Alpha Blondy, Bob Marley dari Tanah Afrika | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Alpha Blondy, Bob Marley dari Tanah Afrika
Gading Perkasa | News

Bagi penikmat musik reggae, nama Alpha Blondy sudah begitu menancap di hati mereka. Wajar demikian, karena lagu-lagunya mengandung lirik bermuatan politik, sosial serta diselipi humor. Atas dasar itulah, ia sering mendapat predikat sebagai “Bob Marley from Africa” dari banyak pihak.

alpha blondy male indonesia
Thesupermat

Seydou Kone (nama kecil Alpha Blondy) merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara yang lahir pada tanggal 1 Januari 1953 di kota Dimbokro, Pantai Gading. Sejak usia muda ia sudah melanglang buana ke berbagai kota di dunia. Misalnya di tahun 1962, dimana Alpha pergi untuk tinggal bersama ayahnya di Odienne, Liberia.

Di sana ia mengenyam pendidikan di sekolah tinggi Saint Elisabeth dan terlibat dalam pergerakan mahasiswa Pantai Gading. Ia juga membentuk sebuah band. Sayang, hobi bermusiknya memengaruhi pendidikan dan absensi sehingga Alpha dikeluarkan dari sekolah.

Sang ayah lantas mengirimnya belajar bahasa Inggris di Monrovia pada tahun 1973. Ia menghabiskan waktu selama kurang lebih satu tahun dan pindah ke New York, Amerika Serikat dalam rangka mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya.

alpha blondy male indonesia
Thesupermat

Perjalanan Alpha ke New York bisa dikatakan sebagai titik awal dirinya aktif bermusik. Ia mulai menulis lagu sendiri usai menyaksikan konser band asal Jamaika, Burning Spear. Dirinya pun kembali ke kampung halaman dan bertemu sahabat masa kecilnya, Fulgence Kassi yang telah menjadi produser televisi. Inilah kali pertama ia bernyanyi dan menggunakan nama Alpha Blondy.

Sukses di berbagai acara TV Fulgence, ia merekam album solo pertamanya berjudul Jah Glory di tahun 1982. Album tersebut sukses besar dan salah satu lagunya, Brigadier Sabari menjadi simbol perlawanan terhadap kekerasan yang dilakukan oleh aparat.

Namanya kian melambung sebagai bintang di Abidjan. Alpha seolah tiada hentinya berusaha merangkul banyak pihak lewat lagu. Seketika ketenaran seorang Alpha Blondy menyebar ke benua biru, dan keberhasilan mini-album berjudul Rasta Poue mengantarkannya terbang ke Paris di tahun 1984 guna membuat album keduanya, Cocody Rock.

Bila dihitung sejak mengawali kiprahnya di dunia musik pada 1980, ia telah menghasilkan sedikitnya 17 album dan 194 lagu. Misalnya Apartheid is Nazism, lagu yang menyuarakan perjuangan untuk mengakhiri sistem pemisahan ras antara kulit hitam dan kulit putih di Afrika. Peace in Liberia, perang saudara yang seolah tak pernah berakhir. Jerusalem (1986), bercerita tentang bagaimana indahnya jika Islam, Judaisme dan Kristen bersatu. Ia mendapat inspirasi dan mengambil kesimpulan dari Alkitab, Qur’an dan Taurat.

Lalu ada Journalistes en Danger, lagu tentang pembunuhan terhadap seorang jurnalis L’Independant, Norbert Zongo setelah Zongo berusaha memberitakan pemerasan dan kekebalan hukum di pemerintahan Presiden Burkina Faso, Blaise Compaore. Serta Yitzhak Rabin, didedikasikan kepada Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin yang tewas dibunuh Yigal Amir, seorang ekstremis sayap kanan yang menentang ditandatanganinya Perjanjian Oslo.

Jiwa ‘perlawanan’ Alpha Blondy juga begitu tampak di luar dunia musik. Tercatat, dirinya pernah menjadi Duta Besar Perdamaian PBB untuk Pantai Gading pada 2005. Alpha berusaha menciptakan solusi damai bagi negaranya yang merupakan hasil kudeta di masa lalu. Maret 2007, berkat kerja kerasnya, perjanjian damai bagi Pantai Gading dilaksanakan.

Di samping itu, ia mendirikan yayasan amal Jah Glory Foundation, berfokus mengakhiri ketidakadilan sosial dan kemiskinan dengan memberikan apapun yang diperlukan seseorang. Misinya terutama menumbuhkan harapan pada anak-anak korban perang sipil, serta mereka yang menderita penyakit kronis.

Merasa usahanya belum cukup, pemilik rambut gimbal ini senantiasa menggalang konser amal untuk kemanusiaan, seperti konser di Senegal dalam memberantas penyakit Malaria di Afrika (2006). Sampai sekarang, Alpha Blondy masih dipandang sebagai “Bob Marley from Africa” karena perjuangannya membawa kedamaian dan kesatuan di seluruh dunia tak pernah berhenti.**GP

SHARE