Tradisi Berfoto Mengerikan di Era Victoria - Male Indonesia
Tradisi Berfoto Mengerikan di Era Victoria
MALE ID | Story

Tradisi berfoto merupakan cara manusia untuk mengabadikan momen bersama orang terdekat. Terlebih lagi seiring perkembangan kecanggihan teknologi, akses mengambil gambar menjadi bertambah mudah dan praktis.

tradisi berfoto male indonesia 1
wikipedia

Dengan adanya berbagai media sosial seperti Facebook, Twitter maupun Instagram, MALEnials dapat mengupload foto yang Anda buat. Entah berupa foto selfie, pemandangan atau produk sekalipun, tradisi berfoto sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Itu jika kita membahasnya di zaman sekarang. Sementara bagi mereka yang hidup di abad 19, penggunaan kamera masih sangat jarang. Namun ada satu tradisi berfoto yang bisa dibilang mengerikan dan sempat populer di era Victoria. Tradisi ini disebut sebagai post-mortem photography.

Post-mortem photography adalah tren mengambil foto bersama seseorang yang meninggal dunia alias sudah menjadi mayat. Tujuannya tidak lain mengenang orang-orang terkasih dan mendandani sedemikian rupa seolah-olah mereka terlihat masih hidup. Baru kemudian diabadikan ke dalam gambar.

Salah satu cara ‘memanipulasi’ mayat yaitu menggunakan pengait tubuh yang diikatkan di bagian belakang guna menciptakan berbagai pose, baik berdiri maupun duduk. Tak jarang beberapa foto menampilkan mayat dengan anggota badan yang tidak lagi utuh. Mengenai hal itu sang fotografer akan memberi riasan khusus demi memaksimalkan hasil jepretannya.

Baca juga: Cerita Cinta Tragis Sebelum Romeo dan Juliet

Banyak peneliti berpendapat bahwa sejatinya post-mortem photography tidak sekadar mengabadikan gambar bersama orang terdekat atau sanak saudara yang telah tiada. Melainkan karena di era Victoria (1836-1901) sendiri merupakan awal ditemukannya kamera.

Bila merunut dari segi sejarah, kamera yang pertama kali muncul yaitu kamera obscura di Abad ke-16. Tetapi kamera ini tidak bisa merekam gambar. Tiga abad berselang, tepatnya di tahun 1826, seseorang bernama Joseph Niepce asal Prancis berhasil menciptakan kamera nyata, walaupun penggunaannya belum praktis lantaran proses pengambilan gambar membutuhkan waktu sedemikian lama.

Sejak saat itu sejumlah penemu mulai berinovasi membuat kamera lebih praktis. Di masa yang sama, berkembang spekulasi bahwa post-mortem photography menjadi tren karena pada dasarnya di era Victoria-lah kamera praktis ditemukan. Banyak orang ingin berfoto bersama ‘mayat’ yang mereka kasihi.

Tradisi berfoto ala Victoria ini memang sangat mengerikan dan terdengar tidak masuk akal bagi orang di zaman sekarang. Namun jangan keliru, Anda masih dapat menjumpainya di beberapa daerah seperti daratan Amerika serta Eropa. Bahkan di negeri kita sendiri ada tradisi mendandani orang yang sudah meninggal (tidak untuk diabadikan) kemudian diarak keliling desa, yakni tradisi Ma’nene asal Toraja.**GP

SHARE