Film 12 Strong: Kekuatan Kecil yang Melegenda | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Film 12 Strong: Kekuatan Kecil yang Melegenda
Sopan Sopian | Review

Film 12 Strong adalah film perang pertama di tahun 2018. Dibintangi Chris Hemsworth, Michael Shannon, dan Michael Pena ini bisa menjadi salah satu film kepahlawanan yang jangan sampai Anda lewatkan di awal tahun ini.

Film 12 Strong disutradarai oleh Nicolai Fuglsig, seorang jurnalis foto dan sutradara asal Denmark. Selain itu, menariknya, film ini diangkat dari kisah nyata berdasarkan buku non-fiksi berjudul "Horse Soldiers" karya Doug Stanton yang menceritakan  tentang Pasukan Khusus AS yang dikirim ke Afghanistan segera setelah serangan 11 September 2001.

Dari variety, film 12 Strong ini merupakan film fitur pertama Fuglsig setelah menggarap film dokumenter  “Return of the Exiled,” yang memenangkan penghargaan Gold Lion dalam Cannes Lions International Advertising Festival. Selain itu, ia juga pernah mendapatkan penghargaan DGA sebanyak dua kali dalam kategori Outstanding Directorial Achievement in Commercials.

Ringkasan
Film bergenre drama-action ini berkisah tentara AS pertama yang mendarat di Afganistan pada hari-hari setelah serangan 11 September yang menghancurkan gedung World Trade Center pada 2001 lalu. Pasukan tersebut dinamai ODA 595, sebuah unit pasukan khusus elit yang hanya terdiri dari 12 anggota dalam misi untuk menghubungkan dengan panglima perang lokal Jenderal Dostum (Navid Negahban) untuk melawan pasukan Al-Qaeda dan Taliban yang dilengkapi dengan berbagai senjata perang canggih, termasuk tank-tank besar dan rudal.

Film 12 Strong tidak sekonyong-konyong langsung berada pada medan tempur. Namun, mencoba mengulik dari sisi humanis seorang tentara itu sendiri. Sehingga film ini dimulai dari dalam rumah, saat Kapten Mitch Nelson (Chris Hemsworth) sedang membongkar peralatan rumah bersama istrinya Jean Nelson (Elsa Pataky) dan putrinya Maddy Nelson (Marie Wagenman). Ketika itu juga, Maddy Nelson yang sedang menonton televisi menunjuk berita yang menggambarkan pesawat yang menabrak gedung World Trade Center. 

Jiwa tentara Nelson pun terdorong untuk ikut berperang, padahal saat itu ia telah dipindahkan ke divisi administrasi yang memang tidak dapat diikutsertakan dalam misi perang. Dengan negosiasi yang alot, akhirnya ia dan 11 timnya pun berangkat ke Afganistan untuk menaklukan Taliban dan Al-Qaeda. Sisi humanis dalam film ini semakin terasa ketika anggota tim harus meminta izin kepada istri-istrinya. 

Momen ini menjadi momen penting karena mereka tidak akan tahu masih bisa pulang secara utuh atau sekadar nama. Meski tidak semua anggota ditunjukan dalam berpamitan dengan keluarganya, namun sudah mewakili bagaimana beratnya para tentara ini harus meninggalkan keluarganya ke medan perang. Seperti Hal Spencer (Michael Shannon) harus berangkat dengan rasa sedih yang ditunjukkan oleh anak dan istrinya. Sementara di rumah Sam Diller (Michael Pena), istrinya mencoba untuk terlihat kuat di depan suaminya. Untuk Nelson sendiri bertegad dan berucap janji untuk kembali pulang pada istrinya.

Saat berada di Afganistan, mereka bertemu dengan Jenderal Abdul Rashid Dostum yang membantu mereka menemukan markas Taliban. Tanpa alat transportasi modern, Dostum memberikan kuda sebagai transportasi dalam menemukan markas Taliban kepada para anggota ODA 595 itu. Dengan segala strategi yang ada serta sedikit perbedaan pendapat, meski dengan peralatan seadanya yang tungganganpun sekadar kuda, keberanian menjadi senjata utama bagi 12 pasukan khusus Amerika untuk bisa mendekati wilayah pasukan Taliban yang memiliki ratusan pengikut yang berani mati.

Highlight
Ada dua aspek dalam film yang ditulis Ted Tally dan Peter Craig ini. Pertama unsur drama yang ingin ditonjolkan, karena sisi humanis benar-benar ditonjolkan di sini ketika mereka pamit kepada keluarga. Tentu semua tentara akan memiliki rasa bela negara yang kuat, namun film ini memperlihatkan sisi kemanusiaan itu dari sisi seorang tentara yang kuat dan berani. 

Meski begitu, sisi dari action itu sendiri tidak hilang, di mana pertempuran melawan Taliban terlihat sengit dan benar-benar nyata. Anda akan melihat layaknya game perang di mana, tembok-tembok bekas desa yang dijajah Taliban menjadi lahan pertempuran yang apik. Dramatis dalam pertempuran pun Anda akan dibawa tegang. 

Aspek kedua adalah, dari Afganistan itu sendiri, di mana tidak ada kekuatan besar di dunia, termasuk Amerika Serikat (AS). Di film 12 Strong, Amerika yang memang memiliki peralatan tempur mumpuni dipaksa untuk berperang seperti abad ke-19. Luar biasanya, meski dengan kuda, bermodal semangat dan keyakinan, 12 pasukan khusus AS ini benar-benar menunjukan taktit perang yang mumpuni dalam melawan ratusan pasukan Taliban.

Kemudian, salah satu dinamika yang menarik dalam film 12 Strong ini adalah cara orang meremehkan Nelson. Chris Hemsworth benar-benar berperan apik tanpa cacat dalam film ini. Di mana ia adalah anggota muda yang minim dengan pengalaman lapangan namun dapat membuktikan hanya dengan memiliki pengalaman sebagai kapten pada latihan-latihan kemiliteran bisa dapat dipercaya untuk memimpin pasukan kecilnya menuju medan perang.

Selain itu, dua tokoh Nelson dan Jenderal Dostum saling mengisi, di mana Dostum yang bijaksana kerap memberikan petuah-petuah yang bijak kepada Nelson. Bahkan tokoh Nelson pun benar-benar hidup dengan chemistry yang baik dengan Shannon dan Pena. Sehingga film yang memiliki durasi panjang ini tidak Akan terasa karena drama-action ini dibungkus juga dengan sisi komedi yang apik ditengah ketegangan. 

Nicolai Fuglsig benar-benar apik membungkus film tentang kepahlawanan ini dalam sebuah peristiwa perang, di mana penonton yang tidak begitu menyukai film bergenre action pertempuran ini akan bisa hanyut dan menikmati. 

Perlu Anda ketahui, meski film ini berangkat dari kisah nyata yang ditulis dalam buku non-fiksi karya Doug Stanton, dalam menghormati jasa 12 pasukan elit kecil ini, pemerintah AS pun membangun sebuah patumg tentara berkuda di depan gedung World Trade Center. 

Film 12 Strong sudah dirilis di Amerika Serikat mulai 19 Januari 2018. Sementara untuk di Indonesia, Anda masih bisa menunggu jadwal rilis. Maka dari itu, sayang jika Anda melewatkan film ini!. ** (SS)


   


 

SHARE