Dampak Buruk Sering Bertemu Pasca Jalin Hubungan - Male Indonesia
Dampak Buruk Sering Bertemu Pasca Jalin Hubungan
MALE ID | Relationships

Siapa yang tidak ingin sering bertemu setelah menjalin hubungan, rasa bahagia tentu akan mendorong seseorang untuk ingin selalu bertemu. Apalagi ketika bagi pria yang telah lama mendambakan si dia untuk menjadi kekasihnya.

sering bertemu -male Indonesiapxhere.com

Ternyata, bagi waktu sering bertemu pasca menjalin hubungan itu tidak baik untuk masa panjang Anda dan si dia. Lebih baik tahan rasa rindu bercampur euforia Anda demi menyelamatkan keharomonisan dalam kisah asmara Anda. 

Scott Carroll, seorang psikiater dan penulis Don’t Settle: How to Marry the Man You Were Meant For, memberikan saran bagi pasangan yang baru saja menentukan tanggal status mereka. Menurutnya, pasangan lebih baik tidak begitu banyak bertemu setelah status ditentukan dan mereka resmi sebagai seorang pasangan yang dimabuk cinta. 

"Bertemu setiap hari bukan cara yang tepat untuk menghasilkan hubungan yang awet," kata Scott Carroll, seperti dalam laporan The Independent.

Kunci untuk memulai sebuah hubungan yang bahagia adalah, kata Scott Carroll, lebih baik bertemu dengan kekasih dua kali dalam satu minggu. Karena, hanya bertemu dua kali sepekan membantu untuk memiliki perasaan terdalam. 

"Penting untuk tetap bertahan dua kali seminggu hanya agar Anda memiliki banyak waktu untuk memberi perasaan terdalam Anda meresapi dari alam bawah sadar Anda," ujarnya.

Seorang psikolog lain, Seth Meyers, juga selaras mengenai bagaimana pasangan harus menyikapi pertemuannya setelah terjalin. 

Meyers, menyatakan bahwa, saat awal kencan untuk sebuah status baru setelah pendekatan lebih baik tidak perlu terbawa suasana yang ingin terus bertemu. Karena terlalu sering bertemu dapat memengaruhi hubungan secara negatif dalam jangka panjang. 

Keadaan ini mungkin Anda pernah lakukan sebelumnya, yang kerap menghabiskan malam bersama di awal kencan pertama setelah "jadian". Padahal, jika hal tersebut terus dilakukan, menurut Meyers, ternyata tidak berlaku untuk formula hubungan percinta jangka panjang. 

"Sebagai psikolog yang bekerja dengan klien yang memiliki masalah hubungan, saya dapat membagikan informasi anekdot yang merupakan faktor penyebab rusaknya banyak hubungan di awal adalah kecenderungan untuk terburu-buru," tuturnya, seperti dikutip laman Psychology Today.

Masih menurut Meyers, pasangan baru yang sepanjang waktu hanya ingin meningkatkan keinginan untuk berhubungan intim secara fisik dan seksual, hanya akan berisiko mengalami pergolakan emosi terlalu cepat. 

Namun, Meyers mengakui bahwa jika pasangan yang benar-benar bermaksud untuk tetap bersama, saling bertemu beberapa kali dalam seminggu seharusnya tidak menjadi masalah. ** (SS)

SHARE