Olahraga Luge, Meluncur dengan Bertaruh Nyawa | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Olahraga Luge, Meluncur dengan Bertaruh Nyawa
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Olahraga luge, secara kasat mata memang seperti bermain skateboard namun berbeda. Karena luge tidak menaiki papan pesluncur dengan kaki, melainkan berbaring dan meluncur dari ketinggian tertentu dengan kereta salju.

FOTO: Sam Churchill/flickr

Mengutip laman wikipedia, olahraga luge ini merupakan cabang olahraga yang dikompetisikan pada Olimpiade Musim Dingin, untuk nomor tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putra/putri, atau ganda campuran. Olahraga ini atlet akan berbaring, kedua belah tangan atlet berpegangan pada pegangan di sisi kiri dan kanan badan kereta luncur. kedua belah kaki berada di depan.

Kereta dikemudikan dengan menekan bagian alas luncur dengan betis atau sedikit menekan sandaran dengan tubuh bagian atas dan bahu. Panjang sirkuitnya sendiri di atas 1000 m (putra) atau 750 m (putri) dengan kecepatan hingga 135 km/jam. Kompetisi olahraga luge sendiri di tahun 2018 diadakan pada Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018. Olahraga ini dinilai berdasarkan kecepatan waktu meluncur atlet.

Istilah luge pertama kali dicatat dalam buku tahun 1905. Dalam bahasa Perancis dialek Savoy/Swiss, luge berarti kereta luncur salju ukuran kecil, kemungkinan asalnya dari bahasa Gaulia, dan memiliki akar kata yang sama dengan sled dalam bahasa Inggris.

Olahraga luge ini memiliki kembaran yang hampir serupa, yakni bobsleigh, dan skeleton. Persamaannya sama-sama dilombakan pada olahraga musim dingin dan sama-sama meluncur di atas ice track dengan kereta luncur salju.

Kemudian perbedaannya, luge merupakan satu-satunya cabang olahraga yang naik papan luncur sejak garis start. Sementara pada bobsleigh dan skeleton, atlet harus mengambil ancang-ancang dengan berlari sebelum menaiki kereta luncurnya.

Selain itu, perbedaan lainnya adalah bobsleigh merupakan olahraga tim lebih dari dua orang, meluncur pada satu kereta luncur yang sama. Sementara luge hanya terdiri dari nomor individu dan pasangan dan skeleton hanya terdiri dari nomor individu.

FOTO: archive.defense.gov

Kemenangan yang Sulit Diprediksi
Olahraga luge ini benar-benar menguji nyali sang atlet, karena mengandalkan gaya gravitasi bumi untuk bisa meluncur. Sehingga kecepatan yang dihasilkan juga sangat tinggi. Kecepatan yang tinggi dan gaya gravitasi tersebut membuat tubuh menjadi sulit dikontrol. Sedikit gerakan tubuh saja akan membuat dampak yang signifikan. Oleh sebab itulah, para atlet luge cenderung diam dan meluruskan tubuhnya ketika berseluncur.

Menurut Adventure.howstuffworks.com, dalam permainan olahraga ini berat badan menjadi keunggulan para atlet untuk meningkatkan kecepatan seluncurnya. Oleh sebab itulah, peraturan luge mengharuskan berat minimal atlet putra minimal 90 kg dan atlet putri minimal 75 kg.

Ketika mendekati garis finis, luge menjadi salah satu cabang olahraga yang paling sulit diprediksi kemenangannya. Alasannya adalah karena selisih waktu antara satu atlet dengan atlet lainnya sangat tipis. Selisih tersebut bahkan hanya terpaut koma detik saja.

Bertaruh Nyawa
Jika menarik sejarahnya, luge, skeleton dan bobsled sama-sama berkembang dari kota spa St. Moritz di Swiss pada pertengahan hingga akhir abad ke-19. Perkembangan ketiga cabang olahraga ini terjadi setelah pengusaha hotel Caspar Badrutt sukses mendatangkan wisatawan ke St. Moritz. Konsep resor musim dingin yang dijualnya menawarkan hotel, makanan, dan kegiatan olahraga. 

Kompetisi luge tingkat dunia yang pertama diadakan pada tahun 1883 di Swiss. Pada tahun 1913, Federasi Olahraga Kereta Salju Internasional (Internationale Schlittensportverband) didirikan di Dresden, Jerman. Setelah olahraga luge diputuskan sebagai pengganti skeleton di Olimpiade Musim Dingin, Kejuaraan Dunia Luge yang pertama diadakan di Oslo, Norwegia pada tahun 1955. Federasi Luge Internasional (FIL) didirikan dua tahun kemudian pada tahun 1957.

Luge mulai dijadikan cabang olahraga Olimpiade pada Olimpiade Musim Dingin 1964 di Innsbruck, Austria. Mengingat lintasan es yang panjang, tentu atlet yang meluncur dengan berbaring akan merasakan tubuh serasa dilempar ke udara. Sehingga atlet juga tidak sedikit yang terlempar ke luar lintasan, menderita cedera parah, hingga menyebabkan kematian.

Sepanjang jalannya cabang olahraga ini, telah dua kali memakan korban tewas di Olimpiade. Keduanya tewas ketika sedang latihan. Korban tewas pertama adalah Kazimierz Kay-Skrzypeski, atlet putra dari Inggris pada Olimpiade Musim Dingin 1964. Korban tewas kedua adalah Nodar Kumaritashvili, atlet putra dari Georgia pada Olimpiade Musim Dingin 2010. 

Beberapa jam setelah insiden 2010 itu, Federasi Luge Internasional menyimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh kesalahan pengemudi dan bukan kesalahan trek. Padahal, pada spekulasi awal, trek luge saat itu adalah yang tercepat di dunia. Atas kejadian itu, penambahan dinding pengaman dilakukan sebelum trek dibuka kembali. Sehingga jelas, olahraga ini membutuhkan nyali dan siap bertaruh nyawa bagi para atletnya. ** (SS)

SHARE