Resolusi Tahun Baru di 4.000 Tahun yang Lalu | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Resolusi Tahun Baru di 4.000 Tahun yang Lalu
Sopan Sopian | Story

Resolusi tahun baru adalah praktek populer. Banyak orang sudah merencanakan perubahan ketika memasuki tahun yang baru. Meski resolusi tersebut kadang kandas dan tidak tercapai. Ternyata praktek sosial seperti ini telah ada sejak 4.000 tahun lalu. 

Resolusi tahun baru - male Indonesia Photo by Mike Enerio on Unsplash

Resolusi tahun baru adalah tujuan umum setiap individu untuk memperbaiki diri. Di zaman kuno, salah satu yang melakukan tradsi setiap awal tahun ini adalah Babel kuno. Di mana setiap orang membuat janji-janji kepada dewa-dewa mereka. Masyarakat Babel lebih cenderung untuk menjaga resolusi mereka, berbeda dari kebanyakan orang modern yang kadang resolusi yang telah dibuatnya lupa saat pertengahan tahun. 

Pasalnya, orang-orang kuno Mesopotamia percaya bahwa ketika janji (resolusi) ini terus dipertahankan hingga akhir tahun, berarti para dewa akan memperlakukan mereka dengan baik. Namun, janji yang rusak akan berarti kemarahan para dewa dan membawa situasi malang ke dalam hidup selama dua belas bulan ke depan.

Berbeda dengan tradisi Barat yang mengawali tahun baru pada bulan Januari, mengutip lamanan cient-origins, masyarakat Babilonia memulai tahun baru pada pertengahan Maret. Hal ini karena waktu pertengahan maret adalah musim semi, di mana pada bulan ini tanaman mulai ditanam, dan dunia adalah segar dan baru.

Terracotta statue Babylon/Foto by Michel wal/Wikipedia

Baca Juga: Cikal Bakal 365 Hari dalam Setahun dalam Kalender

Saat membuat resolusi tahun baru, orang-orang Romawi kuno berdoa pada dewa yang memiliki dua wajah, yakni Dewa Janus. Dewa ini terkait dengan awal dan akhir. Janus diyakini mampu secara bersamaan melihat kembali ke tahun lalu dan tahun baru.

Saat ini, terlepas dari berbagai kepercayaan, ide untuk membuat resolusi tahun baru adalah untuk merenungkan masa lalu dan bertujuan untuk perbaikan diri. Perbedaan utama adalah bahwa orang membuat resolusi dalam konteks non-religius cenderung membuat janji-janji mereka untuk diri mereka sendiri, bukan dewa.

Dewa Janus/Foto by Flominator/Wikipedia

Mengapa orang-orang modern kebanyakan gagal untuk memenuhi resolusi tahun barunya? Mungkin hal ini karena kebanyakan orang modern percaya bahwa  mereka tidak sedang bertanggung jawab kepada siapa pun kecuali diri mereka sendiri. Maka jika resolusi mereka gagal, risiko hukuman untuk kegagalan sering dilihat hal yang biasa-biasa saja.

Sebuah studi 2007 yang dilakukan di University of Bristol menunjukkan 88% dari orang-orang yang mengatur resolusi Tahun Baru adalah gagal. Dari 3.000 peserta baik wanita maupun pria, 52 persen orang mengaku percaya mereka bisa menyelesaikan resolusi tahun baru mereka, meski nyatanya gagal. 

Dari penelitian itu jgua, pria memiliki 22 persen lebih mungkin untuk mencapai resolusi jika mereka terlibat dalam penetapan tujuan. Wanita hanya 10% lebih mungkin untuk berhasil dalam resolusi Tahun Baru mereka jika mereka memberitahu orang lain tentang tujuan mereka dan mencari dukungan dari orang-orang membantu dalam kehidupan mereka. ** (SS)

SHARE