Tom Morello, Suarakan Musik Perlawanan - Male Indonesia
Tom Morello, Suarakan Musik Perlawanan
MALE ID | News

Tom Morello sudah malang-melintang dalam dunia musik. Dari Rage Against the Machine, Audioslave, The Street Sweeper Social Club, hingga The Nightwatchman. Ia tetap konsisten menjadi musisi paling aktif dalam memperjuangan keadilan sosial, perlawanan dan demokrasi.

tom morello 1 - male indonesia
David Shankbone/flickr

Namanya mulai berkibar pada tahun 1991. Ketika itu ia bersama Zack de la Rocha mendirikan band bernama Rage Against The Machine. Band perpaduan antara musik funk, hip-hop dan metal, disertai warna musik yang kental akan politik dan perlawanan. Album pertamanya, Rage Against The Machine dirilis pada tahun 1992 dengan sampul kontroversial, yaitu seorang Budha yang membakar diri.

Album kedua mereka, Evil Empire (1996) berisi lagu hits-nya Bulls on Parade semakin melambungkan nama band ini di tangga musik kala itu. Berbagai penghargaan diraih oleh Tom Morello dan RATM, termasuk Grammy Awards. Album lainnya adalah The Battle of Los Angeles dan Renegade.

tom morello 3 - male indonesia
Scott Penner

Namun menginjak tahun 2000, Zack De La Rocha meninggalkan band dan pergi entah kemana. Morello sendiri kemudian merekrut bekas vokalis Soundgarden, Chris Cornell untuk mendirikan band baru, Audioslave. Penampilan terbaik Morello dan Audioslave yakni ketika tampil di hadapan sekitar 50.000 rakyat Kuba di La Tribuna Antiimperialista Jose Marti, Havana.

Baca juga: 5 Band Metal Paling Angker Sepanjang Masa

Di luar kesehariannya sebagai gitaris, Tom Morello cukup dikenal sebagai aktivis politik. Ia adalah anggota sekaligus pendiri Axis Of Justice. Grup politik yang bekerja demi memperjuangkan hak kaum imigran dan penghapusan hukuman mati. Dilatarbelakangi keluarganya yang notabene penambang batubara di pusat Illinois, nilai-nilai serikat buruh sudah tertanam dalam jiwanya sejak muda. Ia pernah menjadi anggota Industrial Workers of the World (IWW) dan senang menyanyikan lagu Union Song dalam setiap aksi mogok buruh dan perayaan May Day.

tom morello 2 - male indonesia

Scott Penner/flickr

Lagu Union Song ditulis setelah aksi protes menentang Free Trade Area of the America di Miami, 2003 silam. “Aku bersama Steve Earle, Billy Bragg dan sejumlah musisi lain disiram gas air mata. Saya harus menulis satu lagu untuk dibawakan, sementara gas air mata masih terasa di pakaian saya,” ujar Morello menceritakan kejadian tersebut. Salah satu kata-kata inspiratif yang pernah ia ucapkan, “Politik di jalanan adalah sama pentingnya dengan politik dalam kotak suara”.

Ia juga memiliki buku Kwame Nkrumah, seorang pemimpin dan pejuang pembebasan Ghana dan bangsa-bangsa Afrika. Bahkan sebuah buku berjudul Che Guevara, Guerrilla Warfare masih ia simpan dengan baik.

Ketika gerakan “Duduki Wall Street” meluas di berbagai kota di Amerika, Tom Morello termasuk di dalamnya. Ia bermain musik di tengah-tengah aktivis OWS (Occupy Wall Street) di Los Angeles. “Rakyat yang telah menduduki Wall Street tidak akan menunggu Presiden Obama melakukan perubahan. Ini adalah gerakan dari bawah ke atas, dan harus diperhitungkan,” ucapnya.**GP

SHARE