Sejarah Obat Batuk Berbahaya asal Jerman | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Sejarah Obat Batuk Berbahaya asal Jerman
Sopan Sopian | Story

Percaya atau tidak, ini adalah faktanya, bahwa sekitar satu abad lamanya, heroin adalah obat batuk yang pernah beredar di dunia. Mungkin sedikit terasa asing, jika obat batuk mengandung heroinn, karena semua tahu bahwa heroin adalah barang terlarang untuk dikonsumsi di negara manapun. Lalu mengapa heroin dahulu bisa menjadi sebuah obat yang digunakan kebanyakan orang untuk meredakan batuk?

Foto by Leridant~commonswiki/Wikipedia

Perusahaan raksasa farmasi dari Jermanlah yang pertama kali memperkenalkan heroin sebagai obat batuk sirup pada 1898. Perusahaan farmasi ini adalah Bayer. Saat itu, bayer sedang mencari penekan batuk yang tidak memiliki efek samping, terutama kecanduan seperti morphine dan codeine. Tentu dalam masa pencarian formula ini tidak lepas dari peran seorang ilmuwan.

Kala itu juga, yang mengemban jabatan Kepala Laboratorium adalah Heinrich Dreser (1860 - 1924). Jabatan ini memungkinkannya untuk memutuskan obat mana yang boleh lolos pemasaran dan yang tidak lolos. Saat memikul jabatan ini jugalah, Dreser menemukan heroin yang kemudian menjadi penemuan yang spektakuler sekaligus penuh kontroversi.

Heroin sendiri merupakan turunan dari senyawa morphine, yang disebut sebagai diasetilmorfin. Senyawa ini berwarna putih, berasa pahit, dan tak berbau. Penelitian mengenai diasetilmorfin ini sebelumnya dilakukan oleh seorang ilmuwan Inggris, C. R. Wright pada tahun 1874. Penelitian inilah yang kemudian mengilhami Dreser untuk mencari tahu lebih lanjut.

Dreser kemudian berinovasi untuk membuat obat dari senyawa diasetilmorfin ini yang tidak menimbulkan efek adiktif namun tetap memiliki khasiat sama, tidak lain yaitu sebagai sedatif (obat penenang) dan penghilang rasa sakit. Dan perlu diketahui, Bayer adalah perusahaan yang pertama kali mensintesis diasetilmorfin menjadi heroin. 

Heroin buatan Dreser itu kemudian diujicobakan pada sejumlah katak dan kelinci di laboratorium. Dreser bahkan mengujicobakannya pada sejumlah pekerja di Bayer. Sebagai kepala laboratorium, tentu apa yang pernah disetujui tentang obat yang layak menjadikannya dipercaya oleh karyawannya sendiri, sehingga saat uji coba dilakukan, para karyawan pun tidak keberatan. Karena menurut mereka obat temuan Dreser selalu membuat penggunanya merasa ‘heroik’.

Namun, sebagai ilmuan, tampaknya ia belum merasa puas. Dreser pun kemudian mencoba obat barunya tersebut. Dari apa yang ia rasakan, kemudian ia menyimpulkan bahwa obat baru tersebut sangat efektif untuk mengobati asma, bronkitis, sampai tuberkulosis (TBC). Di depan sejulah ilmuan dan dokter Jerman pada Kongres Naturalis, Dreser mempresentasikan obat temuannya itu. Ia mengklaim bahwa penemuannya lebih efektif 10 kali daripada obat batuk biasa.

Heinrich Dreser saat berada di laboratorium/Foto by Drdoht/Wikipedia

Bahkan, saat mempresentasikan obat barunya itu, Dreser juga mengklaim bahwa lebih efektif dibandingkan morphine sebagai penahan sakit. Setelah itu, menurut laman disinfo, awal tahun 1898 Bayer meluncurkan heroin. Sampel gratis dikirimkan ke ribuan dokter. Nama heroin sendiri berasal dari kata ‘Heroisch’ yang berarti heroik. 

The Sunday Times of London menuliskan, pada 1899 Bayer telah memproduksi sekitar satu ton heroin saat itu, dan mengeksplor obat ke 23 negara, termasuk Amerika Serikat. Sayangnya, di tahun bayer melakukan produksi besar-besaran, lama-kelamaan, keganjilan mulai tampak. Para dokter mulai mencatat banyak sekali permintaan pasien akan obat batuk sirup ini meskipun para pasien itu tak memiliki keluhan pada saluran pernapasannya. Melihat kejanggalan tersebut, para ilmuan dan dokterpun melakukan penelitian ulang terhadap heroin ini.

Akhirnya, para ilmuan dan dokter menemukan penyebabnya dan menyimpulkan bahwa mungkin diasetilmorfin tidak seadiktif morphine, tapi jauh lebih berbahaya dari itu. Heroin bisa menimbulkan ketergantungan dengan tingkat sampai 4 kali dari morphine. Bayer kemudian menghentikan produksi dan pemasaran obat batuk sirup heroin pada 1913. kemudian secara luas, heroin dilarang penggunaannya pada tahun 1924. ** (SS)


 


 

SHARE