia dikirim ke Afganistan. Dua kali liputan embedded bersama US Marine, dan satu kali liputan independen. “Saya ditempatkan di selatan Afganistan, tepatnya di Provinsi Helmand. Tempat ini sangat menyeramkan karena banyak roadside bomb ditanam di jalan, sniper di mana-mana dan bom bunuh diri,” ucapnya.

Ketakutan sudah tentu dirasakannya selama bertugas. Namun itu tidak menghalangi niatnya dalam mengabadikan gambar. Ia melakukan riset terlebih dahulu, termasuk bertanya kepada para seniornya mengenai apa saja yang bisa ia lakukan di daerah tujuan.

Ia juga berpesan, pentingnya mengikuti hostile environment training bagi setiap wartawan yang ditugaskan ke daerah rawan. Hostile environment training adalah pelatihan di area konflik atau disaster, meliputi simulasi tindakan yang harus dilakukan, kerja sama tim hingga menyeberangi wilayah pertikaian.

“Keselamatan menjadi hal utama, begitu pula kesehatan. Contohnya di Afganistan, saya olahraga lari di area kamp. Jangan lupa, cuaca berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Otomatis kita harus bawa banyak pakaian tebal karena kondisi cuaca di sana belum tentu sama dengan Indonesia,” tuturnya sembari mengakhiri wawancara bersama MALE Indonesia.**GP

SHARE