Masih Berteman dengan Mantan, Ciri-ciri Psikopat? - Male Indonesia
Masih Berteman dengan Mantan, Ciri-ciri Psikopat?
MALE ID | Relationships

Ada begitu banyak alasan mengapa seseorang masih berteman dengan mantan kekasih. Entah karena ingin menjaga hubungan baik atau bahkan berniat menjalin hubungan kembali bersama si dia. Sekilas, hal itu bukanlah kesalahan.

berteman dengan mantan - male IndonesiaPixabay.com

Walau demikian, Anda harus tetap berhati-hati. Pasalnya, menurut sebuah studi, keinginan agar tetap berteman dengan mantan apalagi sampai berusaha menjaga komunikasi bisa menjadi pertanda bahwa Anda memiliki pribadi seorang psikopat. Benarkah demikian?

Sebuah penelitian dari Oakland University mengungkap terdapat ‘garis abu-abu’ antara Anda dan mantan yang tetap berteman setelah tak lagi menjadi sepasang kekasih. Peneliti mencatat, keinginan tetap berteman menunjukkan niat manipulatif terkait bagaimana mendapatkan informasi, uang dan urusan ranjang.

Rangkaian motivasi tersebut bertambah rumit karena permainan emosi tidak stabil alias naik-turun. Kesimpulan berasal dari dua studi yang dipimpin oleh Justin Mogilski serta Dr. Lisa Welling.

Keduanya merekrut sebanyak 861 partisipan guna menguji teori, apakah mereka yang berteman dengan mantan punya kecenderungan menjadi seorang psikopat atau tidak. Setiap partisipan diberi pertanyaan mengenai alasan kandasnya hubungan serta alasan mereka tetap berteman.

Di samping itu, mereka juga diminta mengisi kuesioner yang mengungkapkan jenis kepribadian mereka secara klinis. Kuesioner dirancang demi menganalisis perilaku menyimpang pada manusia, meliputi sifat narsistik, sifat mendominasi serta psikopat.

Dari studi sebelumnya ditemukan hasil, mereka yang memiliki skor tinggi pada uji coba ini cenderung memilih berteman karena mencari manfaat dan niat menguntungkan diri sendiri. Oleh karenanya, peneliti ingin memelajari seperti apa motivasi seseorang yang tetap membina hubungan baik dengan mantan kekasih berdasarkan uji coba selanjutnya.

Dalam jurnal Personality and Individual Differences, Mogilski dan Welling menuliskan alasan tertinggi yang melandasi seorang pria melakukan hal itu adalah kemudahan akses ke hubungan intim. Pria juga paling berpotensi mengubah pertemanan menjadi pemenuhan hasrat.

Para peneliti menyebutkan bahwa alasan seksual merupakan motivasi praktis yang berujung pada potensi psikopat. Sebab, partisipan dengan pilihan ‘ingin berhubungan intim’ ditemukan mendapat skor tinggi pada perilaku menyimpang. “Gagalnya sebuah hubungan memang dapat mengakhiri kisah romansa. Akan tetapi, studi ini memperlihatkan jika perubahan status mantan menjadi teman justru membuat hubungan semakin hancur dibandingkan memutus komunikasi sama sekali,” ujar Mogilski.**GP

SHARE