Hubungan Rumit Inggris dengan Secangkir Teh | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Hubungan Rumit Inggris dengan Secangkir Teh
Sopan Sopian | Story

Ketika Samuel Pepys mencicipi secangkir teh pertamanya di tahun 1660, merupakan hal baru yang mahal. Teh dipromosikan untuk kualitas obat. Pada saat Restorasi, Inggris banyak mengambil bahan baku teh, bahkan sepuluh kali lebih banyak dari kopi. Pada tahun 1730 posisi itu telah berbalik dan perselingkuhan besar Inggris dengan teh dimulai.

secangkir teh - Male Indonesiapixabay.com

Sebelum lanjut secangkir teh di tanah Inggris, Anda perlu mengtahui siapa Samuel Pepys. Ia adalah seorang administrator Angkatan Laut Inggris dan Anggota Parlemen yang dikenal karena buku harian yang ditulisnya selama satu dekade saat dia masih muda. 

Meskipun Pepys tidak memiliki pengalaman maritim, ia diangkat menjadi patronase, bekerja dengan keras dan selanjutnya diserahi jabatan sebagai Kepala Sekretaris Angkatan Laut Inggris selama dua masa pemerintahan, yaitu pada masa Raja Charles II dan Raja James II. 

Pengaruh dan reformasi yang dilakukan oleh Pepys dalam tubuh Angkatan Laut Inggris sangat berperan penting dalam mewujudkan profesionalisme awal dari Royal Navy. Buku harian pribadi yang ditulis oleh Pepys selama periode 1660 sampai 1669 pertama kali diterbitkan pada abad ke-19, dan merupakan salah satu sumber utama yang paling penting dalam proses Restorasi Inggris. 

Buku harian tersebut menjadi sumber utama yang penting dan saksi sejarah atas peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di Inggris, seperti Wabah Besar Inggris, Perang Inggris-Belanda Kedua dan Kebakaran Besar Inggris.

Teh Dianggap Membuat Malas
Selama 200 tahun berikutnya, setelah Samuel Pepysteh mencicipinya, teh akan menjadi ikatan erat dengan identitas nasional Inggris. Sebagai kolektif, Inggris benar-benar banyak mengonsumsi teh. Secangkir teh akan menjadi simbol kesederhanaan, rumah tangga, kemurnian dan ketekunan. 

Menurut laman historytoday, teh membuat orang-orang Inggris bangun di pagi hari, memberikan semangat kerja, dan bahkan secangkir teh konon membuat bangga para petinggi Inggris karena dapat membantu memenangkan dua perang dunia. Ketika George Orwell mendefinisikan bahasa Inggris pada tahun 1941, dia menunjuk pada pertandingan sepak bola, pub, dan 'secangkir teh'.

Namun, gagasan sederhana tentang teh sebagai patriotik dan sehat dimanipulasi dengan hati-hati untuk mempromosikan kepentingan Kerajaan Inggris. Seperti yang dijelaskan Erika Rappaport dalam penelitiannya yang luas, teh merupakan produk dan alat Kekaisaran.

Perihal mengonsumsi teh itu sendiri, Inggris relatif terlambat. Belanda, Prancis, dan Portugis pertama kali mengembangkan selera teh dari China pada tahun 1600-an. Meski tidak dipuja secara universal kala itu, "rasa haus" teh-teh Cina berkembang sepanjang abad ke-18.

Sang filantropis Jonas Hanway mencap teh sebagai 'kebiasaan menganggur' dan 'pemborosan yang tidak jelas'. Sementara pada tahun 1822, William Cobbett menyebutnya sebagai 'perusak kesehatan'. Namun, gerakan kesederhanaan dengan cerdik mengadopsi teh sebagai alternatif minuman sehat dibandingkan alkohol. 

Budaya Minum Kopi
Gerakan masal minum teh yang diadakan di aula dan pabrik yang dimulai tahun 1820-an, berhasil memenangkan anggapan buruk sang filantropis. Kemudian, seiring kebiasaan minum teh nasional, seiring dengan diperkenalkannya ritual sosial meminum teh di kala senja (sore), ketakutan lingkungan Inggris meningkat bahwa Inggris terlalu bergantung pada China. 

Maka tidak dipungkiri, ketika tentara Inggris menemukan teh tumbuh di negara jajahannya, di Assam, India, pada tahun 1820-an, disambut dengan euforia di kalangan pemerintah. Selama 70 tahun lamanya, kepentingan politik dan komersial digabungkan dalam menumbuhkan perkebunan teh di seluruh India selatan. Tidak hanya itu, Inggris juga sekaligus mempromosikan selera makannya dengan teh India melalui kampanye pemasaran yang canggih.

Tetapi, nyatanya tidak seenak teh dari China, teh India milik Inggris terlalu pahit dan kuat. Oleh karena itu, produsen teh China yang ada dicampur teh dari India. Hal tersebut untuk mendidik selera Inggris dalam mengolah teh. Pada saat yang sama, pengiklan meremehkan teh China, di mana manipulasi pun terjadi bahwa teh China adalah teh yang tidak sehat.

Meski begitu, pada tahun 1887 impor teh nabati dan teh India menyusul produsen dari China. Meski telah diberikan pembelajaran, kecanduan teh Inggris menurun dari tahun 1960-an. Tehh tergantikan dengan kopi, dan semenjak itu, budaya minum kopi pun meningkat. Dengan pergantian tersebut, Inggris hanya merupakan negara minum teh terbesar ketiga di dunia setelah Turki dan Irlandia.

Buku Rappaport memberikan survei mengatakan bahwa hubungan Kerajaan Inggris dengan teh sangatlah rumit. Tidak hanya di dalam internal kerajaan, tetapi juga mengungkapkan pelanggarannya dalam mengeksploitasi tanah dan orang-orang dalam mengejar daun teh. ** (SS)

SHARE