Royalti dan Fenomena Pembajakan di Mata Anji - Male Indonesia
Royalti dan Fenomena Pembajakan di Mata Anji
MALE ID | News

Erdian Aji Prihartanto atau biasa dikenal dengan Anji atau juga Manji ini memang tengah fokus dengan karir solonya setelah hengkang sebagai vokalis Drive. Lagu-lagu sepeti Dia, Kekasih Terhebat, dan Bidadari Tak Bersayap sukses menghiasi belantika musik Indonesia.

Meski begitu, ketika berbicara soal musik, Anji mengaku musik Indonesia belum bisa bersaing dengan dengan musik luar negeri, namun menurutnya hal itu bisa menuju ke arah kesuksesan.  "Belumnya begini, banyak musisi Indonesia yang mencoba go internasional mencoba jadi musisi-musisi internasional, itu di satu sisi. Tapi di sisi lainnya tidak ada batas," tutur pria kelahiran Jakarta itu.

Karena, kata Anji, orang luar negeri pun sudah bisa menikmati lagu Indonesia. Salah satu contohnya adalah ketika orang Korea meng-cover atau menyanyikan ulang lagu-lagu musisi Indonesia. 

Berbicara meng-cover lagu yang kini berseliweran di jagat maya (Youtube), tidak bisa lepas dari hak cipta yang melekat di setiap musisi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 menempatkan hak cipta sebagai “hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Hakikatnya, hak cipta merupakan hak menyalin suatu ciptaan yang berlaku pada berbagai karya seni atau cipta.”

Melalui hak cipta, muncullah hak moral dan hak ekonomi. Hak moral diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UUHC 2014 yang meliputi hak untuk tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan nama kreator pada salinan sehubungan dengan pemakaian ciptaannya untuk umum, menggunakan nama samarannya, sampai mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi, pemotongan, modifikasi, dan hal-hal lain yang bersifat merugikan kehormatan atau reputasi sang kreator.

Sedangkan hak ekonomi yang termaktub dalam Pasal 8 UUHC meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuk, adaptasi, aransemen, transformasi, pendistribusian, hingga penyiaran atas ciptaannya.

Jika mengacu pada undang-undang, buda cover lagu tentu menyalahi Undang-Undang Hak Cipta dan masuk dalam ranah pembajakan. Selain itu, bentuk pemjakan lainnya adalah mengunduh lagu dari platfrom yang memang tidak dari paltform legal download. Menanggapi hal tersebut, Anji mengaku malas menanggapi pembajakan.

"Saya merupakan musisi yang sudah agak males ngomongin pembajakan. Karena yang terjadi di dunia, ya khususnya di Indonesia itu hal yang biasa, dan sudah dipahami," ucapnya.

Untuk langkah konkritnya sendiri, menurut Anji bukan lagi berbicara soal hapus bajakan, karena itu sudah sulit untuk diterapkan. Tetapi berpikir bagaimana mengalahkan para pembajak. "Sekarang gini deh kaya ada Joox, Spotify, iTunes, Streaming, dengan harga yang murah kita bisa mendapatkan jutaan ribuan lagu legal," ucap Anji.

Royalti Musisi
Pria yang memiliki bisnis kuliner ini, juga menyadari bahwa royalti atau pemasukan bagi musisi di era digital seperti sekarang ini tidak seperti dahuli. Menurutnya, ketika masih secara konvensional, musisi bisa mendapatkan royalti dari bentuk fisik, manggung, brandils misalnya iklan dan lain-lain. 

"Kalau sekarang fisik sudah enggak, dan penjualan full track download digital juga kecil. Ya palingan dari panggung dan brandils (iklan, platform-platform digital)," ujar pria yang pernah mengikuti audisi Indonesia Idol 2004 ini. 

Disamping itu, selain budaya cover yang meraja lela, terkadang ada pula penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu musisi yang sudah tidak lagi terdengar namanya saat konser. Hal ini juga menjadi perhatian Anji, yang akhirnya memang berkaitan dengan royalti dan publishing.

"Misalnya saya bawain lagu Bengawan Solo. Lagu itu sudah dibawakan beribu kali, tapi apakah pencipta dan penulisnya dapet? Nggak," tegas Anji. "Pemerintah harus memperbaiki sistem itu, pencitpa lagu dan mereka seharusnya dapat hak," lanjutnya. 

Maka dari itu, dirinya sedang memperjuangkan hal tersebut. Di mana, royalti harus diperhatikan. Sehingga, ketika lagu telah jadi, penulisnya bisa hidup panjang. Menurutnya tidak adil apa yang terjadi pada musis-musisi lama. 

"Seharusnya karya lama mereka bisa bekerja, karena kan musisi lama tidak selamanya dipakai kaya sekarang ini. Karena tidak semua musisi akan dipakai. Jadi memang harus lagunya untuk dihargai," kata Anji. ** (SS)


 

SHARE