Hoax, Sejarah Sejati Berita Palsu yang Kembali | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Hoax, Sejarah Sejati Berita Palsu yang Kembali
Sopan Sopian | Story

Berita palsu atau hoax merupakan kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran yang otentik. Dalam membedakan tipuan ini bisa melalui pengamatan dan penghakiman. Sehinggga jelas, jika tidak teliti, pembaca berita palsu akan benar-benar tertipu atas kebohongan yang disengaja.

berita palsu - Male Indonesiapexels.com

Meski begitu, ada beberapa berita palsu atau hoax yang justru diterima, seperti rumor, urban legend, dan peristiwa april mop yang dibuat untuk sebuah lelucon. Meski telah ada sejak ribuah tahun, salah satu tipuan paling awal yang tercatat dalam sejarah adalah Drummer Tedworth pada tahun 1661.

drummer Tedworth adalah kasus dugaan poltergeist (istilah mistis dalam dunia paranormal) di West Country of England oleh Joseph Glanvill. Kisahnya pada tahun itu, seorang pemilik tanah setempat, John Mompesson, pemilik sebuah rumah di kota Tedworth (sekarang bernama Tidworth, di Wiltshire), mengajukan tuntutan hukum terhadap seorang drummer veteran tanpa upah William Drury, yang dia tuduh mengumpulkan uang dengan kepura-puraan.

Setelah dia memenangkan keputusan melawan drummer, drum itu diserahkan ke Mompesson oleh petugas pengadilan setempat. Mompesson kemudian menemukan rumahnya diganggu oleh suara drum nokturnal. Diduga bahwa drummer telah membawa malapetaka ini pada kepala Mompesson dengan sihir.

Joseph Glanvill, yang mengunjungi rumah tersebut pada tahun 1663, mengaku pernah mendengar suara menggaruk yang aneh di bawah tempat tidur di kamar anak-anak. Pada tahun 1668, pengalamannya itu dibukukan dan diterbitkan dengan judul Saducismus Triumphatus (1681).

Charles Mackay, dalam Extraordinary Popular Delusions and the Madness of Crowds (1841), menganggap fenomena tersebut adalah palsu yang dihasilkan oleh sekutu drummer agar Mompesson tertipu. Amos Norton Craft, seorang Methodist Amerika dan penulis skeptis awal (1881), juga mengemukakan bahwa fenomena tersebut merupakan hasil tipu daya.

Berita Palsu Pertama di Media
Perlu ditekankan bahwa, komunikasi hoax (berita palsu) dapat dilakukan dengan cara apapun sehingga cerita fiksi dapat dikomunikasikan kepada orang, dari mulut ke mulut, melalui kata-kata tercetak di atas kertas, digital, dan sebagainya. Teknologi komunikasi yang telah maju seperti sekarang ini, kecepatan penyebaran hoax juga telah berkembang. 

Berbeda ketika rumor tentang hantu drumer, menyebar dari mulut ke mulut, masih berdampak pada daerah yang relatif kecil pada awalnya, kemudian tumbuh secara bertahap, melalui surat berantai. Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 menurunkan biaya sebuah buku dan pamflet yang diproduksi secara massal, yang kala itu dibuat untuk menyebarkan beria palsu. Dan percetakan rotary pada abad ke-19 mengurangi harga lebih jauh. 

Selama abad ke-20, tipuan tersebut menemukan pasar massal dalam bentuk tabloid yang disebar di supermarket, dan pada abad ke-21 ada situs berita palsu yang menyebarkan tipuan melalui situs jejaring sosial alias media sosial (selain penggunaan email untuk jenis surat rantai modern).

Salah satu tipuan media yang paling awal direkam adalah almanak palsu yang diterbitkan oleh Jonathan Swift dengan nama samaran, Ishak Bickerstaff pada tahun 1708. Alamanak merupakan publikasi tahunan yang mencakup informasi seperti ramalan cuaca, tanggal penanaman petani, tabel pasang surut air laut, dan data tabular lainnya yang sering diatur menurut kalender.

Swift meramalkan kematian John Partridge, salah satu astrolog terkemuka di Inggris saat itu, di almanak itu ia juga kemudian mengeluarkan sebuah eleggan/elegy (sebuah puisi refleksi serius, yang biasanya merupakan ratapan bagi orang mati). Sontak Reputasi Partridge rusak akibatnya dan almanak astrologinya tidak diterbitkan untuk enam tahun ke depan.

Sejarah yang Muncul Kembali
Jauh setelah itu, Tom Standage, seorang jurnalis sains dan teknologi untuk The Guardian sekaligus sebagai editor bisnis di The Economist mebuka arsipnya, di mana pada tahun 1835, ada sebuah berita yang benar-benar menghebohkan, dan orang-orang berbondong-bondong membeli edisi New York Sun setiap hari. Sehingga peredarannya melonjak dari 8.000 menjadi lebih dari 19.000 eksemplar, menyalip Times of London untuk menjadi surat kabar terlaris di dunia.

Berita itu adalah ada kelelawar raksasa yang menghabiskan hari-hari mengumpulkan buah dan mengadakan percakapan seperti animasi. Percakapan itu bersama makhluk seperti kambing dengan kulit biru, di sebuah kuil yang terbuat dari safir yang dipoles. Inilah pemandangan yang menakjubkan yang disaksikan oleh John Herschel, seorang astronom Inggris terkemuka, pada 1835 itu.

Ternayata, laporan fantastis itu sebenarnya dibuat oleh Richard Adams Locke, editor the Sun. Herschel melakukan pengamatan astronomi yang asli di Afrika Selatan. Tapi Locke tahu butuh waktu berbulan-bulan agar penipuannya terungkap, karena satu-satunya alat komunikasi dengan Cape adalah melalui surat. 

Semuanya adalah tipuan raksasa atau yang disebut hoax "berita palsu". Genesis klasik ini menyiratkan pro dan kontra dari berita palsu sebagai strategi komersial dan membantu menjelaskan mengapa hal itu muncul kembali di era internet.

Tom Standage mengungkapkan bahwa mesin pencari dan media sosial telah menghancurkan kumpulan berita (fakta) dari surat kabar. Facebook menunjukkan aliran item tanpa henti dari seluruh penjuru web. 

Ketika orang mengklik judul yang menarik dan orang yang mengklik berita itu mungkin sampai di situs berita palsu, yang disiapkan oleh propagandis politik atau remaja di Macedonia untuk menarik lalu lintas dan menghasilkan pendapatan iklan. Pedagang cerita palsu tidak memiliki reputasi untuk mempertahankan dan tidak ada insentif untuk tetap jujur, mereka hanya tertarik pada klik. 

Menurutnya juga, berkat distribusi internet, kabar palsu kembali menjadi bisnis yang menguntungkan. "Pembungaan" cerita palsu yang beredar seperti sekarang ini mengotori kepercayaan pada media pada umumnya, dan membuatnya lebih mudah bagi para politisi yang tidak bermoral untuk menjajakan setengah kebenaran.

Organisasi media dan perusahaan teknologi berjuang untuk menentukan cara terbaik untuk meresponsnya. Mungkin pemeriksaan fakta atau literasi media yang lebih jelas akan membantu. Tapi yang jelas adalah bahwa sebuah mekanisme yang memuat berita palsu selama hampir dua abad, kumpulan cerita dari sebuah organisasi yang memiliki reputasi untuk dilindungi, tidak lagi berfungsi. ** (SS)

SHARE