6 Mitos dan Fakta Kanker yang Perlu Anda Tahu | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
6 Mitos dan Fakta Kanker yang Perlu Anda Tahu
Sopan Sopian | Sex & Health

Kanker masih menjadi penyakit yang paling mematikan, meski demikian masih banyak beredar soal soal kanker yang masih dianggap hal yang benar. Untuk itu Anda perlu berhati-hati dalam mengindentifikasi dan mencegah penyakit ini. Karena, salah-salah referensi, bukannya meringankan, justru membuatnya semakin parah.

mitos dan fakta kanker - Male IndonesiaPhoto by Jake Oates on Unsplash

Dalam dua dasawarsa terakhir, menurut UICC sebanyak 21,7 juta orang terkena kanker secara langsung, sehingga upaya pencegahannya harus dilakukan secara bersama-sama, mengingat kanker dapat menyerang siapapun. Hal ini mengingat banyak pasien baru mendeteksi kanker ketika sudah stadium lanjut, dan lebih buruk lagi ketika pasien lebih mempercayai mitos dan fakta kanker secara sembarangn. Sehingga kondisinya menjadi lebih parah.

Untuk itu, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP. menghimbau masyarakat tidak percaya begitu saja terkait kanker. Lebih baik konsultasi langsung dengan dokter. “Segera lakukan konsultasi dengan dokter untuk deteksi kanker sejak dini,” tuturnya. 

Bagi pria khususnya, jika tidak ingin terserang penyakit ini, teruslah bergerak secara aktif seperti berolah raga, tidak mengkonsumsi alkohol, menghindari menghisap rokok, dan mengurangi konsumsi daging yang diproses. Adapun beberapa contoh mitos dan fakta kanker menurut Yayasan Kanker Indonesia adalah sebagai berikut:

Mitos 1 : Kanker disebabkan oleh manusia dan merupakan penyakit modern
Fakta: Kanker bukanlah sekedar penyakit modern buatan manusia, namun telah ada sejak ribuan tahun lalu. Catatan medis di Mesir dan Yunani menemukan tanda-tanda kanker pada kerangka manusia dari 3000 tahun silam. 

Meski gaya hidup, diet, dan polusi udara berdampak pada risiko terkena kanker, namun tidak dapat sepenuhnya disimpulkan kanker sebagai penyakit modern buatan manusia. Banyak penyebab kanker datang dari alam. Satu dari enam kanker yang mendunia disebabkan oleh berbagai virus dan bakteri.

Mitos 2: Superfood dapat Mencegah kanker
Fakta: Secara terpisah, buah beri, akar bit, brokoli, bawang putih, teh hijau, dan superfood lainnya dapat mencegah kanker. Tidak benar, namun, makanan di atas dapat menjadi bagian dari kebiasaan makan dan hidup sehat dalam rangka pencegahan kanker. 

Tetaplah penting memperhatikan apa yang kita makan, sebab buah dan sayuran memang lebih sehat dari jenis makanan lainnya. Penelitian sudah membuktikan bahwa tiga komponen utama hidup sehat yaitu: 1) menjaga berat badan yang ideal; 2) olah raga teratur; dan 3) mengikuti diet atau menu sehat, dapat menurunkan risiko terkena kanker hingga 35 persen (50 persen pada kanker tertentu). Menghindari alkohol berlebihan serta tidak merokok menurunkan risiko lebih besar lagi.

Mitos 3: Mengkonsumsi Makanan Asam Menyebabkan Kanker
Fakta: Tidaklah benar bahwa mengkonsumsi makanan asam meningkatkan risiko kanker, sementara makanan dengan tingkat alkalin lebih tinggi sebaliknya. Sel kanker tidak dapat hidup pada lingkungan dengan kadar alkalin yang tinggi, namun sel-sel lain di tubuh manusia juga demikian! Adalah keliru bahwa makanan dapat ‘membentuk alkalin dalam tubuh’. 

Makan sayuran hijau memang sehat, tetapi bukan berarti berdampak pada tingkat keasaman atau tingkat alkalin tubuh kita. Lingkungan asam di seputar sel kanker lebih disebabkan oleh cara tumor menciptakan energi dan menggunakan oksigen, dibandingkan dengan selaput sehat lainnya. Tidak ada bukti bahwa makanan dapat memanipulasi tingkat keasaman tubuh yang menyebabkan kanker.

Mitos 4: Pengobatan Kanker Lebih Merusak daripada Menyembuhkan
Fakta: Pengobatan terhadap kanker (kemoterapi, radioterapi atau bedah) merupakan perawatan serius. Efek sampingnya kerap terasa kuat, sebab pengobatan yang diciptakan untuk mematikan sel kanker juga dapat mengganggu fungsi beberapa sel sehat, misalnya sistem pembentukan darah (lekosit dan akar rambut). 

Pada kanker stadium awal, kemoterapi dan radioterapi masih diharapkan dapat menyembuhkan – disebut sebagai “tujuan kuratif” – sedangkan pada stadium lebih tinggi misalnya 3 dan 4, masih bermanfaat untuk meringankan penderitaan (misalnya nyeri) dan mempertahankan kualitas hidup. 

Pembedahan masih merupakan pengobatan efektif terhadap beberapa jenis kanker, terutama pada stadium dini. Pada stadium lanjut pengobatan paliatif tersebut tetap dilakukan bagi pasien kanker untuk memberikan keseimbangan kualitas dan kuantitas hidup, sebagai hak pasien untuk menentukan pilihannya.

Mitos 5: Biopsi Membuat Tumor Menjadi Ganas
Fakta: Banyak orang yang menolak pemeriksaan biopsi terhadap tumor yang diidapnya karena dikhawatirkan “benjolan akan menjadi kanker” atau “akan menjadi ganas” Hal ini merupakan mitos yang amat merugikan karena seringkali pengobatan menjadi terlambat. 

Ada dua hal yang perlu dimengerti disini. Pertama, sebuah benjolan yang jinak tidak akan menjadi ganas karena biopsy. Tumor jinak akan tetap jinak, demikian pula sebaliknya. Kedua, kanker tidak akan dapat diobati bila tidak diketahui jenisnya. Hal yang sama juga berlaku pada pembedahan. 

Mitos 6: Berlebihan Dalam Mengkonsumsi Makanan Berlemak (dan pola makan yang buruk) dapat Memicu Resiko Kanker. 
Fakta:
Beberapa jenis penyakit kanker yang muncul akibat berlebihan dalam konsumsi asupan lemak, yaitu kanker empedu, kanker usus dan ginjal. Lemak memadat tidak menyebabkan kanker, yang buruk adalah lemak berlebih pada tubuh kita sendiri yang banyak diakibatkan oleh karbohidrat dan gula yang berlebih. ** (SS)

SHARE