Pohon Natal, dari Paganisme ke Pusat Perbelanjaan - Male Indonesia
Pohon Natal, dari Paganisme ke Pusat Perbelanjaan
Sopan Sopian | Story

Pohon Natal adalah bagian sentral dari perayaan meriah bagi banyak orang, menghiasi ruang keluarga, jalan-jalan, hingga pusat perbelanjaan sampai tanggal 25 Desember. Pohon natal menjadi ikonik dalam dekorasi Natal, namun apakah tahu kisah dibalik ikonik dalam satu perayaan terbesar dalam kalender Kristen ini?

pohon natalkazuh/wikimedia

Ada kisah dibalik pohon Natal itu sendiri, tentang pentingnya hijau tanaman dalam budaya pagan dan simbolisme titik balik matahari setelah musim dingin (soltice). Di mana kebanyakan budaya kuno di belahan dunia Utara akan merayakan soltice dalam beberapa cara, salah satunya menggunakan tanaman, sebagai simbol umum dari kehidupan, kesuburan, dan kelahiran kembali.

Di Mesir Kuno yang tinggal di daerah-daerah musim dingin yang brutal. Mereka akan mengisi rumahnya dengan telapak hijau saat soltice. Bagi mereka itu adalah perayaan dewa matahari Ra. Konon, pada musim dingin, dewa matahari diyakini menderita sakit, sehingga menyebabkan suhu dingin. Solstice menjadi tanda awal dari pemulihan itu.

Baca Juga : Film Natal Klasik yang Tak Lekang Oleh Waktu

Sistem kepercayaan yang sama dapat ditemukan dalam masyarakat pagan pertanian di Eropa. Musim dingin menandai titik sakit atau kematian bagi dewa-dewa matahari mereka. Lagi-lagi, soltice menandai titik transisi setelah dewa akan pulih dari sakitnya. Pohon cemara menjadi simbol bagi mereka yang tinggal dan hidup dari musim terdingin. Dan pohon cemara ini sebagai pengingat bahwa hidup akan terus dan musim dingin sudah berakhir. Oleh karena itu dahan dan pohon cemara adalah bagian umum dari peryaan soltice. 

Sedangkan di Roma, rumah-rumah dihiasi dengan pohon cemara selama festival Saturnalia yang dihormati Dewa Pertanian, Saturnus. Dari sini hingga munculnya agama Kristen. Kemudian, pada abad ketiga, dekorasi rumah dengan pohon cemara dilarang oleh otoritas gereja, karena hal itu dianggap di luar ajaran.

Awal Pohon Natal Masuk dalam Rumah
Lalu kapan tepatnya tradisi menggunakan pohon cemara? Hal ini juga masih dalam perdebatan, namun umumnya dianggap berasal dari Eropa Utara. Hal itu terjadi pada pergantian abad ke-16, kota-kota Baltik dari kedua Tallinn (Estonia) dan Riga (Latvia) mulai menggunakan pohon cemara di kota-kota sekitar Tahun Baru. Rincian tepatnya dari perayaan tersebut juga masih belum jelas, tetapi kala itu pohon-pohon cemara akhirnya dibakar di jalanan.

Masih diabad ke-16, mengutip laman newhistorian, orang-orang Kristen taat Jerman mulai menggunakan pohon cemara yang telah dihiasi di dalam rumah-rumah dan dikenal sebagai pohon Natal hingga sekarang ini. Beberapa pihak mengklaim bahwa yang mengawali mengihiasi pohon dengan lampu adalah pembaharu Protestan terkanal, yaitu Martin Luther.

Ceritanya, Luther sangat terkesan pada suatu malam oleh pemandangan hutan yang dikelilingi oleh kilauan bintang-bintang di langit malam. Kemudian dia pulang ke rumah dan mencoba untuk menciptakan adegan dengan menempatkan lilin di pohon di rumahnya.

Baca Juga : Hadiah Natal Terbaik untuk Si Dia

Meski telah berabad-abad, pohon Natal tetap kontroversial. Puritan Kristen mesih mengangap hak tersebut sebagai bahaya dan di luar ajaran agama. Hal itu diucapkan Oliver Cromwell saat khotbahnya untuk melawan hal tersebut. Di Amerika Serikat, pemukiman Jerman mulai menempatkan pohon Natal di rumah-rumah mereka untuk memeringati libur Natal. Namun banyak orang Amerika yang terus menolak hal tersebut dengan kukuh. Pada tahun 1659, Pengadilan umum Massachusetts melarang setiap perayan 25 Desember terpisah dari pelayanan gereja.

Barulah, pada abad ke-19 pohon Natal mulai mendapatkan penerimaan yang lebih luas di kedua sisi Atlantik. Pada Abad ini, Amerika serikat kala itu terus diserbu imigran dari Eropa, terutama dari Jerman dan Irlandia. Para Imigran inilah yang konon merusak keteguhan warga Amerika. Pohon Natal pun mulai muncul lebih banyak. 

Pada tahun 1846, diceritakan Ratu Victoria dan keluarganya membuat sketsa di sekitar pohon Natal. Hal itu menunjukan bahwa pada saat itu, di Inggris pohon Natal telah diterima. Mulai dari sinilah pohon Natal kemudian meluas dan rumah-rumah pun mulai dihiasi pohon Natal di seluruh Inggris. Hingga akhirnya muncul pada pusat-pusat perbelanjaan hingga sekarang ini. ** (SS)

SHARE