Berani Tinggal di Desa Terdingin di Muka Bumi? | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Berani Tinggal di Desa Terdingin di Muka Bumi?
Gading Perkasa | Story

piala dunia 2018 male indonesia

Tinggal di sebuah desa bersuhu dingin dan asri barangkali terdengar mengasyikkan bagi Anda, lantas apa jadinya jika Anda harus bermukim di desa terdingin di muka bumi?

piala dunia 2018 male indonesia
Maarten Takens

Sebagai orang Indonesia yang biasa merasakan iklim tropis, hampir bisa dipastikan bahwa Anda mustahil mampu bertahan melawan kondisi cuaca dingin nan ekstrem. Namun itu tidak berlaku bagi sekitar 500 penduduk di wilayah terpencil Siberia, Rusia. Oymyakon, desa tempat mereka tinggal mendapat predikat sebagai desa terdingin di dunia.

Kita ambil satu contoh. Awal Januari 2018, suhu di Oymyakon mencapai -88 derajat Fahrenheit atau sekitar -67 derajat Celcius. Saking dinginnya cuaca, bulu mata orang-orang di sana membeku dan tubuh rentan sakit. Desa yang terletak di negara tuan rumah Piala Dunia 2018 ini senantiasa gelap gulita selama 21 jam setiap harinya pada musim dingin.

Lokasi pedesaan sangat terpencil dan sangat sulit ditempuh, karena lebih dekat dengan Lingkaran Arktik dibandingkan kota besar. Tapi justru banyak orang ingin berkunjung ke Oymyakon untuk melihat kehidupan para penduduk yang sanggup bertahan di kondisi tersebut.

Seorang jurnalis foto asal Selandia Baru, Amos Chapple telah mengunjungi Oymyakon pada 2015 silam demi mengabadikan gambar di desa terdingin itu. “Hari pertama tiba di sana, fisik saya terasa rusak akibat berjalan selama beberapa jam di luar,” katanya.

piala dunia 2018 male indonesia
Maarten Takens/flickr

Menurut Chapple, iklim dingin betul-betul meresap ke berbagai aspek kehidupan penduduk Oymyakon. Misalnya, menu utama warga di sana adalah daging yang biasa dimakan dalam keadaan mentah atau beku. Ada pula makanan khas seperti stroganina (ikan beku mentah), daging rusa, hati kuda beku mentah serta es batu dari darah kuda bercampur makaroni. Mustahil menemukan sayuran karena sulitnya menanam tumbuhan di suhu dingin.

“Orang-orang Yakutia senang makanan dingin, ikan mentah beku, salmon putih, hati kuda beku yang dianggap sebagai makanan lezat. Sehari-hari kami suka makan sup dan daging. Itu bagus bagi kesehatan kami,” ujar Bolot Bochkarev, penduduk setempat.

Masalah yang sering menimpa penduduk Oymyakon yaitu kacamata yang membeku dan menempel di wajah, tinta pulpen mudah mengering serta hilangnya tenaga baterai. Bahkan salah seorang warga mengatakan, ia beberapa kali harus meninggalkan mobil di jalan karena mesinnya tidak mau menyala.

Alhasil, banyak orang meninggal dunia akibat kejadian tersebut. Di samping itu, masalah baru pun muncul, yaitu sulitnya mengubur mayat. Prosesnya memakan waktu selama tiga hari, sebab daratan harus dicairkan lebih dulu sebelum digali.

Usai perjalanannya ke desa terdingin di Siberia selesai, Chapple mengaku kesulitan melakukan wawancara dengan warga lantaran udara terlalu dingin. Ia juga harus berusaha sedemikian keras dalam mengambil gambar. “Udara dingin membuat napas yang keluar seakan-akan berputar layaknya asap cerutu. Saya harus menahan napas agar uapnya tidak menutupi lensa,” tutur Chapple.**GP

SHARE