Apakah Sudah Waktunya Style Formal Tanpa Dasi? - Male Indonesia
Apakah Sudah Waktunya Style Formal Tanpa Dasi?
MALE ID | Looks

Nampaknya berpakaian bisnis santai memang sedang digandrungi di era digital, namun apakah Anda setuju jika gaya formal diterapkan yang artinya style formal tanpa dasi? Mulai dari David Koch, Mark Zuckerberg, hingga mantan presiden Amerika pun sempat menanggalkan dasinya saat berpidato di Ohio.

tanpa dasi - male IndonesiaPixabay.com

Ketika Anda melihat para CEO muda sekarang, mereka hampir tanpa dasi dalam berpakaian ketika pergi ke kantor. Kecuali mereka bertemu dengan petinggi negara. Hal ini tentu mejadi tantangan tersendiri bagi banyak CEO, politisi, presenter telvisi, dan eksekutif muda lainnya.

Tampilan formal tanpa dasi perlahan memang berkembang seiring industri TI berkembang. Perkantoran sedikit melonggarkan untuk pakaian pekerjanya, di mana pada hari ini memintingkan kepribadian dan kecerdasannya tanpa menjatuhnya style yang memang harus sopan namun tetap berkesan.

Merujuk ke belakang, dasi memang sempat melambangkan pemisah antara pekerja kantoran dengan rumahan. Ketidakhadiran dasi di leher hari ini menunjukan pria merasa nyaman dengan dirinya sendiri, seperti sedang duduk santai di tempat kerja.

Dr Helen Caple, seorang dosen media, komunikasi dan jurnalisme di Universitas NSW mengatakan bahwa, ketika melihat presenter televisi membacakan berita tanpa harus mengenakan dasi, nampak lebih dekat, seolah-olah semua pada tingkat yang sama, membawa hubungan antara presenter dan penonton sedikit lebih dekat. 

"Anda masih bisa tampil cerdas dan formal tanpa mengenakan dasi. Saya tidak akan mengasosiasikan dasi dengan menjadi simbol otoritas dan kontrol," katanya di laman executivestyle. "Ketiadaannya tidak mengurangi otoritas itu, tapi saya akan memberi tahu mereka mengenakan kaus," tambah Caple.

Profesor Theo van Leeuwen, Dekan Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial di Universitas Teknologi Sydney, mengatakan bahwa tidak adanya dasi sebenarnya adalah seragam baru, bukan yang memisahkan diri dari yang lama, dan tujuannya adalah untuk menarik kita masuk.

Van Leeuwen mengatakan berita TV semakin dipersonalisasi dengan nada resmi yang santai, namun hubungan dengan penonton tidak berubah. "Pembaca berita masih menjadi pembaca berita dan membawa serta otoritas berita tersebut," kata van Leeuwen.

Leeweun kembali mengatakan bahwa ketika kerah terbuka adalah pertunjukan kekuasaan di mana CEO "membuang" ikatan (dasi) karena mereka bisa. Artinya, CEO memang bisa melakukan apapun. Berbeda dengan pekerja yang ada dibawahnya. "Anda mungkin punya pilihan, tapi ini membuat banyak kebingungan karena jika Anda memiliki peran lebih rendah, Anda mungkin harus mengenakan seragam (formal berdasi)," tuturnya.

Atas permintaan lebih dari 60 klien, para pekerja di Adelaide sales and marketing consultancy Patrick Baker and Associates sekarang bertemu dengan klien tanpa mengenakan dasi dengan mengenakan jaket mereka disandang di atas kursi saat bertemu.

Namun, jika di Indonesia, hal ini masih menjadi hal tabu, ada bebrapa memang yang telah menanggalkan dasi, ada pula untuk menghormati kerapihan dan peraturan perkantoran, tetap mengenakan dasi. Hal ini perkataan Leewun benar adanya. 

Tetapi, itu semua bisa saja terjadi jika CEO mengubah dan membenarkan atau menyetujui dengan pakaian kerja formal tidak harus mengenakan dasi. Menurut Anda, setuju atau tidak?  Jika Anda ingin tampil terbaik, dasi tetap terlihat fantastis. ** (SS)

SHARE