Mata Lensa: Adek Berry dan Fragmen Sejarah - Male Indonesia
Mata Lensa: Adek Berry dan Fragmen Sejarah
MALE ID | Whats Up

Mata Lensa adalah sebuah buku karya Fotografer "Agence France Presse" (AFP) Adek Berry. Sebuah buku yang tidak hanya berisi foto-foto jurnalistik yang mengagumkan. Namun juga berisi perjalanan seorang Adek Berry dalam dunia jurnalistik yang penuh tantangan. 

Mata Lensa, buku dengan tebal 358 halaman yang diterbitkan TransMedia Pustaka dengan editor Nanang Junaedi ini seperti fragmen sejarah. Karena tidak hanya menceritakan bagaimana Adek Berry menghadapi kerasnya tantangan jurnalis foto, dalam memburu, mengabadikan, kemudian mengolah lalu menyiarkan sebuah peristiwa yang terjadi di dalam maupun di luar negeri. 

Tetapi juga seperti sebuah dokumentasi sejarah penting. Mulai dari peristiwa kerusuhan 98, hilangnya pesawat, beberapa bencana besar yang terjadi di Indonesia, hingga perisitwa menegangkan di Afganistan. Tidak hanya itu, buku Mata Lensa ini juga memberi pengetahuan perihal di balik meja redaksi sebuah berita yang tidak banyak diketahui orang. 

Adek Berry sendiri bernama lengkap Lestri Berry Wijaya, lahir di Curup 14 September 1971. Karir Berry berawal dari seorang reporter di majalah Tiras. Kemudian pindah menjadi jurnalis foto di majalah Tajuk. Setelah itu karirnya makin naik pesat ketika menjadi jurnalis foto di Kantor Berita Prancis, Agence France-Presse (AFP) biro Jakarta.

Seperti dikatakan sebelumnya, bahwa buku ini seperti potongan-potongan atau fragmen sejarah,  fragmen tersebut dibagi dalam pembabakan cerita yang teratur dari setiap episodenya. Tiap bagian menceritakan kisah yang berbeda. Berry membagi ceritanya seputaran peristiwa alam (gempa bumi di Jogja, tsunami di Aceh, dan lain-lain), daerah konflik (Afghnistan dan sekitarnya), serta cerita ketika dia masih menjadi jurnalis foto di Istana Negara.

Dari setiap babak dan bagiannya, pembaca akan terbawa suasana dalam cerita-cerita pengalamannya yang menegangkan saat melakukan peliputan pada peristiwa yang terjadi. Di halaman 35-Mata lensa, Adek bercerita bagaimana ia bisa saja babak belur bahkan kehilangan nyawa saat meliput di Tanah Abang pada tragedi '98.

Tanah Abang bak tak bertuan. Aku melihat pemuda sedang berusaha membongkar sebuah mesin ATM milik bank swasta yang sudah leas dari tempatnya. Mereka menghantamkan batu besar berkali-kali. Suasana rawan dan liar. Teriakan terdengar di sana sini. Aku mendekat dan memotret momen saat mereka menghantamkan batu untuk mengeluarkan uangnya.

Tiba-tiba, salah satu di antara pemuda itu dengan garang mengancamku, "Woi! Jangan motret!" Jari tangannya menunjuk ke arahku, sementara batu tergenggam di tangan yang lain. Ia khawatir perbuatan kriminal mereka terekam kamera. Mendengar teriakan pemuda itu, pemuda yang lain serempak menoleh siap merangsekku. 

Kemudian, terlebih ketika pengalaman Adek Berry meliput perang di Afganistan. Berry menceritakan dengan detail serta gaya penulisannya khas seorang jurnalis, simpel, jelas, lugas, dan jujur. Adek Berry benar-benar menceritakan bagaimana suasana di Afganistan, mulai dari masuk, bagaimana mendapatkan makanan, hingga batik khas Indonesia memuluskannya dalam melakukan peliputan pada momen tertentu saat itu.

“Menyusup rasa takut dalam hatiku, bayangkan aku hanya seorang diri di tengah gunungan jemari di tengah malam buta di negara yang sedang dilanda konflik itu. Bagaimana kalau serangan justru datang dari balik jerami?" - Mata Lensa, halaman 249.

Adek Berry memberi judul buku ini tidak hanya menyematkan judul "Mata Lensa", namun masih ada sebuah sub judul yang menarik, yakni "Jejak Ketangguhan seorang Jurnalis Foto Perempuan" yang berarti mengambarkan kegigihannya selama 20 tahun menekuni dunia jurnalis foto dengan keberagamannya.  

Buku ini tidak hanya baik untuk seorang jusnalis foto saja. Karena di dalam buku ini memang akan disuguhi berbagai foto-foto bidikan Adek Berry dari setiap peristiwa yang dilewatinya untuk mendukung sebuah cerita yang ia bangun.

Tetapi juga, buku ini bisa dibaca untuk semua kalangan. Bagi Anda yang ingin merasakan ketegangan di balik lensa seorang jurnalis foto, membaca keresahan seorang istri sekaligus ibu dua anak yang harus meliput di daerah perang selama berbulan-bulan, buku ini begitu layak untuk menjadi daftar bacaan Anda selanjutnya.

"Aku menyadari, foto yang kupotret hari ini menjadi sejarah pada esok hari," tulis Adek Berry dalam halaman pengantar. ** (SS)

 

SHARE