Gloomy Sunday, Lagu Nestapa yang Kontroversial - Male Indonesia
Gloomy Sunday, Lagu Nestapa yang Kontroversial
MALE ID | Story

Dalam membuat karya seni, setiap musisi selalu memasukkan makna dibalik lagu yang dibuat. Dari sanalah lagu-lagu mereka bisa diperdengarkan dan disukai masyarakat dunia. Tidak jarang, tumpahan syair dengan iringan nada syahdu tersebut menjadi lagu yang tak lekang oleh waktu dan dikenang sepanjang masa.

Male IndonesiaPhoto by Elijah O'Donnell from Pexels

Pada dasarnya, lagu adalah sebuah curahan hati atau bentuk ekspresi diri terhadap apa yang dialami pengarang. Ekspresinya tentu bermacam-macam, dari bahagia, marah, kecewa bahkan dirundung kesedihan. Bahkan sering kita dapati lagu-lagu yang memancarkan aura kelam di dalamnya.

Berbicara tentang sebuah lagu, pernahkah anda mendengar lagu berjudul Gloomy Sunday? Lagu ini diciptakan di era 40an. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, judul di atas berarti “Minggu Kelabu”. Lagu Gloomy Sunday sangat terkenal di Eropa dan merambah ke benua-benua lain di dunia sebagai lagu kematian. Meski makna dibalik lagu ini lebih mengacu kepada kesedihan pengarangnya setelah ditinggal orang yang dicintai, namun entah mengapa pada perkembangannya dianggap sebagai ajakan untuk seseorang melakukan bunuh diri.

Sejatinya lagu Gloomy Sunday lahir di tangan seorang pianis sekaligus komposer asal Hungaria, Rezso Seress pada tahun 1933. Judulnya pun ditulis dalam bahasa Hungaria, Vege a Vilagnak. Lagu yang pada awalnya menceritakan tentang kehancuran dunia akibat perang yang terjadi dimana-mana saat itu.

Sementara, seorang pujangga terkenal asal Hungaria, Laszlo Javor menulis lirik dengan versi yang sedikit berbeda terkait lagu tersebut dan diberi judul Szomoru Vasarnap atau Minggu Kelabu dalam bahasa Indonesia. Makna yang dihasilkan pun berubah, bercerita tentang keinginan seseorang melakukan bunuh diri akibat ditinggal pergi kekasihnya. Di tahun 1936, lagu ini pertama kali direkam dalam bahasa Inggris oleh Hal Kemp dan Sam M. Lewis. Dan meski digubah oleh beberapa musisi,Gloomy Sunday versi Billie Holiday-lah yang akhirnya dikenal di seantero dunia lima tahun berselang.

Meski menjadi hits, makna dibalik lagu Gloomy Sunday sungguh menyeramkan. Bila seseorang mendengar dan menghayati lagu ini, maka hati mereka terdorong untuk melakukan bunuh diri. Hal ini bukan omong kosong belaka. Pasalnya, pada era 40an hingga 50an surat kabar di Hungaria dan Amerika Serikat dihiasi berita 19 kasus bunuh diri setelah mendengar lagu tersebut. Walau ternyata jumlahnya jauh lebih banyak, sekitar 100 orang dan tidak terekspos.

Sebagai contoh, di Berlin, Jerman pada akhir 40an seorang pemuda ditemukan tak bernyawa gantung diri di toko yang ia jaga. Saksi mata yang menemukan korban melihat salinan partitur lagu Gloomy Sunday di bawah kakinya. Sedangkan di New York, Amerika Serikat seorang sekretaris muda cantik bunuh diri dengan menghirup gas beracun. Ia meninggalkan wasiat bahwa Gloomy Sunday wajib dimainkan untuk mengiringi proses pemakamannya.

Kalau boleh dibilang, kisah paling tragis dialami oleh pengarang pertama lagu tersebut, Rezso Seress. 11 Januari 1968, sehari setelah ia merayakan ulang tahunnya yang ke-69, ia memutuskan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jendela apartemennya sendiri. Desas-desus menyebutkan, faktor yang mendasari Rezso melakukan bunuh diri adalah depresi akibat selalu gagal menciptakan lagu kedua yang lebih baik dari Gloomy Sunday.

Di Amerika Serikat, lagu tersebut dilarang diputar sejak tahun 1936 akibat banyaknya kasus bunuh diri. Alasannya sederhana, makna dibalik lagu Gloomy Sunday menjatuhkan semangat para pendengarnya, karena masa-masa itu perang sedang berkecamuk di berbagai negara. Larangan ini akhirnya dicabut oleh Amerika pada tahun 2002. Sampai sekarang, lirik dalam lagu Gloomy Sunday mengandung aura kelam dan menyimpan misteri bagi para pendengarnya.

SHARE