Sindrom Aneh dimana Tawanan Menyukai Penculiknya | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Sindrom Aneh dimana Tawanan Menyukai Penculiknya
Gading Perkasa | Story

Di dunia ini banyak sekali ditemui sindrom aneh yang menjangkit seseorang. Salah satunya adalah sindrom Stockholm atau biasa disebut Stockholm syndrome. Apakah itu?

sindrom aneh - male IndonesiaPexels.com

Stockholm syndrome merupakan fenomena dimana korban penculikan atau penyekapan merasa simpati lalu menyukai pelaku kejahatan. Biasanya, korban yang rata-rata kaum hawa terisolasi dari dunia luar dan hanya menghabiskan waktu dengan sang penculik.

Kondisi tersebut berdampak pada psikologi korban. Sehingga, ia memberikan toleransi terhadap hal buruk yang dilakukan penculiknya tanpa mengurangi rasa ketertarikannya sedikitpun.

Penemu fenomena Stockholm syndrome adalah psikiater dan kriminolog bernama Nils Bejerot. Sementara Dr. Frank Ochberg yang juga seorang psikiater tertarik akan sindrom aneh tersebut dan menjelaskan kepada FBI serta Scotland Yard pada 1970-an. Kala itu, ia (Dr. Frank-red.) tengah membantu US National Task Force on Terrorism and Disorder merancang strategi menghadapi situasi penyanderaan.

Menurut Dr. Frank, ada beberapa tahap ketika seseorang mengidap Stockholm syndrome. “Pertama, korban mengalami sesuatu yang tak terduga untuk pertama kalinya dan yakin bahwa ia akan mati. Lalu, ia berada pada tahap infantilisasi - kondisi di mana ia kembali menjadi anak-anak yang sulit melakukan apapun tanpa izin penculiknya. Kebaikan kecil penculik mendorong rasa syukur primitif, seolah mendapat hadiah kehidupan,” ujarnya.

Pada 23 Agustus 1973, empat karyawan Kreditbanken di Stockholm, Swedia antara lain Birgitta Lundblad, Elisabeth Oldgren, Kristin Ehnmark serta Sven Safstrom menjadi korban penyanderaan oleh Jan-Erik Olsson. Enam hari paska kejadian, ketika mereka berempat berhasil diselamatkan, diketahui bahwa mereka menjalin hubungan ‘positif’ dengan sang perampok.

Seorang jurnalis New Yorker, Daniel Lang sempat mewawancarai korban setahun setelah insiden berlalu. Para sandera mengatakan, mereka diperlakukan baik dan bahkan menganggap telah berhutang nyawa kepada Olsson.

Dalam satu kesempatan, Elisabeth Oldgreen yang menderita klaustrofobia - takut terhadap ruangan sempit atau tertutup - dalam satu kesempatan diizinkan Olssen meninggalkan ruangan yang menjadi ‘penjara’ selama mereka dikurung. Walau dengan seutas tali di lehernya.

Kasus serupa dialami Patty Hearst, putri pemilik surat kabar di California, Amerika Serikat yang diculik kelompok militan pendukung revolusi di tahun 1974. Ia disinyalir mempunyai perasaan simpati pada penculiknya bahkan bergabung dalam kasus perampokan secara sukarela.

Patty akhirnya ditangkap dan dikenai hukuman penjara atas tindakannya. Pengacara Patty mengatakan, bahwa wanita muda berusia 19 tahun itu telah dicuci otak oleh penculiknya dan mengalami Stockholm syndrome.

Sindrom aneh tersebut kembali menyeruak ke permukaan pada tanggal 2 Maret 1998. Natascha Kampusch, gadis Austria yang masih berusia 10 tahun diculik oleh Wolfgang Priklopil dan disekap di sebuah basement selama delapan tahun. Bukannya membenci sang penculik, Natasha justru menangis saat mendengar kabar bahwa Wolfgang telah meninggal dunia.

Pada sebuah wawancara yang dilakukan di tahun 2010 lalu, Natascha menolak label Stockholm syndrome pada dirinya. “Saya merasa itu hal yang wajar apabila kita menyesuaikan diri dengan penculik. Mencari normalitas dalam kerangka kejahatan bukanlah sindrom, melainkan strategi bertahan hidup,” tutur Natascha.

Kendati sudah lama menjadi perbincangan, bisa dibilang sindrom aneh ini tergolong sebagai fenomena psikologi yang langka alias jarang dijumpai. The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders and the International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD) mengatakan, tidak ada kriteria diagnostik yang diterima secara luas dalam mengidentifikasi sindrom Stockholm. Apakah ia termasuk ikatan teror, trauma atau bukan termasuk keduanya.**GP

SHARE