Duel Senjata, Jalan Pintas Membela Harga Diri | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Duel Senjata, Jalan Pintas Membela Harga Diri
Gading Perkasa | Story

Pada abad ke-17, orang-orang di belahan dunia barat (Eropa dan Amerika) punya cara khusus untuk menyelesaikan masalah, yaitu lewat duel senjata antar dua orang yang tengah bertikai. Anda pasti pernah menyaksikannya di film-film koboi zaman dulu, dimana akibatnya salah satu orang terluka, tewas dan bahkan bisa jadi dua-duanya meregang nyawa.


wikipedia

Duel senjata sejatinya bukanlah barang baru. Pasalnya, jauh sebelum fenomena itu muncul, duel 1 on 1 sudah dikenal masyarakat. Senjatanya dapat berupa tangan kosong, pedang dan pistol.

Dalam peradaban Barat, tradisi tersebut terus berlanjut sampai abad ke-20. Tujuannya adalah membela harga diri dan kehormatan, entah secara personal maupun kelompok. Orang memanfaatkannya demi memecahkan masalah pribadi, politik dan bisnis.

Meski dikategorikan sebagai pelanggaran hukum, duel senjata masih saja menjadi salah satu solusi di era modern seperti sekarang. Contohnya pada proses pemilihan Presiden Peru 2002 lalu.

Dua calon presiden, yakni Eittel Ramos dan David Waisman sempat punya niatan menentukan pemenang lewat duel pistol. Namun duel yang dilontarkan Eittel itu tak digubris karena dianggap mencari sensasi.

Uniknya, duel pistol sudah memiliki aturan baku. Para pelaku duel akan diberikan pistol berisi peluru tajam dan diperintahkan berdiri membelakangi pada jarak tertentu yang diukur dari garis coretan pedang di atas tanah. Baru kedua pelaku saling berhadapan, menunggu aba-aba wasit. Begitu wasit menjatuhkan sapu tangan, pelaku secepat kilat mencabut pistol dan mulai menembak.

Duel dapat diakhiri dengan tiga macam situasi, tergantung kesepakatan di awal. Pertama, salah satu pelaku terluka (ringan maupun parah) dan bercucuran darah. Kedua, duel terus berlanjut selama masih mampu bertarung sampai salah satu atau keduanya benar-benar tumbang. Dan yang terakhir, duel dihentikan jika pelaku sudah puas melihat lawannya terluka parah tanpa harus menghabisinya.

Karena tergolong sebagai duel jarak dekat, setiap pelaku hanya diperbolehkan melepaskan satu kali tembakan. Menggunakan dua peluru atau lebih dianggap tindakan biadab dan tidak mencerminkan sikap seorang gentleman.

Di berbagai belahan dunia, duel senjata api telah menciptakan ceritanya sendiri. Pada tahun 1598, pemain drama asal Inggris Ben Johnson melaksanakan duel pistol melawan aktor Gabriel Spencer karena masalah akting. Akibatnya, Spencer luka berat.

Sekitar dua abad berselang, bangsawan Inggris, The Duke of York menantang duel pistol Letkol Charles Lennox. Hasilnya, kepala sang bangsawan tergores oleh peluru. Tahun 1864, dua kandidat wakil presiden Amerika Serikat, Alexander Hamilton dan Aaron Burr menentukan siapa yang berhak menduduki kursi kekuasaan melalui duel pistol. Hamilton terluka sementara Aaron berhasil menduduki kursi wapres.

Duel yang mengakibatkan jatuhnya korban terjadi di Kanada pada 1833. Robert Lyon tewas tertembak setelah terkena peluru dari lawannya, John Wilson. Latar belakang duel tersebut yaitu masalah wanita.

Apakah sekarang praktik duel pistol sudah ‘dihilangkan’? Sama sekali tidak, hal itu masih ada. Hanya saja lebih banyak diimplementasikan ke dalam bentuk film koboi.**GP

SHARE