Nonton TV Penyebab Kanker Usus, Kok bisa? - Male Indonesia
Nonton TV Penyebab Kanker Usus, Kok bisa?
MALE ID | Sex & Health

Terlalu lama menonton televisi, semisal lebih dari empat jam per harinya tentu bukan kebiasaan yang baik. Gaya hidup kurang bergerak membuat kita rentan terkena berbagai penyakit, salah satunya kanker usus besar yang mengancam kaum adam. Benarkah?

Male IndonesiaPhoto by Gustavo Ferreira on Unsplash

Sebuah tim peneliti dari Inggris telah meneliti konsistensi hubungan aktivitas fisik dan kanker usus. Mereka mengambil sampel penelitian sebanyak 430.000 pria dan wanita. Hasilnya, gaya hidup kurang bergerak seperti menonton tv, atau berada di depan layar komputer/laptop terlalu lama dikaitkan dengan 35% peningkatan risiko kanker usus pada pria. Anehnya, hal ini sama sekali tidak berlaku bagi wanita.

“Menonton televisi bisa terkait perilaku lain. Contohnya merokok, minum dan camilan lebih banyak. Semua itu meningkatkan risiko kanker usus besar,” kata Dr. Neil Murphy selaku ketua penelitian.

Jarang beraktivitas fisik juga memicu penambahan berat badan dan penumpukan lemak di dalam tubuh. “Kelebihan lemak tubuh dapat memengaruhi kadar hormon beserta zat kimia lain yang menaikkan risiko kanker usus,” kata Neil yang penelitiannya dipublikasikan di British Journal of Cancer.

Sedangkan Emma Shields dari Cancer Research UK mengatakan, kanker usus biasanya berawal dari usus besar atau bagian rektum. Penderita kanker usus di dunia cukup tinggi. “Jika kanker usus dideteksi sejak dini, lebih dari 99% orang akan selamat. Paling tidak, mereka mampu bertahan hingga lima tahun,” ujar Emma.

Sekadar informasi, berdasarkan data Komite Penanggulangan Kanker Nasional Kemenkes RI pada 2017, jumlah penderita kanker usus di Indonesia mencapai 12,8 per 100.000 penduduk dewasa. Atau sekitar 9,5% dari seluruh kasus kanker.

Kendati demikian, menurut Paul Pharoah, profesor epidemiologi kanker University of Cambridge, bukan menonton televisi yang menyebabkan kanker, melainkan durasi waktunya. “Temuan dari penelitian ini bukanlah hal baru. Sudah lama diketahui bahwa aktivitas fisik mampu menurunkan risiko kanker usus besar, dan penelitian berfungsi menegaskan hubungan keduanya,” tutur Paul.

Salah satu hal menarik dari hasil studi Neil, menonton televisi rupanya memberi pengaruh lebih besar pada kejadian kanker. Itu disebabkan kita melihat berbagai iklan makanan tidak sehat di televisi.

Para peneliti mengungkap, tayangan iklan membuat pria cenderung mengonsumsi minuman ringan dan 65% lebih besar kemungkinannya menyantap makanan cepat saji. Sehingga, berat badan tentu bertambah.

“Sangat menarik bahwa hanya pria yang memiliki risiko kanker usus besar dari kebiasaan nonton televisi. Riset tidak melihat secara langsung, tapi bisa juga karena pria merokok, konsumsi minuman ringan dan makanan cepat saji berlebih dibandingkan wanita,” ucap Neil.**GP

SHARE