Insiden Mengerikan di Rusia yang Pernah Ditutupi | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Insiden Mengerikan di Rusia yang Pernah Ditutupi
Gading Perkasa | Story

Insiden mengerikan yang pernah terjadi di dunia tentu akan dikenang masyarakat sebagai catatan hitam sepanjang sejarah peradaban manusia. Setiap orang juga berharap, bahwa insiden di masa lalu tidak terulang lagi di kemudian hari.


wikipedia

Akan tetapi, tidak semua insiden mengerikan benar-benar terekspos. Masih banyak kejadian yang seolah-olah disembunyikan dari hadapan publik, sampai hari ini. Benarkah demikian?

Betul MALEnials. Di Rusia, negara tuan rumah Piala Dunia 2018, nyaris tidak terhitung berapa jumlah insiden mengerikan yang sengaja ditutupi. Dan itu semua terjadi ketika negeri tersebut masih bernama Uni Soviet.

Sebagaimana telah diketahui bersama, taktik politik Soviet ialah membatasi arus informasi sedemikian ketatnya. Sehingga, saat tragedi atau insiden melanda negara, pemerintah Soviet berusaha keras menyimpan rahasia dari warganya. Meski pada akhirnya, kebenaran mulai terungkap. Apa saja insiden yang dimaksud? Kami telah merangkum tiga di antaranya, inilah dia:

Gempa Bumi Dahsyat di Ashgabat
Insiden mengerikan pertama adalah gempa bumi yang menggetarkan ibukota Soviet Turkmenistan, Ashgabat. Gempa berkekuatan sebesar 7,5 Skala Richter itu terjadi pada 6 Oktober 1948. Menurut keterangan, gempa mengakibatkan 98% bangunan di Ashgabat rata dengan tanah, korban berjatuhan (>100 ribu jiwa). Saparmurat Niyazov, pemimpin Turkmen yang menerbitkan buku terkait gempa Ashgabat menuliskan bahwa jumlah korban jiwa mencapai 176 ribu orang.

Ditambahkan oleh sejarawan Shokhrat Kadyrov, mayoritas korban tewas di antara puing-puing rumah mereka yang terdiri dari struktur bangunan sederhana dengan atap berbahan tanah liat. Sementara ahli geologi Andrey Nikonov menyebutnya sebagai insiden atau bencana terbesar di wilayah kekaisaran Uni Soviet.

Harian utama di Soviet, Pravda melaporkan pada 9 Oktober 1948, sejumlah pabrik, gedung perkantoran dan rumah di Ashgabat hancur dan korban berjatuhan. Di saat yang sama, setiap penduduk kota Ashgabat dipaksa menandatangani kesepakatan untuk merahasiakan gempa bumi tersebut, termasuk menyembunyikan dokumen beserta material penelitian terkait gempa. Baru di era 80-an, berita gempa Ashgabat kembali menyeruak ke permukaan.

Insiden Nedelin
Peluncuran misil balistik Soviet R-16 dari Kosmodrom Baikonur di tahun 1960 tidak berjalan sesuai rencana. Dua menit sebelum diluncurkan, mesin misil menyala sendiri dan menyebabkan kebakaran. Akibatnya, landasan peluncuran dibanjiri puluhan ton bahan baku misil dan menewaskan 78 orang.

Salah seorang korban yaitu Mitrofan Nedelin, kepala Angkatan Roket Strategis dan kepala Marsekal Artileri. Berdasarkan laporan, jasadnya hanya dikenali dari lencana di seragamnya. Tidak lama kemudian, media setempat melaporkan Nedelin tewas dalam kecelakaan pesawat dan dimakamkan di Kremlin. Sayangnya, masyarakat baru mengetahui fakta di balik kematian Nedelin di tahun 1989, nyaris tiga dekade.

Luzhniki Disaster
Jauh sebelum ditetapkan sebagai kota tempat diselenggarakannya partai puncak Piala Dunia 2018, Moskow menyimpan lembaran hitam terkait dunia sepak bola. Hal itu terjadi di tahun 1982, kala Spartak Moskow bertemu Haarlem (Belanda) dalam pertandingan Piala UEFA. Cuaca tak bersahabat mengakibatkan hanya 16.000 tiket terjual dari total 82.000 tiket, dan pihak pengurus stadion membuka tribun di sisi timur saja.

Spartak sudah unggul 1-0 sejak babak pertama, setelah Edgar Gees melesakkan gol ke gawang Haarlem yang dikawal Wim Balm. Ketika laga akan usai dan suporter bersiap meninggalkan stadion, Spartak justru unggul 2-0 lewat Sergei Shvetsov. Gol Sergei memicu tragedi di Luzhniki. Para penonton yang hendak meninggalkan tribun berbondong-bondong kembali guna merayakan gol tersebut.

Karena pintu masuk yang dibuka hanya satu, kepadatan pun tak terelakkan. Suporter terinjak-injak dan sulit bernapas hingga banyak orang meninggal dunia. Kala itu, pemerintah Soviet mencoba merahasiakan insiden mengerikan di Luzhniki dan baru membukanya di tahun 1989. Sebuah laporan menyatakan, sedikitnya 66 orang tewas.

Namun banyak pihak sangsi, sebab saksi mata mengatakan bahwa korban jauh lebih banyak. Diduga, korban menembus angka 340 orang. Pada 1992, dibangun tugu memorial di kawasan stadion demi mengenang insiden paling memilukan sepanjang sejarah olahraga Soviet maupun Rusia ini.**GP

SHARE