Keunikan Cerita Hidup Suku Maori di New Zealand - Male Indonesia
Keunikan Cerita Hidup Suku Maori di New Zealand
MALE ID | Story

Suku Maori, penduduk asli Aotearoa New Zealand ini memiliki budaya yang unik. Mungkin bagi sebagian orang di Indonesia, mengenal suku ini setelah ramai kunjungan Presiden Jokowi ke New Zealand. Presiden Joko Widodo menikmati upacara penyambutan di mana presiden bertukar salam hongi dengan para tetua Maori.

Kebudayaan Suku Maori di New Zealand merupakan bagian integral dari kehidupan Kiwi, sebutan untuk orang-orang New Zealand, yang bisa membuat pengalaman berkunjung ke New Zealand semakin menyenangkan dan unik bagi pengunjung. Berikut adalah beberapa hal unik cerita hidup Suku Maori.

Musik, Tari, dan Seni


Tampilan budaya Suku Maori yang paling terkenal adalah haka, seruan saat perang tradisional yang dipopulerkan oleh All Blacks, tim rugbi New Zealand, saat mereka melakukan tantangan sebelum pertandingan rugbi. Haka menampilkan wajah garang yang datang dari rasa bangga, serta sebagai simbol kekuatan dan persatuan suatu suku. Menyaksikan langsung haka akan membuat bulu kuduk merinding saking menakjubkannya.

Keterampilan mengukir dan menenun datang dari kebutuhan gaya hidup yang praktis oleh suku tradisional Maori. Tidak ada bahasa tertulis untuk Suku Maori, sehingga sejarah dan whakapapa (silsilah keluarga) diceritakan melalui whakairo (ukiran) di marae (tempat pertemuan Maori). Ukiran di depan whare whakairo (rumah pertemuan yang penuh dengan ukiran) misalnya, menceritakan sejarah marae dan leluhur marae yang merupakan sosok di puncak.

Sambutan Powhiri


Powhiri, sambutan resmi dan tampilan keramahan Maori (Manaakitanga), juga merupakan sisi unik budaya Maori. Powhiri  biasanya dimulai dengan wero (tantangan) di luar marae. Seorang pejuang dari tangata whenua (tuan rumah) akan menantang manuhiri (tamu), untuk melihat apakah mereka adalah teman atau musuh.

Dia mungkin membawa taiaha (senjata yang menyerupai tombak), dan akan meletakkan rautapu (tanda), seringkali berupa cabang kecil untuk diambil para pengunjung sebagai simbol bahwa mereka datang dengan damai. Karanga (panggilan) kemudian dilakukan, diikuti oleh pidato dan nyanyian. Untuk mengakhiri proses formal, pengunjung dan tuan rumah akan saling menyapa dengan hongi, seremonial menyentuh hidung, kemudian diikuti dengan pembagian kai (makanan) di antara orang-orang yang terlibat.

Pesta Tradisional Maori

FOTO: Andy king50/wikipedia

Secara tradisional, orang-orang Suku Maori memasak di lubang bawah tanah yang disebut Hangi. Makanan Hangi awalnya dibungkus dengan daun rami, tetapi Hangi  yang lebih modern biasanya mengganti dedaunan dengan kain, aluminium foil, dan keranjang kawat. Suku Maori percaya bahwa bumi adalah sumber kehidupan, di mana dari tanah datang makanan dan makanan yang sama dimasak di dalam bumi.

Proses pembuatan hidangan Hangi  adalah dengan meletakkan keranjang kawat yang berisi makanan pada batu panas di dasar lubang. Makanan tersebut ditutupi dengan kain basah dan gundukan tanah agar panas dapat menjalar dengan cepat dari batu ke makanan. Makanan Hangi  dibiarkan di lubang selama tiga hingga empat jam, tergantung jumlah makanan yang dimasak.

Hidangan tradisional Hangi  biasanya menggunakan ikan, ayam, dan tanaman umbi sebagai bahan utama, namun kini dapat ditambah dengan aneka daging, kentang, labu, kol, dan berbagai macam bahan isian lainnya. Hasil dari proses masak yang panjang ini adalah daging yang empuk dan sayuran yang lezat, di mana semuanya beraromakan asap.

Mengukir Warisan pada Kulit


Ta moko adalah seni tato Suku Maori. Ta moko merupakan sebuah pernyataan identitas dan peninggalan budaya yang unik. Seni tersebut mencerminkan whakapapa (silsilah keluarga) dan sejarah pribadi seseorang. Pada zaman dahulu, Ta moko memiliki makna penting untuk mengetahui status sosial, pengetahuan, kemampuan, serta kelayakan seseorang untuk menikah. 

Para pria biasanya mengenakan moko di wajah, bokong, dan paha mereka, sementara para wanita mengenakannya pada bibir dan dagu mereka. Moko juga dapat dikenakan pada bagian tubuh yang lain, termasuk dahi, leher, punggung, perut, dan betis.

Kini moko memiliki makna kebangkitan dalam bentuk tradisional dan modern. Apabila desain Suku Maori digunakan untuk alasan estetika tanpa adanya makna tradisional, maka hal tersebut dinamakan dengan kirituhi atau seni kulit. ** (SS)

SHARE